RiauKepri.com, RENGAT– Di balik meja kerja dan seragam dinas, muncul aroma tak sedap di Pemerintahan Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu). Dugaan perselingkuhan antar Aparatur Sipil Negara (ASN), bukan isapan jempol, laporan itu datang dari orang-orang terdekat, para istri yang hatinya terluka, dan bahkan dari laporan keamanan masyarakat.
Pemeriksaanpun dimulai. Bupati Inhu, Ade Agus Hartanto, tak tinggal diam. Ia langsung memerintahkan tim dari Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Daerah (BKP2D) untuk turun tangan. Ahmad Syukur, Plt Kepala BKP2D, membenarkan hal ini. “Tim terus bekerja. Selain karena perintah pimpinan, kami juga menerima dua laporan dari istri ASN serta satu laporan dari Kamtibmas,” ungkapnya.
Satu dari dua laporan istri ASN sudah memasuki proses pemeriksaan mendalam. Para pihak terkait, termasuk saksi-saksi, sudah dipanggil dan dimintai keterangan. Fakta-fakta mulai terkuak, bukti-bukti mulai terkumpul. Hasil pemeriksaan itu tak akan langsung diumumkan, namun akan dirapatkan terlebih dahulu sebelum diambil kesimpulan resmi.
Namun, tak semua berjalan mulus. Satu laporan dari istri ASN lainnya masih tertahan. Tersangka ASN yang bersangkutan belum bisa diperiksa karena sedang sakit. “Kami sudah terima surat keterangan sakit dari yang bersangkutan,” terang Ahmad Syukur.
Tak hanya laporan dari pihak keluarga, dugaan ini juga menyeret laporan dari masyarakat. Kasus yang mencuat lewat jalur Kamtibmas ini bahkan sudah masuk babak interogasi serius. Dua oknum ASN yang diduga berselingkuh diperiksa secara terpisah selama tiga jam, dengan lebih dari 30 pertanyaan. Hasilnya? Ada kejanggalan. Keterangan keduanya tak selaras, justru menimbulkan tanda tanya lebih besar.
“Kami akan bahas lebih lanjut. Dari situ akan ditentukan langkah selanjutnya,” ujar Ahmad.
Isu ini bukan hanya soal moral pribadi, tapi sudah masuk ranah etik dan disiplin seorang ASN. Di tengah sorotan publik terhadap integritas pejabat negara, dugaan seperti ini tentu menjadi pukulan telak.
Kini, masyarakat Inhu hanya bisa menunggu. Apakah badai ini akan reda dengan kejelasan sanksi, atau malah meninggalkan luka baru di tubuh birokrasi? Satu hal yang pasti, cinta di balik meja kerja bisa berujung pada sanksi etik yang tak ringan. (RK1)







