Menu

Mode Gelap
Telan Anggaran Rp233,48 Juta, DPRD Meranti Tinjau Pembangunan Duiker Simpang Puskemas Zona Integritas Diresmikan, Imigrasi Selatpanjang Bidik WBK dan WBBM Kades Batu Berapit Apresiasi Wartawan Anambas, Berkah Terima Bantuan Sembako HPN 2026 Bupati Siak Afni: PT. BSP di Ambang Kebangkitan HPN 2026 di Jemaja Berlangsung Meriah, Bupati Aneng Apresiasi Peran Strategis Insan Pers Ribuan Warga Pulau Jemaja Padati Lapangan Bola Kelurahan Letung, Meriahkan Jalan Santai HPN 2026, Sepeda Listrik Jadi Hadiah Utama

Uncategorized

Ir. H. Firdaus Malik (1942-2005): Perancang Pemekaran Wilayah dari Kuantan Singingi

badge-check


					Ir. H. Firdaus Malik Perbesar

Ir. H. Firdaus Malik

SELAIN dikenal sebagai penghasil para tenaga pendidik (guru), Kabupaten Kuantan Singingi, Riau juga banyak menghasilkan politisi dan birokrat handal. Satu di antara putra terbaik daerah ini adalah Ir. H. Firdaus Malik.

Selama berkarier Firdaus Malik banyak mencapai posisi di jajaran birokrat di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau. Ia pernah jadi Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Sekretaris Wilayah Daerah, dan Wakil Gubernur Riau pada era Letjen TNI (Purn) Soeripto Gubernur Riau (1988-1993 dan 1993-1998).

Pada era Habibie jadi Presiden RI, Firdaus Malik dipercaya menjadi Staf Ahli Bidang Sumber Daya Manusia Menteri Pekerjaan Umum (PU) pada Departemen sekarang Kementerian PU. Sang teknorat ini bergabung dengan Menteri PU, Ir. Rachmadi Bambang Sumadhijo.

Ketika menjadi staf Ahli PU, Dr. Ir. Basuki Hadimulyo ikut tim Pusat untuk pembentukan daerah pemekaran baru se-Indonesia dari Departemen PU. Dan, dalam perjalanan karier selanjutnya Dr. Ir. Basuki Hadimuljono jadi seorang tokoh penting di Indonesia.

Saat ini Dr. Ir. Basuki Hadimuljono dipercaya Presiden Prabowo Subianto sebagai Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara . Sebelumnya, dikenal luas sebagai Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dalam Kabinet Kerja (2014-2019) dan Kabinet Indonesia Maju (2019-2024) Presiden Joko Wodido.

Firdaus Malik bersama Bappenas ikut Tim Nasional untuk Perencanaan Fisik dan Sarana Wilayah/Daerah pemekaran baru se Indonesia. Di tingkat Pusat, ia ikut merancang pemekaran wilayah. Kabupaten Kuantan Singingi merupakan salah satu bukti hasil perjuangannya di Pusat. Selain itu juga kabupaten/kota hasil pemekaran lainnya di Riau: Rokan Hulu, Rokan Hilir, Pelalawan, Siak, Dumai, Batam, Natuna, dan Karimun. Batam, Natuna, dan Karimun kini bergabung dengan Provinsi Kepulauan Riau hasil pemekaran Provinsi Riau.

PERJALANAN karier politik Firdaus Malik juga patut disimak. Pada era Orde Baru, ia pernah menjadi Ketua DPD Partai Golkar Riau. Selanjutnya, jabatan itu digantikan oleh Kolonel TNI (Purn) Darwis Rida. Sang pengganti asal Peranap, Indragiri Hulu itu pernah menjadi Ketua DPRD Riau (1998-2003) dan anggota DPR RI (2003-2008).

Direktur Pekanbaru Journalist Center, Drs. Wahyudi El Panggabean dalam tulisannya: “Pilgubri dan Kekuatan Senjata” Selasa, 23 Januari 2018 mengulas perjalanan panjang suksesi Pemilihan Gubernur Riau (Pilgubri).

Inilah kutipan tulisan wartawan senior Riau yang pernah berkerja sebagai wartawan Mingguan GeNTA dan Majalah Mingguan FORUM Keadilan:

Tahun 1995 majunya Ir. H. Firdaus Malik, salah seorang putra terbaik Riau asal Kuantan Singingi tampil menghadapi Letjen TNI (Purn) Soeripto, sebagai calon unggulan di pentas Pilgubri 1993 membuat politik Riau bergejolak. Kendati, kemudian Firdaus Malik takluk, sejarah mencatat tekadnya sebagai perjuangan supremasi sipil dan pengemban aspirasi putra daerah.

