Menu

Mode Gelap
Bupati Afni: Progres Jalan Inpres Pinang Sebatang Barat–Muara Kelantan Sudah 15 Persen Tahun ini Baru Jembatan Selat Akar yang Dianggarkan Pemprov Riau Bupati Kepulauan Meranti Perjuangkan Perbaikan Jembatan dan Jalan Provinsi di DPRD Riau Nada Salsabila Kamil di Undang Podcast RRI Atas Prestasinya HPN 2026, BNNK Tanjungpinang Hadirkan Edukasi Rehabilitasi Narkotika untuk Masyarakat Tiga Polisi Aktif Diduga Terlibat Pesta Narkoba, Kapolres Bengkalis: Tak Ada Ampun, Semua Ditindak Tegas

Ragam

Hasan Arifin (1916-1969): Konsul Muhammadiyah Riau di Indragiri Asal Kuantan Singingi

badge-check


					Hasan Arifin Perbesar

Hasan Arifin

MUHAMMADIYAH adalah bagian dari sejarah Indonesia. Kontribusinya sebagai pembawa modernitas dalam Islam tidak bisa dianggap enteng. Di tangan pendirinya, KH. Ahmad Dahlan, Muhammadiyah menjadi ormas Islam terbesar di Indonesia.

Muhammadiyah tidak hanya mengusung paham agama Islam tetapi juga turut memajukan bidang pendidikan. Terutama dalam memberantas keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan di kalangan penduduk pribumi.

Muhammadiyah berjuang memerangi praktik mistik sekaligus mengentaskan kemiskinan masyarakat pribumi akibat penjajahan Belanda. Tak ayal organisasi yang berdiri pada 1912 ini berkembang pesat sampai ke pelosok Indonesia.

Di Kuantan Singingi, tepatnya di Kecamatan Kuantan Mudik ada sosok yang berjasa mengembangkan Muhammadiyah. Sosok dimaksud adalah Hasan Arifin dari Desa Banjar Padang, Kecamatan Kuantan Mudik, Kuantan Singingi, Riau. Intelektual Muhammadiyah yang lebih dikenal dengan sapaan Hasan Konsol atau Buya Konsol lahir pada 1916.

Bersama kawan seperjuangannya: Ibad Amin, Sulaiman Khatib, Dasin Jamal, Raja Ibrahim, Saad Manan, Arsyad, dan lainnya, Hasan Arifin mengembangkan dakwah Muhammadiyah di Kuantan Mudik. Dan, dari sini dakwahnya berkembang hingga Talukkuantan, Sentajo, Benai, Pangian, Baserah, Cerenti, Inuman hingga Indragiri.

Namun perjalanan Muhammadiyah tak seindah yang dibayangkan. Dalam situasi berkecamuk pada masa pendudukan Jepang, Ketua PP Muhammadiyah Ki Bagus Hadikusuma memberikan mandat kepada Hasan Arifin menjadi Konsul Muhammadiyah Riau di Indragiri pada 1943.

Dalam tekanan Jepang yang terkenal tanpa kompromi itu pada 1944 Hasan Arifin ditangkap. Ia ditangkap karena memilih sikap non kooperasi alias tak mau kerjasama dengan Jepang. Sejumlah tokoh Muhammadiyah juga ditangkap seperti Umar Usman dan Jamal Lako Sutan asal Telukkuantan, Kecamatan Kuantan Tengah.

Dalam masa tahanan Jepang itulah Hasan Arifin mendapat tugas khusus membantu dokter Jepang mengobati tahanan yang kena berbagai jenis penyakit. Ia dipercaya menyuntik tahanan yang sakit. Dan, ilmu kesehatan selama ditahan Jepang itu bermanfaat dalam perjalanannya.

Ketika Jepang menyerahkan diri kepada Sekutu tahun 1945, Hasan Arifin dan kawan-kawan dibebaskan. Dan, setelah bebas ia kembali mengembangkan dakwah Muhammadiyah yang sempat terputus akibat ditahan Jepang.

Pada awal kemerdekaan Hasan Arifin ditunjuk sebagai Ketua Partai Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) Ranting Kecamatan Kuantan Mudik. Jabatan itu diamanahkan langsung oleh Buya HAMKA – tokoh politik Masyumi dan Muhmamdiyah yang juga mentornya.

