RiauKepri.com, TANJUNGPINANG — Pemerintah Kota Tanjungpinang melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menaruh perhatian serius terhadap dinamika inflasi dengan terus memperkuat sinergi lintas sektor. Hal ini ditegaskan dalam Rapat Koordinasi Rutin TPID yang digelar di Ruang Rapat Engku Putri Raja Hamidah, Kantor Wali Kota Tanjungpinang, Senin (21/7/2025).
Rapat evaluasi dipimpin oleh Sekretaris Daerah Kota Tanjungpinang, Zulhidayat, yang didampingi Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Elfiani Sandri, serta dihadiri perwakilan dari Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepri, BPS Tanjungpinang, BMKG, Badan Karantina, dan OPD terkait.
Dari data BPS Kota Tanjungpinang, pada Juni 2025 tercatat inflasi tahunan (year-on-year) sebesar 0,07 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) di angka 105,60. Inflasi tertinggi disumbang oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Namun secara bulanan (month-to-month), terjadi deflasi 0,13 persen, dengan penyumbang utama dari kelompok pakaian dan alas kaki.
Menanggapi data tersebut, Zulhidayat menyampaikan bahwa meskipun capaian ini menunjukkan kinerja positif TPID, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan. “Kami apresiasi sinergi yang sudah terbangun, namun kami tekankan pentingnya evaluasi berkelanjutan dan inovasi nyata agar daya beli masyarakat tetap terjaga, terutama jelang akhir tahun,” ujarnya.
Menurut Zulhidayat, Pemko Tanjungpinang telah melakukan berbagai langkah konkret seperti pengawasan distribusi pangan, operasi pasar murah, dan mendorong optimalisasi BUMD pangan.
Senada, Sudarta, perwakilan Bank Indonesia Kepri, menyebutkan bahwa sinergi dan kolaborasi antarinstansi harus diperkuat dalam upaya menjaga stabilitas harga. Ia menyoroti pentingnya Kerja Sama Antar Daerah (KAD) untuk menjaga pasokan, serta mendorong efisiensi distribusi pangan strategis.
“Optimalisasi BUMD pangan sebagai offtaker KAD, penguatan program seperti Gerakan Pangan Murah (GPM) hingga penyelesaian roadmap TPID 2025–2027 harus segera dijalankan agar pengendalian inflasi lebih sistematis,” pungkas Sudarta.
Dengan kondisi deflasi yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir, TPID Tanjungpinang menilai perlu upaya antisipatif yang lebih proaktif guna menghadapi potensi kenaikan harga komoditas di semester dua tahun ini, terutama menjelang akhir tahun dan musim-musim rawan inflasi. (RK9)
Editor: Dana Asmara







