Menu

Mode Gelap
Bupati Afni: Progres Jalan Inpres Pinang Sebatang Barat–Muara Kelantan Sudah 15 Persen Tahun ini Baru Jembatan Selat Akar yang Dianggarkan Pemprov Riau Bupati Kepulauan Meranti Perjuangkan Perbaikan Jembatan dan Jalan Provinsi di DPRD Riau Nada Salsabila Kamil di Undang Podcast RRI Atas Prestasinya HPN 2026, BNNK Tanjungpinang Hadirkan Edukasi Rehabilitasi Narkotika untuk Masyarakat Tiga Polisi Aktif Diduga Terlibat Pesta Narkoba, Kapolres Bengkalis: Tak Ada Ampun, Semua Ditindak Tegas

Riau

Hormat Pada Tanah Air di Tanah yang Terbakar

badge-check


					Petugas gabungan BPBD Riau dan Rohil saat melaksanakan hormat bendera. Perbesar

Petugas gabungan BPBD Riau dan Rohil saat melaksanakan hormat bendera.

RiauKepri.com, PEKANBARU- Rasa patriotisme petugas BPBD menyala. Keterbatasan tak membatasi mereka hormat pada tanah air di tanah yang terbakar karena kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Tak ada derap langkah pasukan Paskibraka. Tak ada gema lagu kebangsaan menghentak pagi. Yang ada hanya desau angin, bau asap, dan bendera merah putih yang tergantung lesu di ujung tiang kayu bekas terbakar. Di sanalah, di tengah lahan hangus yang masih berasap, detik-detik proklamasi 17 Agustus tetap disambut, bukan dengan kemeriahan, tapi dengan keteguhan hati yang nyaris dibunuh sunyi.

Hari itu, Ahad, 17 Agustus 2025, pukul 10.00 WIB. Di tengah padang terbakar Padamaran, Kecamatan Pekaitan, Rokan Hilir, Riau, tim gabungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau dan Kabupaten Rohil berdiri tegak berseragam pemadam kebakaran, berbaris rapi. Mereka hanya berjumlah 24 orang, dengan sepatu yang kotor dan seragam yang bau asap dan keringat. Tapi ketika Ketua Tim Abdul Razak, SH, M.IP memberi aba-aba, semua memberi hormat ke arah bendera yang ditancapkan di tanah hangus.

Tak ada upacara resmi, karena tak sempat. Sudah 20 hari mereka bolak-balik ke lokasi Karhutla, menempuh 7 kilometer dari camp dengan sepeda motor. Tak ada jaringan komunikasi. Tak ada pengeras suara. Tak ada panitia. Hanya niat dan sedikit waktu untuk menghormati tanah air, di tengah medan yang setiap saat bisa terbakar kembali.

“Kami hanya bisa hormat bendera di lokasi Karhutla. Tidak bisa melaksanakan apel seperti biasa. Tidak bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya karena keterbatasan,” kata Abdul Razak, tenang, namun suaranya nyaris tenggelam oleh hembusan angin panas.

Mereka bukan tak ingin merayakan. Mereka hanya tak punya kemewahan itu. Tapi mungkin, justru di sanalah makna kemerdekaan itu hidup. Di tanah yang tak sempat dirayakan, di tengah api yang tak mudah padam, dan di dada para petugas yang tak pernah menyerah. (RK1)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bupati Afni: Progres Jalan Inpres Pinang Sebatang Barat–Muara Kelantan Sudah 15 Persen

21 Januari 2026 - 20:40 WIB

Tangis Norma Pecah di Pekanbaru, Pasutri Korban Mafia Tanah di Meranti Mencari Keadilan

20 Januari 2026 - 12:06 WIB

Selamatkan Ribuan Honorer Non ASN, Ini Langkah Terukur dari Pemkab Siak

18 Januari 2026 - 17:36 WIB

K.H. Muhammad Mursyid Hadiri Milad Muhammadiyah ke-113 di Kuok, Tekankan Pentingnya Ukhuwah dan Peran Ormas untuk Kemajuan Daerah

18 Januari 2026 - 14:30 WIB

Menampi Dedap

18 Januari 2026 - 09:43 WIB

Trending di Meranti