COKANG adalah istilah dari orang Cina atau Tionghoa. Cokang berasal dari kata CO dan KANG untuk menggambarkan sosok seorang yang ulet, terampil, pekerja keras, dan pantang menyerah.
Sosok itu melekat kepada H. Moehamad Noer Raoef atau M. Noer Raoef atau Emnoe. Dia merupakan generasi pertama putra terbaik dari Kuantan Singingi yang menjadi Aparatur Sipil Negara.
Pak Cokang – sapaan akrab pria yang punya ciri khas taik lalat di bawa bibir dan di pipi ini lahir di Baserah, Kecamatan Kuantan Hilir tahun 1915. Terlahir dari pasangan H. Abdoer Raoef dan Hj. Chaidijah.
Tak ada orang Kuantan Singingi yang bergelar Pak Cokang selain dirinya. Gelar itu begitu melekat sama M. Noer Raoef sampai hayat menjemput ajalnya.
PERJALANAN pendidikan Moehamad. Noer Raoef cukup panjang dan berliku. Kendati terlahir dari anak seorang ulama dan pedagang kaya namun situasi waktu tak memungkinkannya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Usai menempuh Sekolah Rakyat (SR) di Baserah, M. Noer melanjutkan pendididikan ke Schakel Klas Hollandsch – Inlandsche School (HIS) Muhammadiyah di Padang Panjang, Sumatra Barat.
Tetapi pada tahun 1942 pendidikannys terputus. Penyebab adalah pecahnya perang dunia kedua antara sekutu dengan Jepang (1942-1945). Mereka dinyatakan tamat Nood Verklaring (surat keterangan sebagai ijazah darurat).
Namun pada tahun 1943 bersama Radja Roesli, M. Noer kembali sekolah di Rensei Gaku In (Sekolah Menengah untuk calon pegawai negeri pada zaman Jepang) di Pekanbaru.
Pada 1 Januari 1945 , M. Noer diangkat menjadi pegawai negeri di Kantor Residen Riau (Riau Syu Choukun). Lalu pada 1 Juli 1945 pindah ke Kantor Wedana (Gunchu) di Taluk Kuantan.
Pada Agresi Belanda I (21 Juli 1947 sampai 5 Agustus 1947), M. Noer bersama pejuang lainnya dari Rantau Kuantan: Yamal Lako Sutan, Umar Usman, Umar Amir Husin, Buya Hasan Arifin, Buya Ma’rifat Mardjani, Ibad Amin, Sarmin Abroes, Syafi’i Yatimi, Thoha Hanafi, dan Saidina Ali.
Mereka bergabung dengan pejuang lainnya mengusir tentara Belanda dari bumi pertiwi. Lalu Pada Agresi Belanda II yang pecah pada 19 Desember 1948, mereka bergabung dengan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) mengusir Belanda.
Mereka melakukan perang gerilya di hutan Lubuk Jambi dan Lubuk Ambacang sampai ke hutan Sijunjung di Sumatra Barat. PDRI adalah penyelenggara Pemerintahan RI sejak 22 Desember 1948 hingga 13 Juli 1949 yang disebut juga dengan Kabinet Darurat.
Sesaat sebelum pemimpin Indonesia saat itu, Soekarno, Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya ditangkap Belanda pada 19 Desember 1948 di ibu kota Republik Indonesia Yogyakarta. Mereka sempat mengadakan rapat dan memberikan mandat kepada Syafruddin Prawiranegara untuk membentuk pemerintahan sementara di Bukittinggi sejak 22 Desember 1948 hingga 13 Juli 1949.
“Waktu pelarian itu abang kami nomor empat (Masfar Muhammad Noer) meninggal dunia. Dikuburkan di Lubuk Jambi. Tepatnya di depan kantor Camat Lubuk Jambi lama dekat pasar Lubuk Jambi,” ujar Salmi Muhammad Noer.
Sahabatnya Radja Roesli dipercaya sebagai salah seorang anggota Tim Pemerintah RI yang menerima penyerahan kekuasaan dari Pemerintah Hindia Belanda di Kabupaten Indragiri (Desember 1949).
Ketika Agresi Belanda ke-2 berakhir pada 20 Desember 1948, terjadi pergeseran politik yang tajam. Pergeseran politik itu terjadi akibat Peristiwa Madiun 1948 adalah sebuah konflik antara pemerintah Republik Indonesia dan kelompok oposisi sayap kiri yaitu Front Demokrasi Rakyat (FDR) selama Revolusi Nasional Indonesia.
