RiauKepri.com, PEKANBARU- Rasa patriotisme petugas BPBD menyala. Keterbatasan tak membatasi mereka hormat pada tanah air di tanah yang terbakar karena kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Tak ada derap langkah pasukan Paskibraka. Tak ada gema lagu kebangsaan menghentak pagi. Yang ada hanya desau angin, bau asap, dan bendera merah putih yang tergantung lesu di ujung tiang kayu bekas terbakar. Di sanalah, di tengah lahan hangus yang masih berasap, detik-detik proklamasi 17 Agustus tetap disambut, bukan dengan kemeriahan, tapi dengan keteguhan hati yang nyaris dibunuh sunyi.
Hari itu, Ahad, 17 Agustus 2025, pukul 10.00 WIB. Di tengah padang terbakar Padamaran, Kecamatan Pekaitan, Rokan Hilir, Riau, tim gabungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau dan Kabupaten Rohil berdiri tegak berseragam pemadam kebakaran, berbaris rapi. Mereka hanya berjumlah 24 orang, dengan sepatu yang kotor dan seragam yang bau asap dan keringat. Tapi ketika Ketua Tim Abdul Razak, SH, M.IP memberi aba-aba, semua memberi hormat ke arah bendera yang ditancapkan di tanah hangus.
Tak ada upacara resmi, karena tak sempat. Sudah 20 hari mereka bolak-balik ke lokasi Karhutla, menempuh 7 kilometer dari camp dengan sepeda motor. Tak ada jaringan komunikasi. Tak ada pengeras suara. Tak ada panitia. Hanya niat dan sedikit waktu untuk menghormati tanah air, di tengah medan yang setiap saat bisa terbakar kembali.
“Kami hanya bisa hormat bendera di lokasi Karhutla. Tidak bisa melaksanakan apel seperti biasa. Tidak bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya karena keterbatasan,” kata Abdul Razak, tenang, namun suaranya nyaris tenggelam oleh hembusan angin panas.
Mereka bukan tak ingin merayakan. Mereka hanya tak punya kemewahan itu. Tapi mungkin, justru di sanalah makna kemerdekaan itu hidup. Di tanah yang tak sempat dirayakan, di tengah api yang tak mudah padam, dan di dada para petugas yang tak pernah menyerah. (RK1)