Perlawanan terhadap otoritas militer di kursi Gubernur Riau kembali bergejolak saat Firdaus Malik tampil kedua kalinya di arena yang sama. Kali ini, yang dihadapinya di Pilgubri tanggal 21 Nopember 1998 justru Brigjen (CHK) H. Saleh Djasit, S.H yang juga putra terbaik Riau asal Pujud, Rokan Hilir, mantan Bupati Kampar dua periode (1986 -1991 dan 1991-1996).

Media menulis sebuah pertarungan yang menarik. Putra daerah vs putra daerah. Anak Bengkalis kontra anak Kuantan Singingi. Mantan Wakil Gubernur Riau melawan mantan Bupati Kabupaten Kampar.

Firdaus Malik maju dengan perahu Golkar yang mengantongi suara mayoritas di DPRD Riau. Saleh Djasit tampil lewat Fraksi TNI-Polri yang hanya memiliki kekuatan enam suara.

Hasilnya…?

Sejarah suksesi adalah sejarah pengkhianatan. Pemerhati politik kala itu skeptis bahwa Firdaus Malik kembali jadi tumbal konspirasi politik sejumlah wakil rakyat dari partai berlambang Pohon Beringin.

Tragis…!

Kepedihan politik bagi Firdaus Malik adalah pesta sukacita bagi Saleh Djasit yang berhasil memenangi Pilgubri. Dinasti militer di kursi Gubernur Riau, kembali diperpanjang Saleh Djasit, dengan mencatatkan namanya di belakang Gubernur Riau “berbaju hijau”: Sebelumnya ada Kaharuddin Nasution, Soebrantas Siswanto, Arifin Achmad, Imam Munandar, dan Soeripto. Keberhasilan Saleh Djasit menggenapi setengah lusin para penenteng “senjata” di kursi Gubernur Riau.

Tetapi, dalam dunia politik selalu berlaku motto: “Tidak ada kawan dan lawan yang abadi. Yang abadi hanya kepentingan.” Sebagai anggota DPRD Riau dari Fraksi Golkar kala itu, Rusli Zainal disebut-sebut sosok yang paling berperan “mengatur” kemenangan bagi Saleh Djasit di Pilgubri 1998 itu.

Sukses menyutradarai trik politik di Pilgubri, Rusli Zaenal melangkah mulus ke kursi Bupati Indragiri Hilir. Saleh Djasit, kemudian melantik Rusli Zenal sebagai Bupati Indragiri Hilir, 14 April 1999. Bagi Rusli, ternyata jabatan ini hanya sekadar persinggahan. Target berikutnya, kursi Gubenur Riau.

Lantas, apa yang terjadi di Pilgubri tahun 2003 itu? Ambisi Saleh Djasit memperpanjang jabatannnya di kursi Gubernur Riau itu, berhasil digagalkan Rusli Zainal. Saleh Djasit yang tampil dengan kekuatan penuh via Golkar, justru takluk di tangan Rusli yang didukung PPP. Politik memang aneh.

Namun, jika diamati saksama, keberhasil Rusli Zainal memutus dinasti militer dari kursi Gubernur Riau adalah jawaban atas perjuangan mertuanya, Ismail Suko pada Peristiwa 2 September 1985. Ismail Suko yang berhasil memenangi Pilgubri tahun 1985, baru “dilantik” menjadi Gubernur Riau di tahun 2003, lewat menantunya, Rusli Zainal.

Catatan politik memang tidak selalu linier di Pilgubri. Jika Firdaus Malik dikhianati Partai Golkar di Pilgubri 2003, giliran Saleh Djasit “meradang” di bawah rerimbunan Beringin. Tapi, perjalanan politiknya kembali bersinar.

Saleh Djasit, berhasil menduduki kursi DPR RI Daerah Pemlihan Riau dari Golkar, pasca kekalahannya dari Rusli Zainal. Sementara Firdaus Malik memilih pensiun setelah bekerja puluhan tahun sebagai abdi negara. Diakhir hayatnya dia menetap di Jakarta.

