Menu

Otomatis
Breaking News

Pekanbaru

Gajah Sumatera Mati Meninggalkan Perambah Hutan

badge-check

Gajah mati. F: Net Perbesar

Gajah mati. F: Net

RiauKepri.com, PEKANBARU- Bak kata pepatah, gajah mati meninggalkan gading. Tapi, dalam sebelas tahun terakhir ini, 23 ekor gajah sumatera yang mati di rumahnya, kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Kabupaten Pelalawan, Riau, punya pepatah lain, gajah mati meninggalkan perambah hutan.

Di tengah rimba yang perlahan kehilangan rindangnya, seekor gajah Sumatera terbaring kaku. Rahman namanya. Gajah latih itu ditemukan mati di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Kabupaten Pelalawan, Riau, Januari lalu. Satu gadingnya hilang, dipotong, dibawa entah ke mana. Bukan sekadar bangkai hewan, Rahman meninggalkan cerita pilu tentang rusaknya rumah besar bagi kawanan gajah, hutan Tesso Nilo.

Supartono, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menyebutkan kematian itu bukan hanya kematian fisik, tapi kehilangan ruang hidup, hilangnya pohon-pohon, dan terancamnya satu spesies besar yang menjadi simbol kelestarian alam, gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrae).

Hutan yang Luruh, Gading yang Hilang

Tesso Nilo dulu adalah rumah bagi ratusan gajah liar. Kini, lebih dari 40.000 hektare hutan di sana telah berubah menjadi kebun sawit ilegal dan permukiman yang dibuka secara sepihak. Kawasan yang seharusnya dilindungi negara itu, perlahan direbut oleh tangan-tangan manusia, banyak dari luar daerah. Mereka membuka lahan, menanam sawit, membangun rumah, dan secara tidak langsung, mendorong kawanan gajah ke tepi kematian.

Dalam 11 tahun terakhir, BBKSDA mencatat sedikitnya 23 kasus kematian gajah di TNTN. Tahun 2015 menjadi masa tergelap, delapan ekor mati. Sisanya menyusul perlahan, beberapa diracun, dijerat, diburu, sebagian mati karena penyakit. Angka-angka itu bukan sekadar statistik, tapi potret buram dari sebuah ketidakseimbangan.

“Ada yang mati karena konflik dengan manusia, ada juga karena ruang hidup mereka makin sempit,” kata Supartono. Dalam kasus Rahman, kuat dugaan ia diracun. Gading kirinya sudah tidak ada saat ditemukan. Apakah itu hasil perburuan liar? Atau dendam diam-diam karena gajah dianggap mengganggu kebun sawit?

Gajah Tak Lagi Bergading

Ironisnya, di TNTN, banyak gajah dewasa tak lagi tumbuh gading. Ini bukan mutasi genetik semata, melainkan bentuk adaptasi terhadap tekanan evolusi. Gading kini membawa maut. Gajah yang memilikinya menjadi incaran. Maka yang tak bergading, lebih mungkin bertahan. Fenomena ini, menurut para ahli, merupakan seleksi alam yang dipicu ulah manusia.

Usaha Menjaga yang Tertatih

BBKSDA dan berbagai pihak terus berupaya mempertahankan populasi gajah. Mereka melacak pergerakan kelompok liar lewat GPS Collar, mencoba memperkaya habitat dengan penanaman kembali pohon-pohon pakan, dan merawat gajah-gajah yang masih tersisa. Tapi dengan perambahan yang begitu masif, upaya konservasi seperti berlari mengejar bayangan.

Pemerintah, melalui Satgas Penanganan Kawasan Hutan (PKH), baru-baru ini mulai menyita lahan-lahan ilegal dan meminta ribuan warga untuk relokasi mandiri. Mereka diberi waktu tiga bulan. Namun sejauh ini, langkah tersebut belum menyentuh akar persoalan: kebutuhan akan pengawasan, penegakan hukum yang tegas, dan alternatif ekonomi yang manusiawi bagi para perambah.

Siapa yang Mati, Siapa yang Bertahan?

Gajah Sumatera adalah satwa kunci, keberadaannya menandakan ekosistem yang sehat. Tapi ketika satu demi satu mati dan hutan terus digerus, yang tersisa hanyalah kenangan. Ironis, karena yang mati bukan hanya gajah. Yang benar-benar hilang adalah hutan, keseimbangan, dan nurani.

Dan sementara Rahman merebahkan tubuh terakhirnya di tanah yang dulu rimbun, gadingnya tak lagi dikenang. Tapi jejak perambahan yang membuatnya meregang nyawa masih terus berjalan, hidup dan bahkan berkembang. Karena di Tesso Nilo hari ini, gajah mati, dan perambah hutan tetap bertahan. (RK1)

 

Editor: Dana Asmara

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

BRK Syariah Raih Runner Up Aulia Padel Tournament 2026

16 Sep 2026 - 08:56 WIB

BRK Syariah Raih Runner Up Aulia Padel Tournament 2026

Libatkan Seluruh Paguyuban, LAMR Siapkan Peringatan Hari Kebudayaan Nasional 2026

15 Sep 2026 - 16:59 WIB

Libatkan Seluruh Paguyuban, LAMR Siapkan Peringatan Hari Kebudayaan Nasional 2026

Asap Semakin Tebal: Pagi Tanpa Matahari, Malam Tanpa Bintang di Pekanbaru

15 Sep 2026 - 08:25 WIB

Asap Semakin Tebal: Pagi Tanpa Matahari, Malam Tanpa Bintang di Pekanbaru

Ketua SIWO PWI Kepri Endang Kurnia Juara National Open PWI Pekanbaru 2026 di Golden Break Pekanbaru

14 Sep 2026 - 17:19 WIB

Ketua SIWO PWI Kepri Endang Kurnia Juara National Open PWI Pekanbaru 2026 di Golden Break Pekanbaru

Pekan Ketiga Bulan Ini Jembatan Siak I dan III Bergantian Ditutup, Ini Jalur Alternatifnya

14 Sep 2026 - 12:06 WIB

Pekan Ketiga Bulan Ini Jembatan Siak I dan III Bergantian Ditutup, Ini Jalur Alternatifnya
Trending di Pekanbaru