FDR terdiri atas Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Sosialis Indonesia (Parsi), Partai Buruh Indonesia (PBI), Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo), dan Sarekat Buruh Perkebunan Indonesia (SBPI).
Konflik ini bersenjata ini dipimpin oleh Amir Sjarifuddin dan Muso dimulai pada 18 September 1948 di Madiun, Jawa Timur. tiga bulan kemudian berakhir ketika sebagian besar pemimpin dan anggota FDR ditahan dan dieksekusi oleh pasukan TNI.
Banyak dikalangan anggota FDR dari etnis Cina di Indonesia di-eksekusi mati. Di Telukkuantan eksekusi itu juga dilakukan di tepi Sungai Kuantan – tapi korbannya tidak banyak. Takut kejadian itu meluas sampai ke Baserah, M. Noer mengungsikan etnis Cina ke daerah Lumbok. (Seberang Baserah).
“Sampai sekarang etnis Cina di Baserah menganggap keluarga besar Mamak Emnoe (baca Mohammad Noer) sebagai saudara,” ujar Ponakan M. Noer, Azwirman.
Menurut Azwirman setiap hari raya (Idul Fitri maupun Idul Adha) kediaman Mamak Emnoe ramai di kunjungi etnis Cina yang tinggal di Baserah. Begitu sebaliknya ketika perayaan Imlek, Mamak Emnoe berkunjung ke rumah etnis Tionghoa,” ujar pegawai di Pusdiklat Kemendagri di Jakarta.
Menurut literatur sejarah, di rantau Kuantan, etnis Cina banyak bermukim di Telukkuantan (Kuantan Tengah) dan Beserah (Kuantan Hilir). Di kecamatan lain seperti Kuantan Mudik, Singingi, dan Cerenti tidak ada etnis Cina.
Sejarawan Lingga Lazuardy mengatakan, kedatangan etnis Cina ke Riau sudah dimulai abad 17. Namun puncaknya terjadi pada abad 18 dan 19 setelah pemindahan Pusat Pemerintahan Kesultanan Riau – Lingga – Johor – Pahang dari Ulu/Hulu Riau ke-Lingga/Daik 24 juli 1787.
Namun pengaruh Cina di Kuantan tidaklah sebanyak di Kepulauan Riau karena letaknya tidaklah strategis yang terletak di jalur pelayaran dari selat Malaka menuju tanah Jawa dan lainnya.
TAHUN 1950, Radja Roesli dan M. Noer diangkat jadi Asisten Wedana di Rantau Kuantan. Asisten Wedana setingkat Amir, Kepala Kecamatan kemudian berubah menjadi Camat sampai sekarang. Radja Rusli di Telukkuantan (Kuantan Tengah) dan M. Noer di Baserah (Kuantan Hilir).
Selama menjabat sebagai Asisten Wedana di Kecamatan Kuantan Hilir, M. Noer ikut merintis pendirian SMP 1 Kuantan Hilir (1952 s.d 1962). Dia bertindak sebagai Ketua Pembangunan dibantu oleh: M. Sidik (Bendahara), Marjan (Tenaga Pendidik), Djamaluddin (Ketua Penggerak), Idris Miin (Tenaga pendidik), dan M. Yakub Hayati (Ketua POM).
Pada tahun 1954 kedua sahabat ini mengikuti Kursus Dinas C (KDC) di Bukit Tinggi. KDC ini didirikan pada 1952 di Kota Malang, Jawa Timur oleh Kementrian Dalam Negeri dengan tujuan meningkatkan keterampilan pegawai golongan DD yang siap pakai dalam melaksanakan tugasnya.
Selain di Malang (Jawa Timu) dan Bukittinggi KDC diselenggarakan di Aceh, Bandung (Jawa Barat), Pontianak (Kalimantan Utara), Makasar (Sulawesi Selatan), Palangkaraya (Kalimantan Tengah), dan Mataram (Nusa Tenggara Barat).
Seiring berkembangnya penyelenggaraan pemerintahan makan pemerintah mendirikan Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) pada tanggal 17 Maret 1956 di Malang. Pendirian akademi berdasarkan SK Mendagri No. Pend. 1/20/565 tanggal 24 September 1956 dan diresmikan oleh Presiden Soekarno.
Dari Asisten Widana di Kuantan Hilir, M. Noer dimutasikan ke kantor Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kepulauan Riau di Tanjungpinang.
