Menu

Mode Gelap
Bupati Afni: Progres Jalan Inpres Pinang Sebatang Barat–Muara Kelantan Sudah 15 Persen Tahun ini Baru Jembatan Selat Akar yang Dianggarkan Pemprov Riau Bupati Kepulauan Meranti Perjuangkan Perbaikan Jembatan dan Jalan Provinsi di DPRD Riau Nada Salsabila Kamil di Undang Podcast RRI Atas Prestasinya HPN 2026, BNNK Tanjungpinang Hadirkan Edukasi Rehabilitasi Narkotika untuk Masyarakat Tiga Polisi Aktif Diduga Terlibat Pesta Narkoba, Kapolres Bengkalis: Tak Ada Ampun, Semua Ditindak Tegas

Ragam

M. Yusuf (1917-1990): Tukang Pangkas Legend dari Sentajo Raya

badge-check


					M. Yusuf Perbesar

M. Yusuf

Berladang sedikit memberi makan
Berladang banyak menambah utang
Ketika ada jangan dimakan
Kalau tak ada baru dimakan

PITUAH itu disampaikan M. Yusuf sebelum dipanggil Yang Maha Kuasa kepada salah seorang cucunya Sabaruddin yang akrab disapa Sabar Pendek. “Sekilas pituah itu terkesan biasa, tanpa arti, dan makna. Tapi jika direnungi secara mendalam maknanya ruaaaaaar biasa,” ujar Sabar.

Ibarat peribahasa: “tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan.” Begitulah ingatan Sabar terhadap pituah orang yang dihormatinya itu. Baginya, Yusuf tak hanya sekedar orang tua, tapi juga guru yang menjadi tempat belajar makna hakiki dari sebuah kehidupan.

Semasa hidup Yusuf merupakan tukang pangkas rambut legend pada zamannya di Kenegerian Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, Kuantan Singingi, Riau. Dia menekuni profesinya itu sejak 1937 hingga 1989. Artinya profesi itu ditekuni sejak 52 tahun tanpa henti.

“Tak terhitung berapa banyak orang yang menggunakan jasanya sebagai tukang pangkas,” ujar Sabar yang kini menjadi penggiat budaya di Sentajo. Bersama Sukardiman, Yulisman, Maaslubis, Ismeth, dan kawan-kawan, Sabar giat menggalakan kembali tradisi “babidal” ala Sentajo yang sempat hilang.

Semula Yusuf menyewa kedai milik Jamal sebagai tempat pangkas rambut. Namun seiring perjalanan waktu kedai yang semula disewa itu dibelinya. Sekarang, kedai sudah roboh. Namun tapaknya masih bisa dilihat.

Sepanjang hidupnya Yusuf tak pernah beralih dari profesi ini. Tak pernah bertani atau menjadi penyadap karet seperti rekan-rekan seusianya. Dia cinta mati dengan profesinya ini kendati dia punya keahlian lain sebagai tukang kayu.

Dan, sebagai tukang pangkas rambut yang istimewa dari Yusuf adalah peralatan pangkas yang lengkap. Ada kursi besi berputar buatan Jerman. Ada pula kursi kayu yang dimodifikasinya sendiri.

Yang istimewa ada pula jam berukuran besar buatan Inggris yang bunyi dentingnya kendengaran dari jarak 100 meter. Sayang, benda yang tergolong antik dan unik itu sudah dijual anaknya Yusman.

Sepeda ontel releight yang selalu menemani Yusuf semasa hidup juga dijual anaknya Yusman. Yang behasil diselamatkan atau disimpan hanya peralatan pangkas. “Saya tak kan pernah menjualnya. Ini adalah kenangan bersejarah yang harus saya selamatkan,” ujar Sabar.

Sabar yang nikah dengan cucu Yusuf dan Sari Nilai bernama Mulyanisda menyimpan dalam kotak yang dititipkan Yusuf kepadanya. Lama tak dibuka ternyata dalam kotak itu ditemukan uang recehan logam keluaran Bank Indonesia tahun 1971.

Ada uang 25 uang 50 rupiah warga kuning berlambang binatang komodo. Ada juga uang logam 100 rupiah bergambar rumah adat Minang Kabau. Uang itu sekarang susah ditemukan dan menjadi koleksi para filatelis.

“Besar kemungkinan uang itu upah pangkas rambut yang disisihkan Datuk Yusuf saat masih hidup. Datuk memang terbiasa menabung dalam hidupnya,” ujar Sukardiman rekan M. Sabar menimpali.

Semasa menekuni profesinya sebagai tukang pangkas rambut, Yusup punya kebiasaan menyisihkan atau menabung upah yang diperolehnya. Misalnya dalam sehari dia dapat penghasilan 1000 rupiah, 100 rupiah disimpannya sebagai tabungan. Uang itu disimpannya di kotak alat tempat menyimpan perkakas gunting.

YUSUF adalah anak tunggal dari pandangan Midu dan Hadi’ah. Dia lahir di Kolang, Malaysia. Ketika umur tujuh bulan Yusuf kecil dibawah pulang ke Sentajo karena kondisi ibunya Hadi’ah yang kena penyakit lumpuh. Makanya orang mengenal Sentajo lebuh mengenal ibu Yusuf dengan sebutan Diah Lumpuh.

Dalam perjalanan Yusuf nikah dua kali yakni dengan Rasa dan Sari Nilai. Dari pernikahan itu dia punya sembilan orang anak. Yakni lima anak dari Rasa yakni Yusnidar, Darmawan, Darmisah, Darlis, dan Darnis. Sedangkan dari Sari Nilai suku Melayu punya empat anak yakni Rosni alias Ondon, Yusman, Darwin, dan Afrida.

Yusuf memang sudah meninggal dunia. Patah tumbuh hilang berganti. Silih berganti generasi penerusnya seperti Thamrin di Koto, Agut Ronte dan Anto di Kampung Baru serta Mastian dari Muaro. Namun, sebagai tukang rambut legend namanya tidak tergantikan.

Yusuf adalah pribadi santun yang sangat mengayomi dan menyanyangi keluarga, anak, dan cucunya. Juga seorang guru yang pantas diguru, ditiru, dan tak pernah mengurui. Pribadi yang pantas diteladani karena kesederhanaan dan kecintaan terhadap profesinya.

Penulis: Sahabat Jang Itam

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

BRK Syariah Perkuat Peran sebagai Mitra Strategis Daerah, Buka Peluang Pembiayaan Pembangunan Kuansing

9 Januari 2026 - 17:01 WIB

Bang Dalmasri, Jejak Panjang Pengabdian Seorang Politisi

25 Desember 2025 - 08:11 WIB

Perang AI di Kotak Masuk: Gmail Perketat Keamanan, Pengguna Diminta Tak Lagi Pasif Hadapi Penipuan Email

23 Desember 2025 - 07:20 WIB

BRK Syariah Resmikan Kantor Baru di Baserah, Perkuat Layanan Perbankan Syariah Enam Kecamatan di Kuansing

22 Desember 2025 - 15:00 WIB

Engku Lomah Mudahi (1907-1991): Pejuang “Mata Pena” dari Kuantan Singingi

9 Desember 2025 - 12:35 WIB

Trending di Kuansing