RiauKepri.com, PEKANBARU – Pagi itu, suasana Jalan Ronggowarsito, Kecamatan LimaPuluh, tampak biasa saja. Seorang ayah, Bripka Agus Budiadi, tengah mengendarai sepeda motor sepulang membeli sarapan. Di jok belakang, duduk tenang anaknya yang masih balita, belum genap lima tahun.
Tak lama kemudian, Agus yang mengendarai sepeda motor agak pelan, terperangah melihat dua pria yang tampak mencurigakan. Mereka mengangkat sesuatu yang tak lazim, pagar besi putih ukuran besar, kira-kira 2×1,5 meter. Naluri sebagai polisi langsung menggelora. Tapi yang lebih kuat dari itu, adalah naluri seorang ayah.
“Saya balik arah. Saya setop langsung pelakunya,” cerita Agus.
Motor belum berhenti sepenuhnya. Anak masih duduk di belakang. Tapi dua pelaku sudah panik. Terjadi tarik-menarik, motor versus motor. Dalam kekacauan itu, Agus berusaha memegang kunci kendaraan para pelaku.
“Saya sambil pegang anak di belakang. Mereka tarik motor mereka, saya tahan. Akhirnya saya jatuh,” kenangnya.
Tubuhnya terguling ke aspal. Tapi kunci motor pelaku sudah di tangannya. Anak balita yang diboncengnya selamat, ajaibnya tanpa luka. Para tersangka pelaku pun jatuh. Dalam kepanikan, mereka lari, mencoba bersembunyi di rumah sakit terdekat.
Luka di tangan kiri Agus mulai mengalirkan darah. Tapi itu bukan fokus utamanya. Yang ada di pikirannya hanya satu, “Anak saya harus aman, dan satu dari mereka harus saya tangkap.”
Tanpa pikir panjang, Agus berdiri, meninggalkan motor dan mengejar tersangka pelaku. Setibanya di rumah sakit, ia berteriak, “Maling!” memanggil sekuriti dan warga sekitar.
Satu tersangka pelaku berhasil diringkus di dalam rumah sakit. Sementara anaknya, yang masih balita, tetap berada di atas motor. Tenang menunggu, seolah tahu bahwa ayahnya sedang melakukan sesuatu yang penting, bahkan mulia.
“Saya minta tolong warga jagain anak saya, lalu bantu ambil barang bukti motor pelaku,” ujar Agus.
Setelah itu, ia meminta sekuriti rumah sakit menghubungi Polsek Limapuluh. Tak lama, bantuan datang dan tersangka pelaku diamankan.
Dari penyelidikan, pelaku ternyata bukan sekali ini beraksi. Sudah empat kali mencuri pagar di tempat yang sama, sebuah kafe kosong yang kini tinggal bangunan sepi.
Manusia Biasa
Bripka Agus bukan hanya polisi. Ia adalah potret keseharian sosok ayah yang mencoba menyeimbangkan antara tanggung jawab pada institusi dan cinta pada keluarga.
Ia tak mengenakan rompi anti-peluru pagi itu. Tak membawa senjata. Hanya ada tekad, rasa tanggung jawab, dan anak kecil di belakang punggungnya.
Kisahnya adalah pengingat, bahwa keberanian tidak selalu datang dengan seragam lengkap atau sirene. Kadang, keberanian muncul saat tangan menggenggam tangan mungil, dan hati tak ingin dunia yang buruk menyentuhnya. (RK1/detik.com)









