Menu

Mode Gelap
Sambut Ramadhan 1447 H, PKK dan Kader Posyandu Isi Tausiyah dan Salurkan Paket Sembako Dua Pria Nekat Garap Hutan Lindung TWA Sungai Dumai Jadi Kebun Sawit Polsek Rangsang Bantu Korban Kebakaran Rumah Hanya Tiga Perusahaan Resmi Tambang Pasir di Bintan, Selain Itu Illegal Jemput Bola ke Pulau-Pulau, Imigrasi Selatpanjang Luncurkan Program Limau 1500 Paket Habis Terjual dalam Pasar Murah AMT di Meranti

Ragam

Romansa Uni Tjurai (1) Masa-masa Indah Waktu Sekolah

badge-check


					Uni Tjurai Perbesar

Uni Tjurai

PENGANTAR:

Pada zaman Penjajahan Belanda dan Pendudukan Jepang tidak banyak kaum perempuan yang mengenyam pendidikan.  Namun  Uni Tjurai asal Kenegerian Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, Kuantan Singingi, Riau adalah pengecualiannya.

Bagaimana kisahnya, ikuti tulisan ini secara bersambung!

 

UNI TJURAI baca Curai  merupakan salah seorang tokoh emansipasi wanita,  pergerakan kemerdekaan, dan pendidikan di Rantau Kuantan – kini Kuantan Singingi. Tjurai terlahir sebagai anak pertama dari dua bersaudara pasangan H. Moehammad  Dien dan Siti Una. Tjurai lahir  pada 26  Januari 1926 di Sentajo ketika Belanda menjajah  Indonesia.

Bagi kebanyakan orang tua “tempoe doeloe” pendidikan bagi anak perempuan adalah tabu. Namun tidak bagi Dien yang punya pikiran beda. Dia memasukan anak sulungnya (Tjurai) ke Sekolah Rakyat (SR) Sentajo hingga lanjut ke  Sekolah Guru Bawah (SGB) di Telukkuantan. Kedua jenjang pendidikan itu dijalani Tjurai kurun waktu 1932 – 1943.

Selama menukuni dunia pendidikan, Tjurai adalah anak  yang rajin, mandiri, cerdas, dan tekun. Tiap hari dia pergi sekolah dengan sepeda relly  bersama orang tuanya.

Konon sepeda penuh sejarah itu tetap diboncenginya ketika mengajar pada 1945 di SR  Sentajo hingga pensiun pada 1 Februari 1982 di SD Negeri 2 Sentajo di Pulau Komang.

Sang ayah (Dien) punya kedai di Telukkuantan selalu setia mengantar dan menjemput Tjurai  ke sekolah. Jika hari  hujan mereka mencari daun pisang sebagai pelindung diri.  Inilah yang mungkin disebut “memori” daun pisang itu “tempoe doleloe.” Tjurai tumbuh menjadi anak yang matang diusianya  yang masih muda.

 

MASA sekolah adalah masa indah bagi  Tjurai dan teman seangkatannya.   Di antaranya ada Samad Thaha dari Benai, Raja Intan Djuddin (Simandolak), Muhammad Jusuf (Lubuk Jambi), Syamsuddin, M. Kasi Ripin  dan Hamid Yus (Sentajo), dan lainnya.

Dalam memoar sahabatnya  tokoh pendidikan Riau asal Kuantan Singingi,  Drs. H. Samad Thaha, M.B.A   menulis sedikit kisah tentang Tjurai yang mereka panggil Uni.

Inilah kutipannya yang disampaikannya tahun 1998 ketika masih sehat.

“Sewaktu sekolah di SGB Telukkuantan, kami punya sahabat perempuan asal Sentajo.  Kami memanggilnya Uni. Lengkapnya Uni Tjurai. Uni adalah panggilan untuk calon guru dari kalangan perempuan. Sedangkan laki-laki dipanggil Ongku atau Tongku.

Uni adalah sahabat kami dalam suka dan duka. Kami belajar bersama. Kami bersenda gurau “ala” anak muda tempo dulu.   Uni adalah teman kami yang paling cantik. Rambut hitam bergelombang  panjang tergerai di kepang dua. Tubuh tinggi semampai yang aduhai.

Uni  adalah sahabat kami yang istimewa, pintar,  bersahaja, tenang,  kalem, dan lembut. Uni disegani karena dia pandai menempatkan diri.   Pokoknya  Uni,  “ist the best” lah. Tak ada murid secantik Uni karena memang bisa dihitung murid perempuan ketika kami  sekolah.

Saat sekolah kami tidak mengenal kata “cinta” seperti zaman sekarang ini.  Namun ada di antara kami yang diam-diam mencintai  Uni.  Namun cinta itu tak tersampaikan. Tak usahlah disebutkan nama orangnya. Ehmm… lagian pula  itu kisah yang sudah lama.