Partai beridiologi Islam ini pula yang mengantarkan Hasan Arifin menjadi anggota parlemen (kini DPRD) Kabupaten Indragiri yang berkedudukan di Rengat. Dan, ketika terjadi gejolak antara PRRI dengan Pemerintah Pusat, Hasan Arifin memihak PRRI.

Akibat sikapnya itu, Hasan Arifin dan tokoh Muhammadiyah lainnya yang pro PRRI di Kuantan Mudik dicari pasukan RPKAD yang melakukan operasi 17 Agustus.

Hasan Arifin dan Sulaiman Khatib berhasil “melarikan” diri. Rekannya Ibad Amin hilang tanpa jejak.

Semasa hidup Hasan Arifin menikah dengan Raja Jomiah dan Siti Hajar. Dari Jomiah anaknya adalah: Rohanis Hasan, Khairati Hasan, Yuslim Hasan, Niswati Hasan, Zulfarida Hasan. Sedangkan dari Siti Hajir ankanya hanya satu orang anak yakni Yasni Hasan yang berdomisili di Desa Banjar Padang.

Hasan meninggal pada 1969 dalam usia 53 tahun di Telukkuantan. Ia meninggal karena penyakit asma yang menyerang dirinya ketika melaksanakan misi dakwah (pengajian) di Telukkuantan. Tepatnya di mesjid Muhammadiyah yang menjadi cikal berdirinya Mesjid Makkah Telukkuantan di Jl. Ahmad Yani, Koto Taluk, Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.

“Menurut cerita ibu, tiba-tiba saja saat pengajian napas Datuk sesak dan dadanya sakit. Datuk memang mempunyai riwayat penyakit asma. Datuk sempat mengobati dengan menyuntik dirinya sendiri,” ujar salah seorang cucunya Alkhalis.

Beberapa hari setelah dirawat di rumah adiknya di Telukkuantan, Hasan Arifin meninggal dunia. Masing-masing keluarganya berkeinginan jenasah orang yang mereka cintai itu dikuburkan di tempat atau kampung halaman mereka masing-masing.

Keluarga Hasan Arifin terpencar di tiga lokasi berbeda. Yakni Telukkuantan, Banjar Padang, dan Bukit Kauman. Di tiga lokasi tersebut masing-masing keluarga sudah menyiapkan kuburan untuk orang yang mereka sayangi itu.

Ketiga daerah tersebut punya sejarah dalam kehidupan Hasan Arifin. Telukkuantan daerah asal orang tuanya. Banjar Padang tempat lahirnya. Sedangkan Bukit Kauman tempat tinggal bersama anak-anak dan istri pertamanya: Raja Jomiah.

Namun dengan pertimbangan yang matang dan rembuk keluarga disepakati Hasan Arifin dimakamkan di Bukit Kauman. Pertimbangannya adalah: Pertama, Bukit Kauman adalah tempat tinggal Hasan Arifin bersama ana-anak dan istri pertamanya. Kedua, di Bukit Kauman itu Hasan Arifin merintis dan mengembangkan organisasi Muhammadiyah.

Setelah kata sepakat, jenasah Hasan Arifin dibawah jalan kaki secara estafet dari Telukkuantan ke rumah duka di Bukit Kauman. Route perjalanan itu dimulai dari Telukkuantan – Kari – Gunung – Banjar Padang – Bukit Kauman.

Cucu Hasan Arifin, Alhalis mencoba mengambarkan kembali cerita perjalanan jenasah datuknya hingga sampai ke rumah duka di Bukit Kauman. Cerita itu bersumber dari ibunya Rohanis Hasan.

“Bagaimana kisahnya?”

Inilah kutipannya:

“SAAT Datuk meniggal dunia, saya masih dalam kandungan. Ibu tinggal bersama Nenek Raja Jomiah di Bukit Kauman, Kuantan Mudik. Ketika mendengar kabar Datuk meninggal dunia, Nenek tak percaya mendengar kabar duka itu. Sebab, ketika pergi ke Telukkuantan, Datuk dalam keadaan sehat wal’afiat. Namun ketika pulang, datuk sudah tiada.

Siapa yang tak terkejut?

Ketika diajak menjemput Datuk ke Talukkuantan, Nenek tak berdaya. Nenek mengutus anak bungsunya Zulfarida Hasan ikut mendampingi keluarganya yang lain menjemput jenasah suaminya ke Telukkuantan. Sang anak yang masih sekolah di Madrasah Mua’llimin Muhammadiyah (MMM) Lubuk Jambi tak kuasa menolak. Ia berangkat sembari membawa pesan sang nenek agar Datuk di makamkan di Bukit Kauman.

