RiauKepri.com, PEKANBARU- Hujan semalam hanya sesaat. Cukup menurunkan kabut tipis dan debu yang menempel di dedaunan, tapi tidak cukup kuat untuk menghapus jejak jerebu dari langit Pekanbaru.
Pagi ini, Rabu (2/7/2025), cuaca mendung menaungi kota. Sebagian warga menarik napas lebih lega, setelah dua hari sebelumnya asap menyelimuti langit Payung Sekaki. Kabut datang dari arah Tapung, Kabupaten Kampar, desa bernama Karya Indah, yang berbatasan langsung dengan kota bertuah.
Di sana, api masih menyala. Lahan gambut seluas 30 hektare terbakar sejak hampir sepekan lalu. Asapnya merambat pelan, menyusup ke celah-celah rumah, sekolah, dan pasar. Warga mulai mengeluh sesak, mata perih, dan aktivitas terganggu. Tapi yang lebih menyakitkan dari kabut adalah diamnya mereka yang seharusnya bicara.
Ketika kabut mengambang, pertanyaan pun menggelayut di udara, bagaimana kualitas udara hari ini? Apakah aman bagi anak-anak sekolah yang berjalan kaki, atau bagi ibu-ibu yang membuka warung di tepi jalan?
Wartawan mencoba mencari jawab ke instansi paling berwenang, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kota Pekanbaru. Tapi, Kepala DLHK Reza Aulia Putra tak memberi kepastian. Ia justru mengarahkan agar pertanyaan itu dilayangkan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pekanbaru.
“Langsung saja sama beliau (Kepala BPBD Pekanbaru),” ucap Reza, singkat.
Secara terpisah, Kepala BPBD Pekanbaru, Zarman Candra, mengembalikan pertanyaan tersebut ke DLHK. “Soal kualitas udara kita koordinasikan ke dinas terkait, yaitu DLHK Kota Pekanbaru,” katanya.
Seolah-olah jerubu itu adalah bola panas, dan para pejabat sibuk melemparnya ke arah lain. Padahal, Kota Pekanbaru sudah memasak tekad kota ini status siaga darurat Karhutla sejak 15 Mei hingga 30 November 2025. Ada sosialisasi, apel siaga, dan imbauan kepada warga agar tak membakar lahan. Tapi ketika asap benar-benar datang dan warga mulai batuk, satu-satunya yang terdengar justru keheningan.
Zarman mengatakan ada beberapa titik yang sudah zero fire. Tapi asap tetap ada. Langit tetap kelabu. Napas tetap pendek. Dan publik tetap tanpa informasi pasti.
Dan ketika semua sibuk tolak menolak konfirmasi, satu hal tetap pasti, jerebu tak berlalu. (RK1)