Uni menamatkan SGB  tahun 1943 atau setahun setelah kedatangan tentara Jepang pada 1942 ke Indonesia.  Seharusnya setamat SGB, Uni langsung mengajar di SR.  Namun situasi yang mencekam, Uni baru mengajar pada 1945 di SR Sentajo yang bangun pada tahun 1940 dan diresmikan 1941.

 

Cinta Bersemi

SAAT perang dunia kedua (1942-1945)  kisah cinta  Tjurai bersemi. Adalah teman seperjuangannya, Raja Intan Djuddin yang menjodohkan  Tjurai dengan Zainal Abidin – lelaki ganteng kelahiran Simandolak 1921.

Dari jantung turun ke hati. Cinta pertama dan terakhir bagi  Tjurai dan Zainal Abdin.  Sang kekasih yang berkulit putih merupakan salah seorang aktivis pergerekkan pemuda kala itu.

Kendati berselisih umur enam tahun, namun tidak menghalangi cinta mereka.  Kalau cinta sudah bersemi, tahi kambing terasa coklat. Tapi jangan bandingkan kisah cinta mereka dengan zaman sekarang.  Cinta zaman perjuangan juga penuh dengan perjuangan.

Di antara antara desingan peluru…

Di antara deru pesawat tempur…

Di antara hilir mudik tentara penjajah…

Di antara dentuman bom dan rentetan bunyi senjata…

Di situlah cinta mereka bersemi…

Ketika mata mereka beradu pandang untuk pertama kali, di situlah mereka berkomitman melanjutkan ke jenjang pernikahan. Gayung bersambut.  Kedua orang tua mereka setuju.

 

Tak Sempat Bulan Madu

 PERNIKAHAN “Romeo” dari Simandolak  dan “Juliet” dari Sentajo  ini berlangsung pada Maret 1945 atau enam bulan sebelum proklamasi kemerdekan RI dibacakan oleh Bung Karno dan Hatta.

Pernikahan   Zainal Abidin dan Tjurai ini berlangsung Maret 1945.  Kedua mempelai yang baru menikah tak sempat  berbulan madu sebagaimana layaknya pengantin baru sekarang ini.  Situasi  peralihan dari tentara Jepang kepada Indonesia saat itu betul-betul mencekam.   Tentara  Indonesia di berbagai tempat  terus melucuti senjata tentara Jepang.

Sekutu yang diboncengi Netherland Indies Civil Administration (NICA) tak tinggal diam. Belanda ingin  merebut kembali tanah Indonesia dari tangan Jepang. Sementera pejuang RI tidak mau melepaskan walau sejengkal “Bumi Pertiwi” kepada Belanda.

Gerak gerik Zainal sebagai aktivis dan pergerakan pemuda terus dipantau oleh tentara Belanda. Begitu Tjurai yang dicurigai  ikut membantu teman-temannya yang melakukan gerakan bawah tanah terhadap Belanda.

Tak ayal pengantin yang baru memadu kasih ini sering berpisah oleh situasi dan keadaan yang terkadang tak bisa diajak kompromi.  Zainal sering bergabung dengan  teman-temannya sesama aktivis melakukan perlawanan terhadap  bala tentara Belanda.

Sementara Tjurai setia menunggu  sang pujaan hati yang tak pasti  kapan pulang ke rumah.  Harapan cemas itu pasti ada. Tapi semuanya terkubur karena rasa cinta dan ingin melihat Indonesia yang sudah merdeka lepas dari penindasan penjajahan yang ingin kembali berkuasa.

Jika keadaan  genting ada kalanya mereka  ikut mengungsi.  Di  tempat pengungsian inilah Tjurai  baru bertemu dengan teman-teman sama sekolahnya semasa SR dan SGB. Sebut saja Samad Thaha dari Benai, Raja Intan Joeddin dari Simandolak, M. Yusuf dari  Lubuk Jambi, Syamsuddin, M. Sahe,  M. Kasi Rafin,  Hamid Yus dari Sentajo, dan lainnya.

Jangan bayangkan sebagai pengantin baru mereka makan nasi dan lauk pauk sekarang ini.  Pada masa penjajahan Jepang sama dengan masyarakat  rantau Kuantan lainnya, mereka makan nasi “bulgur” atau nasi yang dicampur dengan jagung atau ubi. Tapi yang namanya cinta kalau sudah melekat, kata orang  tahi kambing pun terasa coklat.

Kepada anaknya Tjurai dan menantunya Zainal,   Dien  selalu memberikan nasehat:  “Bangunlah pada pagi hari dengan sayap hati mengepak, dan bersyukurlah atas datangnya satu lembar hari yang penuh kasih.”