LAHIR di Baserah, Kecamatan Kuantan Hilir, Kuantan Singingi, Riau pada 21 September 1940 dari pasangan H. Abdul Malik dan Hj. Juddah. Selain pedagang ayahnya juga pemuka agama sekaligus tokoh Muhammadiyah yang berteman akrab dengan Abdul Malik Karim Amarullah (HAMKA) – salah seorang tokoh ulama dan politisi di Sumatra Barat.

Firdaus Malik juga turunan ulama terkemuka di Baserah. Ia cucu dari Tengku Putih yang turunannya telah temurun di Baserah dan kini telah menyebar ke seluruh tanah air. Sementara ayahnya saudagar kaya yang merintis usaha perdagangan eksport import perkebunan dan barang-barang sandang, peralatan rumah tangga lainnya tujuan Singapura dan Malaysia.

Ia terlahir sebagai anak ketujuh dari delapan bersaudara (5 laki-laki dan 3 perempuan). Saudaranya yang lain adalah Abbas Malik, Muhammad Diah Malik, Rubiah Malik, Hamisyah Malik, Ramli Malik, Mahdi Malik, Firdaus Malik, dan Miya Malik.

Jenjang pendidikan dasar diselesaikan Firdaus Malik di SR Baserah. Kemudian pendidikan menengah di SMP 1 Bukittinggi, dan SMA 2 Bukittinggi. Sedangkan pendidikan tinggi diselesaikannya di Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UGM, Yogyakarta. Dia jua menyelesaikan pendidikan Profesional Urban Regional Planing di Belanda dan Inggris.

FIRDAUS MALIK meninggal dunia di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta dalam umur 65 tahun pada 20 November 2005 pukul 18.30 WIB Ahad. Kemudian dimakamkan 21 Nopember 2005 di Pekanbaru. Firdaus Malik meninggalkan seorang istri: Hayati dan empat anak: Ir. Eni Edina, Ir. Imelia Soraya, Ir. Willi Winaldi, dan Ir. Ferry Sadry.

Di mata orang yang mengenal sosok dirinya, Firdaus Malik dikenal mengayomi, ramah, peduli, dan menyejukkan. “Pak Fir, tidak memiliki retak tangan jadi Gubernur, meski beliau dua kali mencalonkan diri di Pilgubri.” Inilah potongan ucapan satir Rusli Zainal di surat kabar Riau Pos 22 November 2005 atas meninggalnya Firdaus Malik.

Sementara Ir. H. Mahdili – mantan Kadis PU Kabupaten Kuantan Singingi sebelum ajal menjemput dirinya pernah mengatakan: “Pak Fir adalah guru, teknorat, birokrat, dan politisi kebanggaan Riau asal Kuantan Singingi yang hingga kini sulit mencari tandingannya.”

Di mata salah Azwirman, Firdaus Malik sangat peduli dan mengayomi keluarga besarnya. Tak pandang bulu, baik itu keluarga dekat maupun keluarga jauh. “Mamak Fir itu orangnya mengayomi dan peduli,” ujar Azwirman yang memanggil Firdaus Malik dengan sebutan Mamak Fir.

Sementara Arnida Warnis mengenang pertemuannya dengan Firdaus Malik. “Suatu ketika selesai kuliah di Jakarta tahun 1991, saya bersilahturahim ke rumahnya di Jl. Gadja Mada, Pekanbaru selesai salat Magrib. Selesai memperkenalkan diri dan tahu bahwa yang datang itu masih keponakannya, Mak Firdaus spontan mengatakan: “Ini anak “Basofi Soedirman” jauh-jauh datang dari Jakarta, ya?” tanya Firdaus.

Basofi Sudirman yang dimaksudkan itu adalah teman Firdaus Malik yang waktu itu menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta Bidang Pemerintahan (1987-1992). Terakhir Basofi Soedirman jadi Gubernur Jawa Timur (1993 – 1988).

“Sebelum cerita, ayo kita menyanyi dulu!” ujar Firdaus Malik. Adalah kebiasaan dalam keluarga mamaknya itu menyanyi bersama untuk melepaskan lelah setelah seharian penat bekerja. Ada karaoke di ruang keluarganya. Mengalirkan lagu Basofi Soerdiman berjudul “Tidak Semua Laki-Laki” yang lagi hit dan sering dinyanyikan di televisi waktu itu.

