RiauKepri.com, JAKARTA – Di antara dentuman senjata dan bayang-bayang perang yang mencekam di kawasan Timur Tengah, harapan tetap menyala. Harapan itu kini pulang ke Indonesia dalam sosok seorang pemuda asal Tanjungpinang, Muhammad Taqi Askari. Ia adalah satu dari 114 WNI yang berhasil dievakuasi dari Iran dan Yaman oleh Pemerintah Indonesia di tengah konflik panas antara Iran dan Israel.
Taqi, mahasiswa asal Tanjungpinang yang sedang menuntut ilmu di Iran, menjadi saksi langsung bagaimana situasi yang sebelumnya damai berubah menjadi penuh ketidakpastian. Ketika perang pecah, komunikasi terbatas, logistik sulit, dan kekhawatiran keluarga di tanah air semakin membuncah.
Namun, Kamis (26/6/2025) malam menjadi titik balik dari ketegangan panjang itu. Taqi mendarat di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta dengan penerbangan QR956 dari Doha, Qatar, bersama puluhan WNI lainnya. Tangannya menggenggam erat dokumen, matanya menyiratkan lega, dan senyumnya mengabarkan satu hal: “Saya selamat.”
Penjemputan dilakukan langsung oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau melalui Badan Penghubung di Jakarta, sesuai arahan Gubernur Kepri Ansar Ahmad. Kepala Badan Penghubung, Endrie Djoko Satrio bersama jajaran Kementerian Luar Negeri, termasuk Tony Wibawa dari Subdit Kawasan Luar Asia dan Timur Tengah, memastikan setiap detik proses evakuasi hingga penyambutan dilakukan dengan maksimal.
“Fokus kami adalah memastikan Taqi dalam kondisi sehat dan aman. Kami dampingi penuh hingga kembali ke Tanjungpinang,” ujar Endrie usai proses penerimaan di bandara.
Tak sendiri, Taqi adalah bagian dari gelombang evakuasi yang telah dilakukan pemerintah sejak 24 Juni 2025. Total 98 WNI/PMI dari Iran dan 16 dari Yaman berhasil dibawa pulang lewat lebih dari 10 penerbangan. Evakuasi ini menjadi salah satu operasi penyelamatan WNI terbesar dalam konflik Timur Tengah dalam dekade terakhir.
Taqi sendiri menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Pemerintah Indonesia. “Saat di Iran, saya tidak tahu bagaimana saya bisa keluar. Tapi alhamdulillah, semua difasilitasi sampai saya bisa menginjakkan kaki lagi di tanah air. Saya sangat bersyukur,” katanya pelan, dengan mata berkaca-kaca.
Kini, Taqi bukan hanya membawa cerita tentang peperangan dan kepulangan, tapi juga simbol ketangguhan dan harapan di tengah krisis global. Kepulangannya ke Tanjungpinang bukan sekadar akhir dari perjalanan panjang, tapi awal baru untuk mengisi masa depan dengan lebih kuat dari sebelumnya. (RK9)
Editor: Dana Asmara








