Puisi Hang Kafrawi
Dulu mereka datang membawa senyum
di jalan-jalan desa yang berdebu
menjabat tangan petani tua
mengelus kepala bocah yang kurus dan malu.
Mereka berjanji seperti nabi
akan membawa sejahtera
akan menurunkan harga
akan membangun sekolah di atas tanah yang lama terlupa.
Rakyat percaya…
Karena apa lagi yang bisa dipegang
selain harapan yang dijanjikan
oleh lidah yang lihai memutar fakta menjadi cinta?
Tapi waktu berjalan
dan kamera pun pergi
tersisa hanya lumpur di kehidupan
dan anak-anak tetap belajar dari papan lapuk
di kelas yang dindingnya tembuk olah keserakahan
Sementara mereka duduk di singgasana kaca
di bawah langit ruangan berpendingin
dengan setumpuk berkas proyek
dan daftar konsesi yang tak pernah menyebut nama rakyat
“Kenapa sekolahku tak pernah selesai dibangun, Pak?”
tanya seorang anak kecil yang kini sudah jadi pemuda
yang menganggur dan kehilangan arah
karena ijazahnya tak mampu membeli mimpi
“Kenapa beras makin mahal, Bu?”
teriak seorang ibu di pasar pagi
yang dulu menyumbang suara
tapi kini tak mampu beli sekilo beras
Kita muak!
Muak pada tawa-tawa di ruang rapat
pada pernyataan pers yang terlalu manis
dan pada pidato yang mengutip Pancasila
tapi menindas maknanya
Kita muak!
Pada proyek mercusuar yang tak menyentuh derita rakyat
pada hutan yang ditebang atas nama investasi
dan pada suara rakyat yang diubah jadi data statistik
tanpa pernah benar-benar didengar
Kita bukan boneka demokrasi
Kita bukan angka survei
Kita adalah darah dan daging
yang terinjak oleh sepatu kekuasaan yang licin
Kita tak akan diam
tersebab diam adalah dosa
di tengah derita yang dibiarkan tumbuh seperti jamur
Kita bersuara karena kita cinta.
Cinta pada negeri yang pernah dijanjikan
akan jadi rumah semua bukan hanya istana para raja baru
Di akhir bait ini
izinkan kami menulis sejarah baru
bukan dengan tinta
tapi dengan luka yang jadi bara
dan suara yang akhirnya tak bisa dibungkam lagi
Cukup! Kini saatnya rakyat bersuara!
Hang Kafrawi adalah nama pena Muhammad Kafrawi dosen Program Studi Sastra Indonesia, FIB UNILAK







