Menu

Mode Gelap
Prakiraan Cuaca Kepri Senin, 27 April 2026: Hujan Ringan hingga Petir Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah Kronologis, Motif, dan Pelaku Penembakan Gedung Putih Semarak Hari Nelayan Nasional ke-66, Pesisir Senggarang Dipenuhi Antusiasme Masyarakat Ruang Asa Project Hadirkan Topi Harapan, Bangkitkan Semangat Anak YKAKI Riau Plt Dirut BRK Syariah Dampingi Plt Gubri Lepas JCH Riau di Batam Penggerebekan Sabu 13 Gram di Jalan Joyo Talang Muandau, Dua Pelaku Positif Amfetamin Diamankan

Minda

Kembali ke Hati Lampaui Algoritma

badge-check


					Hang Kafrawi Perbesar

Hang Kafrawi

Oleh Hang Kafrawi

Gelombang atau lebih tepat disebut badai informasi hari ini, memang tidak dapat dibendung lagi menerjang ruang-ruang pikiran manusia. Teknologi komunikasi bergerak begitu cepat menghasilkan informasi dari peristiwa-peristiwa yang belum tahu kebenarannya, sementara kebanyakan manusia dengan sifatnya ingin tahunya belum siap memiliah mana yang benar, mana yang tidak benar. Dengan kondisi kepo (ingin tahu berlebihan) tanpa dasar dan merasa paling tahu menyebarkan informasi ke tengah masyarakat konsumen informasi instan tanpa mengecek terlebih dahulu. Inilah pangkal kekacauan hari ini.

Di zaman kini, kebenaran tak lagi duduk di tengah taman sebagai cahaya yang menuntun jiwa-jiwa yang haus makna. Ia tersembunyi, tergencet di antara jutaan konten yang berlomba merebut perhatian. Kebenaran dikemas, disetel, dan dibungkus dalam bahasa algoritma, dan kita, pelan-pelan, mulai percaya bahwa yang paling sering muncul adalah yang paling benar. Tanpa sadar, kita hidup dalam gelembung informasi yang menyesuaikan selera kita, mengurung kita dalam dunia yang kita kira luas, padahal hanya cermin dari pilihan-pilihan sempit yang dihitung oleh mesin.

Kita bukan lagi pencari kebenaran. Kita menjadi penikmat kenyamanan. Mesin mengenal apa yang kita sukai, dan dengan setia menyajikannya berulang-ulang, seolah-olah itu adalah dunia sejati. Padahal, sejauh mata memandang, yang kita lihat hanyalah gema dari klik-klik sebelumnya. Algoritma bukan lagi sekadar alat bantu, ia telah menjelma menjadi penentu arah pikir dan rasa kita hari ini.

Jean Baudrillard menguraikannya dalam simulakra, yaitu kondisi di mana representasi tidak lagi merujuk pada realitas yang asli, melainkan menciptakan dunia tiruan yang tampak lebih nyata dari kenyataan itu sendiri. Inilah zaman yang ia sebut sebagai hiperrealitas, saat bayangan menjadi lebih dipercaya daripada sumber cahaya, saat simbol tak lagi menunjuk makna, tapi hanya menggandakan kehampaan.

Apa yang kita lihat hari ini di layar-layar kecil bukan lagi kehidupan, tapi simulasi kehidupan: senyum yang telah dipoles filter, tangis yang disusun dalam caption yang puitis, kebaikan yang dibungkus dalam media informasi bersponsor, dan kebijaksanaan yang disalin dari kutipan entah siapa. Kita menyantap makna yang sudah didangkal dari kedalaman menjadi sekadar penampilan. Kita tersihir oleh ilusi yang tampil begitu indah, lalu menamainya kenyataan. Kita hidup dalam dunia bayangan dan mengira telah menyentuh cahaya.

