Menu

Mode Gelap
Selamatkan Ribuan Honorer Non ASN, Ini Langkah Terukur dari Pemkab Siak K.H. Muhammad Mursyid Hadiri Milad Muhammadiyah ke-113 di Kuok, Tekankan Pentingnya Ukhuwah dan Peran Ormas untuk Kemajuan Daerah Menampi Dedap Siak Terima Sertifikat Bebas Frambusia dari Kemenkes RI Pulau Terubuk Bersholawat Bersempena Haul Raja Kecik Berjalan Khidmat Billy Yusak Resmi Memimpin BM Kosgoro 1957 Bintan

Riau

Pagi Jumat Bersama Teriakan Abdul dan Auman Harimau

badge-check


					Harimau Sumatera dan Abdul yang sedang dirawat (foto:net) Perbesar

Harimau Sumatera dan Abdul yang sedang dirawat (foto:net)

RiauKepri.com, PEKANBARU- Syahdan. Pagi Jumat (1/8/2025), langit di atas hamparan tanaman akasia di Distrik Merawang, Kabupaten Pelalawan, tampak teduh. Abdul Susanto (40), pekerja borongan asal Lampung, bersama dua rekannya, Ridwan Firdaus dan Ujang, tengah menyemprot gulma di Petak 178 Kanal 9. Mereka bekerja di bawah naungan PT Theo Charles Ertilizer, perusahaan rekanan dari PT Arara Abadi.

Namun, ketenangan itu hanya sesaat. Seiring jarum jam bergerak pelan menuju angka 09.00 WIB, teriakan Abdul memecah heningnya kebun industri. Tak lama kemudian, suara auman menembus celah-celah batang kayu yang biasanya hanya diisi deru mesin dan desau angin.

“Begitu mendengar teriakan dan suara harimau, kedua saksi langsung lari ke arah suara sambil berteriak, berusaha mengusir binatang buas itu,” tutur Kapolres Pelalawan, AKBP John Louis Letedara, SIK.

Abdul diserang harimau sumatera, satwa yang kini langka namun nyata masih menjadi bagian dari bentang alam Riau. Rekannya menemukan tubuh Abdul bersimbah darah. Mereka tak punya banyak waktu untuk panik. Sigap, tubuh teman digendong sejauh 300 meter menuju kanal terdekat, sebelum dibawa menggunakan perahu ketinting ke Klinik Distrik Merawang.

Sayangnya, luka-luka yang diderita Abdul cukup serius. Ia mengalami robekan besar di kepala kiri, luka panjang di sisi kanan kepala, luka robek di pelipis, serta bekas gigitan dan cakaran di leher. Lengan kanannya patah parah, sementara bahunya penuh luka terbuka. Setelah penanganan awal, korban dirujuk ke Puskesmas Teluk Meranti, lalu ke RSUD Selasih Pelalawan.

Hikayat ini mendedahkan (membuka lebar) kenyataan yang sering terlupakan, hutan bukan hanya milik manusia. Kawasan konsesi industri, meski penuh tanaman budidaya, namun masih menyimpan jejak-jejak kehidupan liar yang tak bisa diabaikan.

Kapolres Pelalawan menyebut, pihaknya kini berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau dan perusahaan untuk mengecek lokasi serta memastikan apakah harimau itu masih berada di sekitar kawasan tersebut. “Ini untuk menghindari kejadian serupa menimpa pekerja lain,” ujarnya.

Ia juga mengimbau seluruh pekerja dan warga yang beraktivitas di kawasan hutan atau areal konsesi untuk lebih waspada. “Jika melihat tanda-tanda keberadaan harimau, seperti jejak atau cakaran di pohon, segera lapor ke pihak berwenang,” pinta Kapolres.

Kisah Abdul adalah lonceng pengingat bahwa di balik geliat industri kehutanan, ada dunia liar yang terus bergeliat namun nasibnya terancam. (RK1)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Selamatkan Ribuan Honorer Non ASN, Ini Langkah Terukur dari Pemkab Siak

18 Januari 2026 - 17:36 WIB

K.H. Muhammad Mursyid Hadiri Milad Muhammadiyah ke-113 di Kuok, Tekankan Pentingnya Ukhuwah dan Peran Ormas untuk Kemajuan Daerah

18 Januari 2026 - 14:30 WIB

Menampi Dedap

18 Januari 2026 - 09:43 WIB

Siak Terima Sertifikat Bebas Frambusia dari Kemenkes RI

18 Januari 2026 - 06:02 WIB

Pulau Terubuk Bersholawat Bersempena Haul Raja Kecik Berjalan Khidmat

17 Januari 2026 - 23:39 WIB

Trending di Bengkalis