Menu

Otomatis
Breaking News

Siak

Kunjungan Wisata Bupati Siak, di Balik Mangrove Ada Ribuan Tual Kayu

badge-check

Bupati Siak, Afni Zulkifli, meninjau mangrove di Rumah Alam Bakau, sebuah ekowisata yang tumbuh dari semangat pelestarian lingkungan di Desa Rawa Mekar Jaya. F: Ist Perbesar

Bupati Siak, Afni Zulkifli, meninjau mangrove di Rumah Alam Bakau, sebuah ekowisata yang tumbuh dari semangat pelestarian lingkungan di Desa Rawa Mekar Jaya. F: Ist

RiauKepri.com, SIAK- Niat awal Bupati Siak, Afni Zulkifli, hanyalah menikmati hijaunya mangrove di Rumah Alam Bakau, sebuah ekowisata yang tumbuh dari semangat pelestarian lingkungan di Desa Rawa Mekar Jaya. Namun langkah kakinya justru membawanya pada temuan mencengangkan: ribuan tual kayu mahang tersusun rapi di aliran Sungai Rawa, tersembunyi di balik rindangnya tanaman bakung dan mangrove.

Tumpukan kayu yang dirakit menjadi ratusan hamparan rakit ini terbentang memanjang di tepian sungai hingga ratusan meter. Mata siapa pun yang tak sengaja menoleh ke arah itu mungkin akan mengira itu bagian dari aktivitas warga biasa. Tapi tidak bagi Afni.

“Jika tidak ada dokumennya, berarti ilegal. Walaupun ini kayu mahang, saya menduga ini kayu alam. Bisa jadi ditebang dari kawasan hutan sosial yang tidak jauh dari sini,” ujarnya, serius.

Afni pun segera menghubungi Kapolsek Sungai Apit, meminta penyelidikan untuk memastikan asal-usul kayu-kayu tersebut. Ia tak hanya khawatir soal lingkungan, tetapi juga soal potensi hilangnya penerimaan daerah dari sektor perizinan kayu. “Kalau kayu ini berasal dari Siak dan tanpa izin, berarti daerah dirugikan, PAD kita hilang,” tegasnya.

Sebagai mantan tenaga ahli di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, suara Afni tak main-main. Ia mengerti benar mekanisme pemanfaatan hutan. Bahkan untuk kayu seperti mahang yang tidak termasuk jenis lindung, tetap ada prosedur yang harus ditaati.

“Kalau pun mau menebang, jangan hutan alam, jangan tanaman yang dilindungi. Dan untuk pohon seperti mahang, tetap harus urus izinnya,” katanya mengingatkan warga.

Ironis, temuan ini terjadi di tengah kawasan yang kini menjadi simbol harapan: Ekowisata Rumah Alam Bakau. Sepuluh tahun lalu, kawasan ini hanya menyisakan batang-batang mati. Mangrove dibabat, dijual pada perusahaan, dan digantikan oleh kerakusan. Tapi lima pemuda lokal menolak tunduk pada kerusakan. Mereka, Sutiono, Sutrisno, Sugiono, Parno, dan Ajlin, memulai misi konservasi mangrove sejak 2013.

Kini, rimbunnya kembali hutan mangrove menjadi bukti perjuangan panjang mereka. Rumah Alam Bakau jadi tempat belajar, wisata, dan sumber penghidupan alternatif bagi warga.

Namun, temuan tual-tual kayu itu seakan menjadi pengingat: perjuangan menjaga hutan belum selesai. Di balik rimbunnya pohon-pohon mangrove yang ditanam dengan harapan, masih ada bayang-bayang eksploitasi yang membayangi dari balik semak-semak rawa. (RK1/*)

 

Editor: Dana Asmara

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

26 Putra-Putri Siak Berebut Jadi Wajah Hari Jadi ke-27

11 Sep 2026 - 16:44 WIB

26 Putra-Putri Siak Berebut Jadi Wajah Hari Jadi ke-27

Menyusuri Jejak Kesultanan Siak, Peserta SNA ke-29 Mengenal Sejarah di Bumi Lancang Kuning

11 Sep 2026 - 16:14 WIB

Menyusuri Jejak Kesultanan Siak, Peserta SNA ke-29 Mengenal Sejarah di Bumi Lancang Kuning

Dari Pesan WhatsApp, Terbongkar Dugaan Pencabulan Santri di Siak

11 Sep 2026 - 15:05 WIB

Dari Pesan WhatsApp, Terbongkar Dugaan Pencabulan Santri di Siak

Sekotak Nasi untuk Pejuang Karhutla Siak, Siti Syarifah Turun ke Garis Depan

9 Sep 2026 - 10:56 WIB

Sekotak Nasi untuk Pejuang Karhutla Siak, Siti Syarifah Turun ke Garis Depan

Bupati Afni Ikut KPPD Lemhannas Angkatan IV, Satu-satunya Kepala Daerah dari Riau

3 Sep 2026 - 10:21 WIB

Bupati Afni Ikut KPPD Lemhannas Angkatan IV, Satu-satunya Kepala Daerah dari Riau
Trending di Nasional