Menu

Mode Gelap
Adat Duduk Peduli Masyarakat Pesisir, Ditpolairud Polda Riau Laksanakan Program Jalur di Rupat Utara Menengok Program Prioritas Kementrian Pendidikan Nasional: Dari Revitalisasi Sekolah hingga Tunjangan Guru Kapolda Kepri Asep Safrudin Serap Aspirasi Nelayan dalam Jumat Curhat di Jemaja Provinsi Kepri Terbentuk Karena Perjuangan Bersama ‎Bupati Aneng Titip Harapan untuk Anak-Anak Anambas kepada Kapolda Kepri

Minda

Menengok Program Prioritas Kementrian Pendidikan Nasional: Dari Revitalisasi Sekolah hingga Tunjangan Guru

badge-check


					Untung Wayudi (dok.pribadi) Perbesar

Untung Wayudi (dok.pribadi)

Oleh: Untung Wahyudi

 

Selama ini, pemerintah terus berusaha meningkatkan pendidikan di Indonesia. Berbagai program digulirkan demi kemajuan pendidikan di Tanah Air. Tidak semua program berjalan sesuai harapan. Namun, setidaknya kita sudah berusaha untuk senantiasa meningkatkan pendidikan, di antaranya dengan memupuk siswa dengan nilai-nilai karakter yang baik sehingga, kelak mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan siap menghadapi perubahan zaman.

Ada banyak tantangan yang akan dihadapi siswa di masa akan datang. Mereka harus siap dengan segala perubahan dan perkembangan zaman. Guru adalah salah satu yang bertanggung jawab untuk mempersiapkan generasi akan datang agar tumbuh menjadi anak yang matang dan siap dan tangguh dengan segala perubahan yang mengadang.

Dalam rangka menyiapkan generasi muda yang siap bersaing dengan segala perubahan zaman itulah, Kemendikdasmen turut andil dengan menggulirkan program, yang saat ini berjSalah satu program Kemendikdasmen yang layak diapresiasi Adalah alan dengan baik, yakni revitalisasi sekolah yang menjadi salah satu program prioritas yang keberadaannya sangat bermanfaat di masa sekarang.

Dilansir dari laman mendikdasmen.go.id (14/5), Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur pendidikan bukan sekadar urusan fisik, melainkan upaya memuliakan murid agar dapat belajar dalam ekosistem yang berkualitas.

Dengan fasilitas yang memadai, baik gedung sekolah yang layak, dan juga sarana belajar mengajar yang baik, tentunya kita bisa membimbing anak agar kelak bisa sukses di masa mendatang. Tantangan dalam pembelajaran akan mudah diatasi dengan sarana dan prasarana yang lengkap.

Dalam acara penyerahan bantuan revitalisasi satuan pendidikan tahun 2026 di Kota Batam beberapa waktu lalu, tepatnya di SMA Negeri 1 Batam, Kepulauan Riau, Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa program ini merupakan implementasi nyata dari Asta Cita keempat Presiden Prabowo Subianto untuk membangun generasi Indonesia yang unggul melalui pemenuhan sarana prasarana yang aman, nyaman, dan inklusif.

Lebih lanjut Menteri Mu’ti memaparkan bahwa pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp14 triliun secara nasional untuk merevitalisasi 11.744 satuan pendidikan pada tahun 2026. Mu’ti juga menjelaskan bahwa prioritas revitalisasi dialokasikan bagi sekolah yang terdampak bencana, sekolah di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T), serta sekolah dengan kondisi rusak berat (mendikbud.go.id).

Dalam pelaksanaannya, melalui kunjungan kerja dan peninjauan langsung kondisi di lapangan membantu untuk memberikan gambaran yang lebih jelas sehingga dapat dilakukan penyesuaian kebijakan bagi sekolah-sekolah tertentu, salah satunya di Batam.

Program Indonesia Pintar (PIP)

Selama ini, PIP dirancang untuk membantu anak-anak usia sekolah dari keluarga miskin/rentan miskin /prioritas tetap mendapatkan layanan pendidikan sampai tamat pendidikan menengah, baik melalui jalur formal SD sampai SMA/SMK dan jalur non formal paket A sampai paket C, dan pendidikan khusus. Melalui program ini, pemerintah berupaya mencegah peserta didik dari kemungkinan putus sekolah, dan diharapkan dapat menarik siswa putus sekolah agar kembali melanjutkan pendidikannya (pip.kemendikdasmen.go.i).