Seperti orang yang terlalu lama tinggal dalam ruangan, mata kita menjadi silau terhadap sinar kebenaran. Kebenaran yang telanjang dan jujur kini dianggap kasar, pahit, dan tidak menarik. Kita lebih suka kebenaran versi algoritma, yang lembut, manis, bisa dibagikan, bisa dilike. Tapi benarkah itu kebenaran? Atau hanya simulasi yang kita setujui bersama karena kita takut menyelam lebih dalam?

Di sinilah kita harus berani menyebut musuh itu dengan jujur. Penjahat zaman ini bukan lagi yang membawa senjata, tetapi yang menguasai arah pikir manusia melalui algoritma. Mereka tidak mencuri uang kita, tapi kesadaran kita. Mereka tak perlu memenjarakan tubuh jika sudah mengunci pikiran. Mereka menyamar sebagai penyedia kenyamanan, padahal sedang merampas kebebasan paling hakiki; kebebasan berpikir, sayangnya kita tidak merasakan itu.

Bayangkan, bagaimana mereka mengatur narasi, memoles realitas, dan membuat kita hanya melihat apa yang ingin mereka perlihatkan. Dunia dibentuk berdasarkan klik, bukan kejujuran. Dalam sistem seperti ini, kebenaran yang lambat dan sunyi akan selalu kalah oleh kebohongan yang cepat dan menarik.

Melampaui algoritma bukan berarti menolak teknologi. Ini bukan seruan romantik untuk kembali ke zaman batu. Melampaui algoritma berarti menyadari bahwa kita lebih besar dibandingkan mesin yang diciptakan. Bahwa kita punya ruang batin yang tak bisa dipetakan oleh logika mesin. Bahwa hati manusia menyimpan kegelisahan dan pertanyaan yang tak akan pernah selesai oleh angka yang pasti.

Ini adalah jalan sunyi. Jalan untuk kembali menemukan ruang hening dalam diri, nurani bisa berbicara tanpa gangguan notifikasi. Di sanalah kebenaran sering muncul, bukan dalam bentuk konten viral, melainkan dalam bentuk bisikan lembut: “Sudahkah kau jujur pada dirimu sendiri hari ini?”

Melampaui algoritma juga berarti melampaui dunia simulakra, menolak menjadi bayangan dari bayangan. Kita harus berani menjadi manusia yang tidak bisa dipenggal menjadi konten. Kita harus berani mengalami kehidupan dengan luka yang nyata, bukan hanya menulis puisi tentang luka. Kita harus berani menyentuh tangan orang lain, bukan sekadar mengirim emotikon peluk.

Dalam dunia yang semakin ramai dan gaduh oleh suara-suara yang ditentukan sistem, kita perlu menjadi pendiam yang penuh kesadaran. Dalam keheningan, kita bisa mendengar suara yang paling penting yaitu suara kebenaran. Ia tidak berteriak. Ia tidak masuk dalam tren, tapi ia hidup, mengalir seperti sungai di bawah tanah. Jika kita cukup sabar, cukup jujur, dan cukup berani untuk menyelam ke dalam diri, kita akan menemukannya.

Dunia boleh dikendalikan oleh algoritma, dibungkus dalam simulasi dan tanda-tanda yang saling mengkhianati makna, namun jiwa manusia selalu merindukan cahaya sejati. Bukan cahaya dari layar, tapi dari nur yang tumbuh di dada. Kebenaran mungkin kabur, disembunyikan, bahkan ditukar dengan bayang-bayang, namun ia tak akan pernah mati. Ia hanya menunggu kita untuk menemukannya kembali.

Hang Kafrawi adalah nama pena Muhammad Kafrawi dosen Program Studi Sastra Indonesia, FIB UNILAK.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Aladin Melayu

26 April 2026 - 06:23 WIB

30 Tahun Otonomi Daerah

25 April 2026 - 12:50 WIB

Kopiah Sultan

25 April 2026 - 10:28 WIB

Akrobat Narasi di Zaman Kini

25 April 2026 - 07:59 WIB

Tradisi Menulis Buku : Sempena Hari Buku Se Dunia

23 April 2026 - 17:12 WIB

Trending di Minda