Selama bertugas di Daerah Tingkat II Kabupaten Kepulauan Riau, M. Noer bergabung dengan bupati: Muhammad Rakana Daljan yang menjabat mulai 1 Agustus 1955 s.d 30 Oktober 1957. Kemudian dilanjutkan oleh Umar Awaluddin (22 Mei 1959 s.d 8 Juli 1960).
Di Kepulauan Riau, M. Noer pernah menjadi Asisten Wedana di Tanjungbalai Karimun dan Daik Lingga (1956 – 1958). Ia menjabat Asisten Wedana Lingga pertama dan membangun berbagai bangunan monumental di Daik-Lingga.
Sebut saja: Tugu Proklamasi Kemerdekaan RI, Rumah Assisten Wedana Lingga, Balai Pertemuan Masyarakat Kepenghuluan Daik Sepincan, Balai Obat Pertama, SMP Negeri 1 Lingga dengan Abdul Kadis Abbas sebagai Kepala Sekolah pertama, SDN 02 kini 03 Lingga, kubah Mesjid Jamik sekarang Mesjid jamik Sultan Lingga, Lapangan Hang Tuah, dan TK Ganda Suli.
Sejak jadi asisten wedana di Daik Lingga itulah gelar “PAK COKANG” makin lengket di kalangan masyarakat. Gelar Itu diberikan karena banyak karya monumental dibangunnya semasa jadi Asisten Wedana di Daik Lingga.
Lapangan Hang Tuah kini sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Kabupaten Lingga tahun 2018 diberi nama Dataran Sultan Mahmud Ria’yat Syah Berdasarkan SK Keputusan Bupati Lingga NO:481/KPTS/XII/2019 Tentang Penetapan Situs, Struktur, Bangunan dan Benda Cagar Budaya Kabupaten Lingga.
Sedangkan Mesjid Jamik Cagar Budaya Provinsi Kepulauan Riau. Lainnya sudah didata untuk usulan yang diduga cagar budaya tetapi belum disidangkan oleh Team Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Lingga untuk rekomendasi penetapan oleh Pemerintah Kabupaten Lingga/Bupati Lingga.
Sejarawan Lingga, Lazuardy menyebut,” M. Noer adalah “Bapak Pembangunan Lingga” yang sesungguhnya. Namanya dikenang dan jasanya membangun Lingga banyak sekali.
Sejumlah pejabat yang menggantikan M. Noer sebagai asisten wedana di Lingga adalah H.R. Adullah (1958-1959), E. Moehammad Kahar (1959-1960), Abdul Malik (1960-1963), Abdul Majid Daud (1963-1964). A. Basar I (1964-1866).
Menyusul Kepala Kecamatan: Aboe Bakar 1866-1969 dan R.A. Gani (1969-1971), dan camat Adham Jailani (1971 – 1978) dan A. Basar II (1978-1981).
Dari Daik Lingga M. Noer dimutasikan menjadi Wedana atau Pembantu Bupati di Telukkuantan (1959 – 1962). Dia dibantu oleh Raja Arifin yang bertindak sebagai Kepala Kantor Kewedanaan/Asisten Wedana.
Raja Arifin asal Telukkuantan adalah orang tua dari mantan Sekretaris Daerah Kabupaten Indragiri Hulu: Raja Erisman.
Pada masa awal kemerdekaan, Kuantan dan Singingi menjadi salah satu kewedanaan dalam Kabupaten Indragiri dengan ibu kota Telukkuantan. Dalam sistem pemerintahan kewedanaan, pemerintahan di tingkat negeri dipimpin oleh kepala negeri dan dipanggil wali negeri yang berada dibawah kewenangan Asisten Wedana.
Kuantan Singingi dibagi menjadi daerah empat kewedanaan yang dipimpin oleh asisten wedana: Yakni Asisten Wedana Singingi di Muara Lembu, Asisten Wedana Kuantan Mudik di Lubuk Jambi, Asisten Wedana Kuantan Hilir di Baserah, dan Asisten Wedana Tjerenti di Tjerenti.
Lalu pada masing-masing daerah Asisten Wedana terdapat pula ‘Orang Godang.’ Yang mengkoordinirnya oleh “Orang Godang” di Teluk Kuantan.
Dari Wedana Talukkuatan M. Noer dipindahkan lagi jadi Wedana Selatpanjang (1962-1965) menggantikan Abdurrab bin Said, orang tua dari Prof dr. Tabrani Rab. Saat bertugas di Selatpanjang ini M. Noer pernah menerima kunjungan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI ke-12 Prijono.
