KALAU sudah piala dunia, Wak, paling untung itu FIFA. Pada musin 2026 ini FIFA diproyeksikan meraup rekor pendapatan tertinggi sepanjang sejarah, menembus sekitar $13 miliar atau setara dengan Rp198 triliun.
Tapi, kalau di kampung kami Wak, bila musin pertandingan bola sempena Hari Ulang Tahun Republik Indonesia menjelang bulan Agustus, yang paling untung bukan penjual kaos bola, bukan pula penjual air tebu, apalagi tukang meniup peluit. Yang paling laris ialah bomo. Rumahnya lebih ramai daripada warung kopi selepas Maghrib.
Setiap kesebelasan datang membawa harapan. Bukan membawa strategi permainan, melainkan membawa ayam kampung, pulut kuning, kopi pahit, bahkan ada yang menjinjing rokok sebatang bungkus. Semuanya minta dijampi supaya gol mudah masuk, lawan mudah tumbang, dan piala balik ke kampung sendiri.
Macam-macam pula syarat dan asam garamnya wak. Tergantung bentuk jampi. Ada yang diberi tangkal kulit trenggiling. Tapi bukan sembarang kulit, harus kulit trenggiling mati beragan alias mati sendiri, bukan kena jerat. Kulit itu dibacakan mantera, dibungkus kain hitam atau putih, lalu diikat di pinggang. Kata bomo, kalau sudah dipakai, kaki lawan menendang macam menendang batang pisang. Tulang kering kita kononnya kebal, tak mempan kena pangkung.
Ada juga pakai pelangkah, Wak. Ini agak berat siket. Semua pemain, termasuk pelatih, wajib bermalam di rumah bomo. Sebelum azan Subuh berkumandang mereka sudah mesti keluar.
Tiga langkah pertama wajib satu nafas sambil membaca mantera dalam hati. Langkah terakhir pula mesti memijak tempurung yang ditanam dalam tanah, di dalamnya ada katak hidup. Kalau putus nafas, batal. Kalau tersalah langkah, batal. Kalau terbersin? Entahlah, mungkin kena ulang dari awal.
Yang kasihannya, emak-emaklah, Wak.
Pertandingan pukul empat petang, tapi sejak Subuh anaknya sudah tak boleh balik ke rumah, pantang. Maka datanglah emak membawa rantang berisi nasi, gulai ikan patin, sambal belacan dan air kopi. Makan di tepi padang, lapangan, macam orang berkhemah. Penonton belum datang, pemain sudah kenyang dua kali.
Tak sampai di situ siksanya, Wak. Bomo berpesan lagi, jangan sekali-kali masuk padang dahulu. Biarkan lawan melangkah dulu, barulah kita ikut. Kalau boleh, babak pertama menghadap ke Timur. Kata bomo, di situlah angin kemenangan bertiup.
Petuah Bomo itu harus dipegang teguh. Cuma malangnya, dan celaka duabelas, rupa-rupanya tim bola kampung sebelah juga berguru dengan bomo yang sama.
Maka jadilah perlawanan paling ajaib dalam sejarah bola di kampung.
Dua-dua tim bersembunyi di balik semak-semak. Yang sebelah mengintai, yang sebelah lagi mengendap. Masing-masing menunggu lawan masuk lapangan terlebih dahulu. Tapi tak ada yang hendak masuk lapangan.
Wasit sudah berulang kali meniup peluit, sampai bertemebel bibir dibuatnya, tapi tetap tak ada pemain yang masuk lapangan. Penonton pula terbekah, mengilai, sambil guling-guling ketawa dan sudah menduga kedua tim memakai Bomo yang sama.
Sementara matahari makin condong ke barat, pemain masih bersembunyi macam bermain serondok. Sesekali menjengah lawan.
Sampai hari ini, Wak, entah sudah masuk padang atau belum dua kesebelasan itu. Yang pasti, bomo sudah lama selesai menghitung upah, sementara piala masih menunggu siapa yang berani melangkah lebih dahulu.
Begitulah, Wak. Orang tua-tua Melayu sebenarnya sudah lama berpesan, ikhtiar itu wajib, doa itu mulia, tetapi jangan sampai akal diletakkan di bawah tempurung. Bola dimenangi dengan latihan, disiplin, kerja sama dan semangat, bukan semata-mata berharap pada tangkal atau mantera. Kalau kaki tak pernah dilatih, tangkal sebesar tempayan pun payah hendak menjaringkan gol. Suai Wak!?
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.