PIP juga diharapkan dapat meringankan biaya personal pendidikan peserta didik, baik biaya langsung maupun tidak langsung. Yang perlu diketahui oleh para pemangku pendidikan bahwa, Kemendikdasmen tidak hanya memprioritaskan revitalisasi sekolah demi mewujudkan pendidikan berkualitas, tetapi juga juga memperluas akses pendidikan melalui Program Indonesia Pintar (PIP) yang pada tahun 2026 untuk pertama kalinya akan disalurkan kepada 888.000 murid TK di seluruh Indonesia dengan bantuan sebesar Rp450.000 per tahun.

Langkah ini diambil guna mendukung program Wajib Belajar 13 Tahun, yang akan diperkuat melalui kerja sama antara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dengan Kementerian Desa untuk memastikan setidaknya tersedia satu TK di setiap desa.

Abdul Mu’ti juga menyampaikan pesan mengenai esensi dari seluruh kebijakan pendidikan yang sedang dijalankan pemerintah saat ini, bahwa guru harus mendidik dengan penuh kasih sayang tanpa diskriminasi. Memang sudah merupakan tanggung jawab guru untuk mendidik siswa agar tumbuh menjadi anak yang baik dan berprestasi.

Menteri Abdul Mu’ti menekankan bahwa kata kunci dalam pendidikan itu adalah memuliakan. Kita harus memuliakan ilmu, memuliakan guru, dan yang paling utama adalah memuliakan murid-murid kita. Semua anak, apa pun latar belakang dan kondisinya, harus kita terima dan kita muliakan di sekolah sebagai rumah kedua mereka.

Tunjangan Khusus Guru

Salah satu topik yang saat ini sering kali dibahas Adalah perihal honor atau tunjangan bagi guru, khususnya yang non ASN atau yang berstatus honorer. Saat ada isu bahwa anggaran untuk pendidikan mengalami efisiensi demi program Makan Bergizi Gratis (MBG), maka semua guru terhenyak. Mereka kecewa karena merasa kurang dianggap sebagai pendidik atau guru yang selama ini telah berjuang untuk memajukan pendidikan.

Tetapi, angin segar nampak mulai berembus, bahwa pemerintah mulai menganggarkan dana untuk guru berupa Tunjangan Khusus Guru (TKG).

Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan dan Pendidikan Guru, Nunuk Suryani, menegaskan bahwa praktik baik para guru di wilayah 3T menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang menghadirkan pembelajaran bermakna.

Sebagai bentuk keberpihakan nyata, pemerintah terus menyalurkan Tunjangan Khusus Guru (TKG) bagi pendidik di daerah 3T. Pada tahun 2025, tercatat sebanyak 43.393 guru menerima TKG dengan total anggaran yang disalurkan mencapai Rp636.710.771.290. Setiap guru penerima memperoleh tunjangan sebesar Rp2 juta per bulan.

Komitmen tersebut sejalan dengan semangat para pendidik di lapangan, salah satunya guru matematika di SMAS Ilmanah, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, Risky Jalil. Sejak 2024, ia mengabdikan diri di wilayah 3T dengan berbagai dinamika dan tantangan. Ia mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam proses pembelajaran tidak hanya berkaitan dengan fasilitas, tetapi juga akses menuju sekolah.

Apa yang dialami Risky Jalil, Adalah satu dari sekian banyak masalah pendidikan yang harus menjadi prioritas utama. Bahwa keterbatasan yang dialami oleh para pendidik atau guru di wilayah 3T merupakan tantangan tersendiri bagi para guru yang selama ini dikenal dengan pahlawan tanpa tanda jasa.

 

*) Untung Wahyudi, penulis lepas tinggal di Sumenep

 

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Adat Duduk

16 Mei 2026 - 07:27 WIB

Provinsi Kepri Terbentuk Karena Perjuangan Bersama

16 Mei 2026 - 06:41 WIB

Dari Byzantium, Konstantinopel hingga Istanbul

16 Mei 2026 - 00:10 WIB

Hubungan Malaysia dan Filipina: Isu Sabah

14 Mei 2026 - 00:30 WIB

Bekerja Cerdas Kunci Transformasi Sistem Kerja ASN

13 Mei 2026 - 14:52 WIB

Trending di Minda