Sebagai tokoh penting Muhammadiyah, banyak yang menawari tumpangan mobil untuk membawa jenasah Datuk. Namun, warga Muhammadiyah menolak tawaran yang sudah disiapkan tersebut. Masyarakat berkeinginan secara bergantian memikul jenazah Datuk sampai ke peristirahatan terakhirnya di Bukit Kauman. Ini adalah bukti cinta mereka terhadap Datuk yang membesarkan Muhammadiyah di Kuantan Mudik.

Perjalanan sepanjang 25 Km memakan waktu sekitar tiga jam. Warga bergantian mengangkat keranda jenasah datuk. Peluh, keringat, dahaga, dan rasa lapar tentu mereka rasakan. Namun karena kecintaan kepada Datuk, semuanya tidak terasa.

Setelah sampai di rumah duka di Bukit Kauman Datuk disemayamkan sejenak untuk disalatkan lalu diantar ke tempat peristirahatan terakhir di belakang rumah Datuk di Bukit Kauman. Datuk di makamkan 200 meter dari Mesjid Muhammadiyah Bukit Kauman. Kini makam Datuk dirawat oleh anaknya Zulfarida Hasan.

Sementara tokoh Muhammadiyah Kuantan Mudik, Joyosman Datuk Umar punya kisah tentang arak-arakan jenazah Buya Hasan Arifin ini. Ini kutipannya

Ketika arak-arakan jenasah Buya Hasan, saya bersama warga lainnya ikut menyaksikan dari seberang sungai Kuantan. Betapa tingginya antusias masyarakat menyambut kedatangan jenazah Buya Hasan.

Jenasah Buya Hasan ditandu secara estapet hingga ke peristirahatan terakhir di Bukit Kauman. Perjalanan panjang itu mungkin saja melelahkan. Tapi rasa cinta kepada Buya Hasan mengalahkan segala-galanya.

Saya tak sempat menghitung berapa jumlah masyarakat yang menyaksikan iring-iringan keranda Buya Hasan. Yang pasti masyarakat tumpa ruah. Dari kejauhan kami samar-samar melihat orang yang ikut mengantar Buya Hasan itu menghilang…. menghilang dan lalu menghilang.

Ingin rasanya saya menyebrangi sungai Kuantan mengiringi dan mengantarkan jenasah Buya Hasan sampai ke tempat peristirahatannya. Tapi apa daya, Yang Kuasa berkehendak lain.

Buya Hasan pergi meninggalkan sejuta kenangan kepada ummatnya. Kendati pernah dituduh pro PRRI oleh Pemerintah Pusat namun kecintaan masyarakat terhadapnya tak pernah luntur.

Di usia yang makin menua ini saya hanya bisa mengambarkan:
Tuah sakti hamba negeri
Esa hilang dua terbilang
Patah tumbuh hilang berganti
Tak Melayu hilang di bumi.

Saya bangga kiprah Buya Hasan dalam mengembangkan Ormas Muhammadiyah dilanjutkan cucunya Al Halis dan Masdian. Keduanya murid saya ketika mereka sekolah di SMA Lubuk Jambi, Kuantan Mudik.

Selamat jalan Buya. *)

 

Penulis: Sahabat Jang Itam:17082025

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

BRK Syariah Perkuat Peran sebagai Mitra Strategis Daerah, Buka Peluang Pembiayaan Pembangunan Kuansing

9 Januari 2026 - 17:01 WIB

Bang Dalmasri, Jejak Panjang Pengabdian Seorang Politisi

25 Desember 2025 - 08:11 WIB

Perang AI di Kotak Masuk: Gmail Perketat Keamanan, Pengguna Diminta Tak Lagi Pasif Hadapi Penipuan Email

23 Desember 2025 - 07:20 WIB

BRK Syariah Resmikan Kantor Baru di Baserah, Perkuat Layanan Perbankan Syariah Enam Kecamatan di Kuansing

22 Desember 2025 - 15:00 WIB

Engku Lomah Mudahi (1907-1991): Pejuang “Mata Pena” dari Kuantan Singingi

9 Desember 2025 - 12:35 WIB

Trending di Kuansing