RiauKepri.com, TANJUNGPINANG — Pagi itu, langit Tepi Laut tampak cerah. Di bawah sinar mentari yang mulai hangat, Gubernur Kepulauan Riau, H. Ansar Ahmad, turun langsung ke jalan. Tanpa protokoler yang kaku, ia menggenggam sapu di tangan, memimpin barisan gotong royong di kawasan Gurindam XII, Kamis (7/8/2025). Bukan hanya simbolik, ini adalah pesan nyata: merawat kota adalah tanggung jawab bersama.
Inilah wajah lain dari pemimpin daerah—bukan dari balik meja rapat atau podium pidato, tetapi dari jalanan yang penuh dedaunan, selokan yang kadang luput dari pandangan, dan taman-taman yang tak selalu terawat. Dalam gerakan bertajuk “Kamis Goro”, Gubernur Ansar memadukan aksi nyata dan nilai-nilai budaya gotong royong, warisan yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat Indonesia.
Menyisir Gurindam XII, Menyentuh Simbol Kota
Kawasan Gurindam XII bukan sembarang tempat. Ia adalah ikon kota, titik pertemuan antara sejarah, wisata, dan ruang publik masyarakat Tanjungpinang. Maka, membersihkan kawasan ini bukan sekadar soal estetika, tapi juga merawat identitas.
“Kegiatan ini bagian dari revitalisasi kawasan strategis di Tanjungpinang. Tapi yang paling penting, ini tentang menumbuhkan rasa memiliki atas kota ini,” ujar Gubernur Ansar kepada para peserta gotong royong.
Puluhan pegawai dari berbagai OPD ikut menyapu jalanan, membersihkan taman, dan mengangkat sampah dari selokan. Tidak ada perbedaan status, semua larut dalam kerja kolektif. Momen ini menjadi ajang menyatukan semangat aparatur sipil negara dengan warga, lewat kerja-kerja sederhana namun bermakna.
Dari Goro Menuju Gaya Hidup Bersih
Lebih dari sekadar aksi bersih-bersih, Kamis Goro adalah kampanye gaya hidup baru di ruang publik Tanjungpinang. Kawasan Tepi Laut, yang kerap menjadi destinasi favorit warga untuk bersantai, berjalan, dan berjualan, harus menjadi contoh lingkungan bersih dan tertib.
Gubernur Ansar secara khusus menyoroti peran pedagang dan pengunjung. “Kebersihan kawasan ini adalah wajah kita bersama. Saya harap para pedagang juga menjaga lingkungan di sekitar lapaknya. Begitu juga pengunjung, jangan tinggalkan sampah,” tegasnya.
Goro, Bukan Sekali Usai
Apa yang dilakukan hari itu mungkin tak mengubah kota dalam sekejap. Tapi ia menjadi batu loncatan: bahwa merawat kota tak harus menunggu program besar, cukup dimulai dari menyapu satu sudut jalan.
Gerakan Kamis Goro akan terus berlanjut. Dan harapannya, tidak hanya menjadi kegiatan rutin pemerintah, tetapi budaya bersama masyarakat. Sebab kota yang bersih, bukan sekadar tentang kebijakan—tapi tentang hati yang peduli dan tangan yang mau bergerak. (RK9)
Editor: Dana Asmara