Arnida mengakui kini setiap mendengar “Tak Semua Laki-laki” itu, dirinya selalu teringat dan memanjatkan doa untuk almarhum mamak Fir nya itu. “Bagaimanapun, Mamak Fir adalah orang yang berjasa dalam hidup saya selain kedua orang tua, suami, anak, saudara mara dan orang-orang yang tak mungkin saya sebutkan satu persatu pada kesempatan ini tentunya,” ujarnya mengenang.

Selesai menyanyikan lagu itu, barulah Firdaus Malik mendengarkan apa hasrat yang hendak disampaikan “tamu tak diundang”yang baru pulang dari “kampung” Basofi Soedirman, Jakarta tersebut. Di situlah mamak Fir memberikan pesan untuk dirinya. Yakni, salat jangan tinggal, tidak boleh takabur, tak boleh sombong, dan berbaik sangkalah pada semua orang.

Pesan itu kata Arnida sangat menarik karena disampaikan sesuai dengan pengalaman pribadi mamaknya yang dibumbui dengan cerita lucu dan menggemaskan. Misalnya cerita ketika mamaknya pergi naik haji ke Tanah Suci, Mekkah. Sebagai seorang insinyur teknik sipil, Mamak merasa bisa menghitung berapa jumlah dan di mana posisi tiang yang ada di Mesjidil Haram yang begitu luas itu.

Namun dugaannya keliru. Ketika keluar Mesjid Haram dan masuk lagi mencari istrinya Hayati ternyata tak jumpa. Dari situlah timbul kesadarannya bahwa dirinya sudah sombong. Mamak lalu berdoa dan istigfar memohon ampun kepada Allah Swt. Ternyata sang istri yang dicari tak jauh berada dari tiang tempat tadi ditinggalkan. Itulah kuasa Allah yang di luar dugaan manusia.

“Dari situlah, Mamak Fir belajar hidup ini tak boleh sombong, takabur, dan berburuk sangka.Hhindari sifat SMS: Susah Melihat orang Senang atau Senang Melihat orang Susah,” pesan Firdaus Malik kepada Arnida.

Pesan itu kata Arnida selalu disampaikan Fir Malik bukan hanya kepada dirinya seorang. Tapi kepada sesiapa saja tetamu, apalagi saudara mara dari Kuantan Singingi yang datang ke rumahnya. Pesan serupa ia sampaikan dipelbagai kesempatan mana saja ada waktu dan bersua.

“Pesan mamak Fir itu membekas hingga kini ke hati sanubari kami yang paling dalam,” kenang istri Ketua Umum Ikatan Warga Kuantan Singingi Tanjungpinang-Bintan, Kepri Hz. Dadang AG ini.

Selain itu Azirman mengenang, Firdaus Malik rajin mengumpulkan keluarganya saat pulang kampung di Baserah. Biasanya kumpul pada hari ke enam setelah perayaan Idul Fitri di Surau Engku Putih di Desa Kepala Pulau, Kuantan Hilir. Terkadang keluarga besar menyembelih sapi atau kambing untuk makan bersama dengan warga sekitar.

“Di surau itulah pertemuan antara anak, kemenakan, dan cucu melepas rindu. Di situ pula Mak Fir memberikan nasehat sambil bercanda dan bergurau. Betapa indahnya silahturahim itu,” kenang Azwirman.

Firdaus Malik memang sudah tiada.. Namun jasanya yang mengayomi dan senyumannya yang memikat di hati tidak akan kami lupakan sepanjang hayat. *)

 

Penulis: Sahabat Jang Itam: 1382025

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

HPN 2026, Polres Karimun dan PWI Berbagi, Dibalik Seragam dan Pena Ada Empati Luar Biasa

9 Februari 2026 - 12:15 WIB

LAMR Tindaklanjuti Penolakan Relokasi Eks TNTN di Wilayah Adat Cerenti, Kuansing

8 Februari 2026 - 17:46 WIB

Yusri, S. IP, Unggul 64 Suara dari 2 Kandidat Lain

7 Februari 2026 - 10:09 WIB

Polsek Kundur/Ungar Bersama Uspika Goro di Lokasi Rawan Lakalantas KM 8 Tanjungbatu Barat

6 Februari 2026 - 17:09 WIB

Diskominfo Anambas Gelar Coffee Morning Bersama Media, Perkuat Sinergitas dan Silaturahmi

31 Januari 2026 - 10:48 WIB

Trending di Uncategorized