RiauKepri.com, SIAK– Dalam upaya meningkatkan literasi jurnalistik di lingkungan sekolah, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Siak bekerja sama dengan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Kabupaten Siak mengadakan seminar bertema “Diskusi Jurnalistik Berintegritas, Membedakan Jurnalis Profesional dan Abal-Abal.”
Acara yang berlangsung di Aula SMA Negeri 1 Tualang pada Selasa (3/6/2025) ini diikuti oleh 74 peserta dari berbagai SMA se-Kabupaten Siak.
Seminar dibuka oleh Wakil Ketua Bidang Luar Negeri PWI Riau, Syarief Dayan, yang juga menjabat sebagai Senior Editor Tribun Pekanbaru. Hadir sebagai pemateri antara lain Ahli Pers Dewan Pers Mario Abdillah Khair SH, Jaksa Fungsional dari Kejari Siak Faisal, serta Syarief Dayan sendiri.
Syarief menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif PWI Siak menggelar diskusi ini. Ia menyoroti maraknya oknum wartawan tidak profesional yang kerap datang ke sekolah-sekolah di daerah.
“Permasalahan ini muncul karena regulasi yang masih longgar serta kurangnya pengawasan di daerah terpencil. Melalui diskusi ini, kami berharap para pendidik bisa lebih bijak dan cerdas dalam menghadapi situasi tersebut,” ujarnya.
Ketua MKKS SMA Kabupaten Siak, Zamzami SPd, mengungkapkan kegiatan ini sangat bermanfaat bagi para kepala sekolah dan guru. Ia juga menyampaikan keresahan atas maraknya wartawan yang tidak jelas asal-usulnya datang ke sekolah dengan maksud yang tidak baik.
“Kami sering didatangi oknum yang mengaku wartawan, tapi niatnya tidak baik. Melalui forum ini, kami jadi lebih tahu bagaimana membedakan wartawan yang profesional dan yang tidak,” kata Zamzami.
Ia juga berharap kerja sama antara PWI dan sekolah-sekolah di Siak dapat terus terjalin, terutama dalam mempublikasikan kegiatan pendidikan yang positif.
Sementara itu, Ketua PWI Siak, Wiwik Widaningsih, menyebut kegiatan ini merupakan bagian dari program literasi jurnalistik PWI Siak ke sekolah-sekolah.
“Seminar ini bertujuan memperkuat pemahaman guru dan kepala sekolah tentang dunia pers, sekaligus membekali mereka agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi palsu atau hoaks, terutama dari media sosial,” jelasnya.
Wiwik berharap, setelah seminar ini para peserta mampu menyaring informasi dengan lebih baik dan tidak lagi merasa alergi terhadap wartawan, khususnya yang bekerja secara profesional dan beretika. (RK1/*)
Editor: Dana Asmara