Dari Selatpanjang, M. Noer dimutasikan ke Kantor Gubernur Riau di Pekanbaru. Waktu itu gubernurnya dijabat oleh Kaharuddin Nasution (1960-1966).
Setelah Kaharuddin Nasution diganti Arifin Achmad (1967-1972 dan 1962-1977), M. Noer diberi kepercayaan jadi Kepala Biro Umum di kantor Gubernur Riau.
Jabatan sebagai Kepala Biro Umum waktu itu bergengsi karena membawai biro lain seperti kepegawaian, keuangan, pemerintah, dan lainnya.
Waktu itu di kantor Gubernur Riau belum ada struktur organisasi seperti Wakil Gubernur dan jabatan Sekretaris Daerah. Gubernur Riau hanya dibantu oleh Pembantu Gubernur (Residen).
Waktu menjadi Kepala Biro Umum Gubernur Riau, Arifin Achmad menawari beberapa jabatan penting kepada M. Noer.
Pertama: Bersama Drs. H. Ismail Suko diusulkan sebagai calon Sekretaris Wilayah Daerah Provinsi Riau. Yang terpilih Ismail Suko asal Rokan Hulu pejabat dari Sekretariat Negara yang baru tamat Sekolah Pendidikan Tinggi Dinas Ilmu Administrasi Negara di Lembaga Administrasi Negara RI, Jakarta.
Kedua: Jabatan sebagai Bupati Indragiri berkedudukan di Rengat. Tawaran itu ditolaknya secara halus.
Ketiga: Ketika Indragiri dimekarkan jadi dua kabupaten (Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir) lagi-lagi dia “ditawari” jadi Bupati Indragiri Hilir. Kali ini tawaran tersebut diterimanya degan catatan: dia hanya mau jadi bupati hingga bupati depinitif ditunjuk.
Jabatan terakhir M. Noer setelah tiga tahun menjadi Kepala Biro Umum dinaikan jadi Pembantu Gubernur (Residen) Riau.
Salmi Muhammad Noer mengingat cerita seorang temannya Nazief Soesila Dharma. Sang teman yang pernah menjadi Penjabat Wali Kota Batam periode 1999-2001 menyebut ayahnya pejabat yang bisa mencapai jabatan tinggi di kantor Gubernur Riau tanpa embel-embel gelar sarjana.
“Setau saya hanya ayah saya dari Kuantan Singingi yang sampai jadi Residen di Riau. Residen lainnya Tengku Moehammad dan Tengku Bay berasal dari Indragiri Hulu. Kami bangga mempunyai ayah yang pendidikan tidak sarjana hanya berbekalan kursus-kursus pendidikan di bidang kerjanya dapat menduduki jabatan tinggi di kantor Gubernur Riau,” ujar Salmi Muhammad Noer.
DARI kedua istrinya M. Noer Raoef punya 13 orang buah hati. Dari itri pertama NURAINI punya tujuh anak yakni: Samsi Muhammad Noer, Anwar Muhammad Noer, Azwar Muhammad Noer, Masfar Muhammad Noer, Parmulihan Muhammad Noer, Salmi Muhammad Noer, dan Djawanis Muhammad Noer.
Sedangkan dari istri keduanya SANA SAMSUDDIN punya enam anak yakni Asmi Muhammad Noer, Irianus Muhammad Noer, Fauzi Muhammad Noer, Erhami Muhammad Noer, Fitriyati Muhammad Noer, dan Fajri Muhammad Noer.
M. Noer meninggal dunia 1982 di Baserah dan dikuburkan di perkuburan keluarga. Tepatnya di belakang rumah lama di Pasar Baru, Baserah.
Ada yang patut kita simak kunci keberhasilan M. Noer sehingga digelar Pak Cokang untuk masyarakat dan daerah Kuncinya adalah:
Pertama: Kemauan yang kuat.
Kedua: niat yang ikhlas tanpa memikirkan keuntungan pribadi.
Ketiga: sanggup berkorban moril maupun materil.
Keempat: memelihara kepercayaan orang ramai karena “amat celakalah orang kalau sudah kehilangan kepercayaan dari orang lain.”
Sudahkan kita melaksanakan kunci keberhasilan yang dicanangkan M. Noer tersebut? Tepuk dada tanya selera.
Please……
Penulis Naskah: Sahabat Jang Itam







