RiauKepri.com, TANJUNGPINANG – Riuh rendah pelabuhan internasional dan geliat ekonomi kawasan wisata di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) makin terasa sepanjang bulan Mei 2025. Tak hanya dirasakan pelaku usaha pariwisata dan hotel, data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri turut membenarkan geliat tersebut.
Angka-angka yang dirilis BPS menunjukkan pertumbuhan signifikan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Kepri. Sebanyak 173.366 kunjungan tercatat pada Mei 2025, melonjak 39,05 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya menyentuh 126.833 kunjungan.
“Ini merupakan kabar baik, terutama bagi sektor pariwisata yang terus menggeliat pascapandemi. Kunjungan Mei 2025 juga meningkat signifikan 41,86 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ungkap Kepala BPS Kepri, Margareta Ari Anggorowati, Selasa (1/7/2025).
Tidak hanya wisman, wisatawan domestik pun menunjukkan minat besar berlibur ke Kepri. Tercatat 343.602 perjalanan domestik selama Mei 2025. Angka ini tumbuh 17,62 persen dibandingkan Mei 2024.
Batam Masih Juara, Singapura Dominasi Pasar Wisman
Dari seluruh wilayah Kepri, Batam tetap menjadi magnet utama bagi kunjungan wisatawan. Sebanyak 140.831 wisman (79,85 persen) memilih kota ini sebagai pintu masuk utama ke Kepri. Disusul Bintan (20.284 kunjungan), Karimun (9.131 kunjungan), dan Tanjungpinang (6.071 kunjungan).
Faktor kedekatan geografis menjadi alasan utama mengapa Singapura menjadi negara penyumbang terbesar kunjungan wisman. Sebanyak 76.409 wisatawan asal Singapura datang ke Kepri hanya dalam satu bulan. Disusul Malaysia (49.237), Tiongkok (6.943), India (6.147), dan Filipina (3.809).
“Wisatawan Singapura menyumbang 43,32 persen dari total kunjungan. Mereka mendominasi secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir,” jelas Margareta.
TPK Turun Tipis, Tantangan Hotel Tetap Ada
Meski kunjungan naik, angka Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel justru mengalami penurunan tipis 0,26 persen dibanding bulan April. Dari 46,35 persen menjadi 46,09 persen.
“Ini bisa jadi sinyal bahwa meskipun jumlah tamu meningkat, masa tinggal mereka lebih singkat. Terbukti dari rata-rata lama menginap yang hanya 1,77 malam,” tambah Margareta.
Penurunan ini bisa menjadi bahan evaluasi bagi pelaku industri hospitality. Tantangan bukan hanya menarik kunjungan, tapi juga memperpanjang masa tinggal dan meningkatkan belanja wisatawan.
Momen Kebangkitan Pariwisata Kepri?
Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Di baliknya ada geliat ekonomi, bangkitnya usaha kecil menengah, padatnya jadwal kapal cepat, dan senyum para pelaku pariwisata. Kepri seperti sedang memanggil kembali dunia untuk datang dan menikmati pesonanya—dari pantai-pantai eksotis di Bintan, kuliner khas Tanjungpinang, hingga pusat belanja dan hiburan di Batam.
Jika tren ini berlanjut, bisa jadi Mei 2025 adalah awal kebangkitan pariwisata Kepri secara penuh. Sebuah kabar baik yang dinantikan banyak pihak setelah masa-masa penuh tantangan di tahun-tahun sebelumnya.
“Ini momentum yang harus dijaga dan dimaksimalkan. Kepri punya potensi besar, tinggal bagaimana kita terus merawat dan mempromosikannya,” tutup Margareta penuh optimisme. (RK9)
Editor: Dana Asmara









