BANYAK orang cakap Wak, orang Melayu tak berani merantau karena takut lapar. Sehingga ada yang menilai orang Melayu ini macam “katak dalam tempurung.” Padahal katak dalam tempurung itu kadang lebih bijak dari manusia yang keluar negeri tapi pulang-pulang perangai macam knalpot bocor. Banyak bunyi, tapi isi angin.
Orang Melayu bukan tak pandai merantau. Dari dulu nenek moyang Melayu itu belayar sampai ke Malaka, sampai ke Johor, sampai ke Bugis, sampai ke Pattani. Laut dijadikan jalan, angin dijadikan pedoman. Tapi orang Melayu tahu satu perkara, Wak. Kalau semua pergi merantau, terus siapa yang menjaga kampung halaman?
Sebab itu ada yang memilih tinggal di kampung. Bukan sebab malas. Bukan sebab takut lapar. Tapi sebab tanah pusaka jangan sampai jadi semak samun. Kebun jangan tinggal jadi hutan. Sungai jangan sampai orang lain yang menuba.
Orang Melayu ni, Wak, dia kalau nampak tanah kosong, dia nampak masa depan. Orang lain nampak lalang, dia nampak kelapa. Orang lain nampak rawa, dia nampak sawah. Sebab hidup orang Melayu diajar bukan sekadar mencari uang, tapi menjaga warisan.
Melayu ni lucu juga, Wak Kadang-kadang anak muda baru sebulan di kota, balik kampung sudah pandai bercakap “gue-elu”. Padahal dulu mandi di parit sambil tangkap ikan sepat. Maknya sampai termenung di dapur, “Ini anak aku atau sales rokok?”
Tapi begitulah adat merantau dalam Melayu. Pergi bukan untuk lupa asal usul. Pergi untuk menambah akal dan menguatkan diri. Sebab orang tua-tua dulu selalu berpesan: “Pandai-pandailah menjaga diri, Masuk kandang harimau mengaum,
Masuk kandang kambing mengembek.” Maknanya bukan suruh jadi talam dua muka. Tapi pandai membawa diri. Jangan di kampung jadi santan, di rantau jadi air longkang.
Budayawan Melayu (Alm),Tenas Effendy pun pernah mengingatkan: “Bila merantau mencari ilmu, Bila berjalan mencari teladan, Bila berkayuh mencari contoh.”
Nah, itu tunjuk ajar Melayu. Merantau bukan lomba gaya hidup. Bukan supaya bisa upload foto kopi mahal sambil caption “healing”. Tapi mencari ilmu dan pengalaman supaya pulang nanti ada manfaat.
Orang tua Melayu kalau melepas anak merantau, pesannya bukan panjang berjela-jela. Tapi dalam maknanya: “Tahu merantau mencari guru, Tahu hidup mencari ilmu.”
Artinya ke mana pun pergi, jangan sombong. Jangan baru kenal wifi terus lupa tikar pandan tempat tidur dulu.
Sebab sehebat-hebat orang merantau, akhirnya rindu juga dia pada kampung. Rindu suara azan surau. Rindu kopi panas kedai ujung jalan. Rindu suara mak bersungot sebab bangun siang. Bahkan rindu juga bunyi ayam tetangga yang tiap subuh berkokok macam kena setel alarm Jepon.
Dan satu lagi pesan Melayu yang paling dalam: “Supaya diam, diam berisi. Supaya bercakap, cakap berarti. Supaya bekerja, kerja menjadi. Supaya hidup, hidup terpuji.”
Maknanya orang Melayu tak suka hidup kosong bunyi. Banyak orang sekarang cakapnya tinggi melangit, tapi kerja tak sampai sejengkal. Macam beduk masjid, bunyi kuat tapi dipukul orang juga.
Sebab itu orang Melayu diajar, kalau merantau jangan membawa malu. Pergi elok-elok, pulang pun elok-elok. Jangan balik kampung cuma membawa cerita sedih dan hutang pinjaman online.
Karena sejauh-jauh bangau terbang, akhirnya hinggap di belakang kerbau juga. Dan setinggi-tinggi ilmu orang merantau, kalau lupa akar budaya, akhirnya hanyut juga dibawa arus zaman.
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.







