RiauKepri.com, BINTAN — Jumat pagi itu, halaman luas Kawasan Industri PT BIIE Lobam dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada yang datang dengan map biru berisi ijazah dan CV, ada pula yang berseragam rapi, sesekali menyeka keringat meski angin laut Bintan berhembus. Di balik senyum gugup mereka, tersimpan satu mimpi yang sama: pekerjaan.
Job Fair 2025 yang digelar Pemerintah Kabupaten Bintan bukan sekadar ajang tahunan mencari lowongan. Bagi banyak anak muda, ini adalah pintu pertama menuju masa depan. Sebut saja Rina, lulusan SMK Pariwisata di Bintan Utara, yang sejak pukul tujuh pagi sudah berdiri di depan stan hotel internasional. “Saya ingin kerja di hotel, bisa belajar bahasa asing, siapa tahu bisa berkarier lebih tinggi,” ucapnya dengan mata berbinar.
Di sisi lain, tampak Arif, penyandang disabilitas yang datang bersama ayahnya. Tahun ini ia tidak sekadar menonton seperti tiga tahun lalu. Untuk pertama kalinya, Job Fair Bintan membuka Unit Layanan Disabilitas. “Saya ingin membuktikan bahwa kami juga bisa bekerja dan mandiri,” kata Arif, sambil menggenggam formulir pendaftaran.
Bupati Bintan, Roby Kurniawan, yang membuka kegiatan tersebut, menyebut Job Fair sebagai bagian nyata dari misi pembangunan daerah: membentuk “SDM Juara” yang unggul, sejahtera, dan berdaya saing. Angka pengangguran terbuka di Bintan kini hanya 4,53 persen—turun drastis dari 8,62 persen pada 2021. “Ini buah kerja bersama, dari pelatihan hingga peluang kerja. Job Fair hanyalah salah satu jalannya,” ujar Roby.
Lebih dari 900 lowongan dari 24 perusahaan dibuka: mulai industri elektronik, pariwisata, perhotelan, hingga manufaktur. Namun, yang membuat Job Fair 2025 terasa berbeda adalah ekosistem yang dibangun. Disnaker menghadirkan bimbingan jabatan, Disdukcapil memudahkan pencari kerja memperbarui dokumen, dan BPJS Ketenagakerjaan memberi edukasi soal perlindungan kerja. Semua terintegrasi dalam satu ruang, seperti pasar kesempatan yang inklusif.
Job Fair bukan hanya tentang kertas lamaran dan wawancara singkat. Ia adalah ruang perjumpaan: antara harapan anak muda, kebutuhan industri, dan tanggung jawab pemerintah. Antara mimpi seorang lulusan SMK yang ingin jadi hotelier, hingga perjuangan penyandang disabilitas yang menolak dipinggirkan.
“Job Fair ini bukan sekadar mencari pekerjaan, tapi menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang inklusif dan berorientasi masa depan,” tegas Roby. Kata-kata itu menggema, bukan hanya di podium, tapi juga di hati ratusan pencari kerja yang hari itu membawa pulang sesuatu yang lebih berharga dari sekadar brosur lowongan—yakni keyakinan bahwa masa depan mereka punya ruang di Bintan. (RK9)







