PENDIDIKAN di Kuantan Singingi tidak pernah habis untuk dibahas. Ibarat pepatah: Patah tumbuh hilang berganti. Esa hilang dua terbilang.
Kuantan Singingi merupakan penghasil guru di Riau. Tak terhitung berapa jumlah dan daerah mana saja penyebarannya. Salah satu guru yang melegenda adalah OEMAR dari Kenegerian Kopah, Kecamatan Kuantan Tengah, Kuantan Singingi, Riau.
Lahir Sentajo tahun 1922. Oemar sudah menjadi guru sejak zaman penjajahan Belanda, Pendudukan Jepang Jepang sampai zaman kemerdekaan RI. Oemar termasuk guru yang mendidik anak muridnya dalam merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan di Kuantan Singingi.
Oemar menjalani pendidikan Sekolah Rakyat (SR) dan Sekolah Guru Bawah (SGB) pada zaman penjajahan di Telukkuantan. Setamat SGB, dia mengikuti kursus pendidikan guru di Rengat. Setelah itu dia diangkat menjadi guru. Penugasan pertamanya adalah di SR Batu Rijal, Indragiri Hulu.
Kemudian saat Indonesia merdeka, dia pindah ke Rantau Kuantan (kini Kuantan Singingi) dan mengajar di SD Kenegerian Kopah. Kini SD itu bernama SD Negeri 016 Kopah. Rekannya sesama guru di SD tersebut adalah: Abdul Kasim, Ibrahim, Abdul Lamad, Timah Rakina, Asrida, Yustalamat, Umar Kasim, dan Erman Wahab.
Setelah itu, Oemar pindah ke SD Negri 03 Sentajo yang kini berubah nama menjadi SD 022 Negeri Pulau Kopung Sentajo, Kecamatan Kuantan Sentajo Raya.
Di SD tersebut Oemar mengajar bersama rekannya Jamaluddin, Sulin, Talamas, Raidin, dan Idris. Dia pensiun sebagai pegawai negeri sipil 1980 di SD 003 Negeri Sentajo dengan jabatan terakhir Kepala Sekolah.
Sebagai pendidik, ciri yang melekat pada diri Oemar yang diingat masyarakat adalah postur tubuhnya yang kurus tinggi menjulang, hampir dua meter. Dia digelari juga Oemar Tenggi. Sebagai guru “jadul” alias jaman doeloe. Sebagai guru lainnya waktu itu Oemar punya kemampuan dalam menggunakan bahasa Belanda dan Jepang.
SEMASA hidup, Oemar tinggal di Kenegerian Kopah. Ketika Kopah dimekarkan tahun 1976 jadi enam desa yakni Kopah, Jaya, Munsalo, Koto Tuo, Titian Modang, dan Pulau Baru, dia tinggal di Desa Jaya.
Semasa hidup Oemar tinggal bersama istrinya Jariyah dan anak-anaknya: Sofyan lahir pada 1952, Ermaini (1955), Armainis (1958), Erman (1961), Yusni (1964), dan Mainur (1968). Kemudian dari istri keduanya Timah Kidah yang tinggal di Desa Pulau Baru, Oemar punya anak: Bahril yang lahir pada 1960.
Kemudian dari pernikahan Ermaini dengan Mursal, Oemar punya cucu: Mery Arta, Elpadesi Angraini dan Herfina Dewi. Dari pernikahan Armainis dengan Masfar Karim punya cucu: Merdi Wijaya, Viktor Wiradinata.
Erman nikah dengan Khairani anaknya: Ihsan Saputra, Beni Indra Volta, dab Tri Susba Welly. Yusni nikah degan Ajisman anaknya adalah Hasnel Yurika, Bayu Isman, dan Yani. Sdangkan dari Mainur yang nikah dengan Erdison anaknya adalah: Elcye Apema dan Rahmadanti.
Kemudian dari istri keduanya Timah Kidah yang dinikahinya tahun 1959 tinggal di Desa Koto Tuo Kopah, Oemar punya anak: Bahril yang lahir pada 1960 nikah dengan Jusmawarti anaknya adalah: Desroani, Popi Indra, Trinola Sari, dan Julpadri.
Empat anak Oemar yakni Ermaini, Armainis, Erman, dan Yusni mengikuti jejaknya sebagai guru di kampung halamannya Kopah. Hanya anak bungsunya Mainur bekerja sebagai ibu rumah tangga. Sedangkan Bahrul bekerja sebagai pesuruh SD. Kini semua anak-anaknya sudah purna bhakti alias pensiun.
Oemar berasal dari Kenegerian Sentajo Suku Paliang Ujung Tanjung. Kerabat dekatnya di Sentajo adalah Siti Rama (Tirama), Rasa, Timahjoti, Ramah Kombuik, dan Rasyid.
Oemar meninggal dunia di Kopah pada 16 September 1983. Makamnya berdampingan dengan istrinya Jariyah yang meninggal pada 9 Oktober 2010 dan makam anaknya Erman yang meninggal pada 23 Mei 2005.
Makam Oemar persis di belakang rumahnya Jl. Simpang Empat Jaya Kopah. Sementara istri dan anaknya dimakamkan di pemakaman Kayu Kolek Kopah.
OEMAR memang sudah pergi untuk selama-lamanya. Dia pergi tidak meninggalkan harta yang melimpah. Dia hanya meninggalkan ilmu yang bermanfaat sebagai amal jariahnya yang terus mengalir bagaikan air tiada henti.
Kerja keras, loyalitas tanpa batas, dan pengabdiannya terhadap dunia pendidikan pantas diapresiasi. Kendati semua itu tidak dimintanya.
Selamat jalan pahlawanku, pahlawan kita semua. Jasamu tidak akan bisa kami bayar walau dengan segunung emas sekalipun.
Naskah: Sahabat Jang Itam: 27082025







