Menu

Mode Gelap
Sambut Ramadhan 1447 H, PKK dan Kader Posyandu Isi Tausiyah dan Salurkan Paket Sembako Dua Pria Nekat Garap Hutan Lindung TWA Sungai Dumai Jadi Kebun Sawit Polsek Rangsang Bantu Korban Kebakaran Rumah Hanya Tiga Perusahaan Resmi Tambang Pasir di Bintan, Selain Itu Illegal Jemput Bola ke Pulau-Pulau, Imigrasi Selatpanjang Luncurkan Program Limau 1500 Paket Habis Terjual dalam Pasar Murah AMT di Meranti

Riau

Gubri Wahid Buka MTQ, Apa Kabar Jambatan Bengkalis-Pakning?

badge-check


					Salah satu kemewahan dan menajubkan, seratusan drone membentuk huruf arab Melayu dengan bacaan Ikraq. Perbesar

Salah satu kemewahan dan menajubkan, seratusan drone membentuk huruf arab Melayu dengan bacaan Ikraq.

RiauKepri.com, BENGKALIS- Malam pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-43 tingkat Provinsi Riau di Bengkalis, Sabtu (28/6/2025), berlangsung mewah dan megah. Di atas panggung Lapangan Pasir Andam Dewi, Gubernur Riau, Abdul Wahid, hadir lengkap dengan baju kurung cekak musang warna hijau dengan bordir di dabal (kerah) dan alur botang. Pidatonya syahdu yang menggemakan tentang nilai-nilai ilahi, budaya Melayu, dan syiar Islam.

Namun satu hal yang hilang malam itu, jambatan atau lebih spesifik, Jembatan Bengkalis-Pakning yang pernah dielu-elukan Wahid saat kampanye Pilkada 2024 sebagai lebih dari sekadar janji politik. Dulu ia mengatakan, “Ini kewajiban untuk membangun peradaban.” Tapi malam itu, tak satu pun kata yang mengarah ke sana keluar dari mulutnya. Tidak permintaan maaf. Tidak penjelasan. Tidak juga sekadar menyebut kata “jambatan.”

Yang ada, malam itu justru janji baru, pembangunan Islamic Center di Pekanbaru pada 2026. Dan ini adalah sebuah proyek lain dari janji politik Wahid-Sf Hariyanto yang kini jadi prioritas. “Insya Allah akan segera kami tunaikan,” ujar Wahid, dengan nada sama seperti yang dipakainya ketika berjanji akan membangun jembatan yang hingga kini belum terlihat tiangnya.

Janji yang Mengambang

Warga Pakning dan Bengkalis masih ingat betul narasi besar yang dibangun Wahid tentang pentingnya konektivitas darat. “Jembatan Bengkalis bukan sebuah janji politik, tetapi ini adalah bagian dari kewajiban agar kita membangun peradaban,” katanya dalam kampanye dulu. Kini, peradaban itu tampaknya tertahan di ujung penyeberangan Roro.

Selama MTQ berlangsung, mulai 27 Juni hingga 5 Juli 2025, operasional penyeberangan Bengkalis-Pakning ditambah hingga pukul 03.00 WIB dini hari. Langkah ini dilakukan demi memperlancar arus kafilah yang datang dari seluruh kabupaten/kota se-Riau. Tapi di balik usaha keras itu, jelas terlihat, ketiadaan jembatan membuat semua serba darurat. Petugas kelelahan. Penumpang berjibaku melawan kantuk dan gelombang. Sementara badai kecil saja bisa jadi tragedi. Puah sisih!

Andai jembatan itu ada, semua bisa lebih tenang. Tapi jembatan itu masih mimpi. Bahkan dalam pidato Wahid, ia tak lagi disebut.

Sindiran Warganet dan Kedai Kopi

Di media sosial, netizen tak tinggal diam. Seorang warganet dengan akun Wan Hamzah menulis sinis,
“Cuaca agak kurang baik, jembatan bisa tidak terlihat karena kabut asap juga pelabu asap. Bagi yang tak nampak, mungkin belum rezeki melintasi jembatan tersebut.”

Sindiran ini viral. Bukan hanya karena lucu, tapi karena ia menyuarakan rasa jengkel yang nyata. Di warung kopi Bengkalis, orang-orang membahas jembatan dengan nada yang sama. Mereka sepakat, jambatan Bengkalis-Pakning itu sebenarnya sudah dibangun, cuma kalau tak nampak, itu tandanya pendek umur.

Wan Hamzah pun menyebutkan bahwa
jembatan itu sebagai PSN halu (Proyek Strategis Nasional), khayalan yang dikerjakan oleh investor dari Pasir Bedengung, kampung imajiner tempat semua janji disimpan.

Antara Tilawah dan Infrastruktur

MTQ memang syiar. Sebuah panggung budaya yang menyatukan Islam dan Melayu. Tapi di balik kemegahannya, masyarakat tak lupa menuntut realita. Syiar boleh menggetarkan jiwa, tapi jembatan tetap dibutuhkan untuk menggerakkan roda ekonomi.

Gubernur Wahid berhasil membuka MTQ dengan khidmat. Tapi ia juga membuka kembali memori tentang janji yang belum ditepati. Di tengah lantunan ayat-ayat suci dan doa keberkahan, suara rakyat Bengkalis yang bertanya soal jembatan tak bisa diredam begitu saja.

Dan ketika embun mulai menyapa malam itu, langkah-langkah kaki masyarakat yang pulang ke rumah masing-masing, satu pertanyaan menggantung dan menghembai di langit Bengkalis, “Apa kabar jambatan, Pak Gubri?” (RK1)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dua Pria Nekat Garap Hutan Lindung TWA Sungai Dumai Jadi Kebun Sawit

12 Februari 2026 - 16:39 WIB

Milad ke-6, JMSI Inhu Taja HPN 2026 dan Perkuat Sinergi dengan Pemda

12 Februari 2026 - 13:33 WIB

Siak Masih Terfokus Pada Masa Klasik

12 Februari 2026 - 12:27 WIB

Khawatir Melarikan Diri, Oknum Kades Tarai Bangun Ditahan Polres Kampar

12 Februari 2026 - 12:13 WIB

Enam Hari Berjibaku Karhutla di Desa Damai, Hotspot Riau Terbanyak di Sumatera

12 Februari 2026 - 10:52 WIB

Trending di Bengkalis