Dien adalah sosok orang tua yang hebat. Dia tak kenal lelah memberikan semangat kepada anak dan menantunya itu. Dia  selalu punya seribu alasan untuk terus dan tetap berjuang demi keluarga dan  menepis segala kesedihan.

Sebagai orang tua, Dien punya banyak alasan kenapa ia harus berusaha tetap tegar, kuat dan salalu membuat anak dan menantunya merasa tenang, bangga, dan bahagia.

Lima bulan setelah menikah tepat pada 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka.  Kabar ini sampai ke telinga Tjurai dan Zainal lebih awal dibandingkan masyarakat umumnya.  Kabar ini disampaikan secara berantai melalui kurier dan radio.

Indonesia merdeka. Harapan Tjurai untuk mengajar di depan kelas makin terbuka. 1946 Tjurai mengajar untuk pertama kalinya berdiri di depan kelas. Tepatnya di SR Sentajo yang jadi cikal bakal SD Negeri 1 Sentajo.

Sebagai guru Tjurai akrab disapa Uni – lengkapnya Uni Tjurai.  Uni berarti sapaan hormat atau sopan untuk kakak perempuan baik yang belum maupun sudah menikah dalam keluarga. Uni juga sapaan guru perempuan di Kuantan. Sementara Ongku  atau Tongku untuk guru laki-laki.

Panggilan Uni dan Ongku ini  sangat melekat dikalangan murid-murid “tempoe doeloe”  kepada guru-guru yang mereka cintai. Panggilan itu juga berlaku di tengah masyarakat Kuantan.

Kebahagiaan Tjurai bertambah selain bisa mengajar, anak pertamanya Razmi lahir ke bumi tahun 1946. Ketika mengajar pagi hari, buah hati dambaan kasihnya itu  dititipkan sama orang tuanya  Siti Una yang akrab disapa Jaunah.

Sore hari sepulang mengajar barulah  Tjurai bersama anaknya. Kasih sayang Tjurai dan Zainal sebagai orang tua tumpah ruah kepada Razmi – si sulung yang sedari kecil sudah menjadi kebanggaan keluarga.  Begitu juga dengan Dien selaku kakek dan Siti Una selaku nenek yang sayang pada cucu pertamanya itu.

Namun di SR Sentajo, Tjurai  tak lama mengajar. Pada 1947 tentara Indonesia yang pro kemerdekaan RI membakar sekolah yang dibangun Belanda tahun 1940 tersebut.  Mereka khawatir bangunan sekolah tersebut dijadikan  tentara sekutu yang diboncengi NICA  sebagai markas perjuangan mereka.

Sekolah tersebut akhirnya pindah ke Kubu – Pulau Komang Sentajo.  Di sekolah berdinding papan dan  beratap rumbia yang terletak di atas bukit inilah Tjurai bersama sahabatnya H. Syamsuddin, M. Sahe,  M. Kasi Rafin,  Hamid Yus, dan lainnya memulai kembali aktivitas mengajar mencerdaskan anak bangsa.

Tak seperti sekarang,  keadaan yang terkadang mencekam membuat murid sekolah tersebut mengungsi ke dalam lubang  yang sengaja  dibuat di sekitar sekolah. Bila keadaan mencekam murid-murid diliburkan.

Saat sekolah diliburkan murid-murid diam-diam datang ke rumah  Tjurai.  Dengan senang hati pula  sang guru mengajar anak didiknya yang datang ke rumah silih berganti tanpa takut dimatai-matai oleh mata-mata penjajah.

Penderitaan Tjurai sebagai guru tak sampai di situ. Ketika Belanda melakukan aperation produk yang dikenal dengan Agresi Militer Belanda pecah pada  21 Juli 1947 s.d  6 Agustus 1947 kegiatan belajar kembali berhenti.

Sebagai pendidik yang ikut membantu perjuangan dalam mempertahankan dan mengsi kemerdakan Tjurai tak tinggal diam. Dalam bentuk apa?

Penasaran…… (bersambung)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pendulang Tradisional Terjaring, Polisi Bongkar Dapur Emas Ilegal di Kuansing

3 Februari 2026 - 11:19 WIB

Jadwal Nisfu Syaban 2026 dan Amalan yang Dianjurkan

1 Februari 2026 - 06:35 WIB

Relokasi Eks Penghuni TNTN di Cerenti Dinilai Lemah Secara Hukum

31 Januari 2026 - 08:16 WIB

Sekolah Rakyat ke-4 Dibangun di Kuansing, Pemprov Riau Perluas Akses Pendidikan Gratis

22 Januari 2026 - 13:43 WIB

BRK Syariah Perkuat Peran sebagai Mitra Strategis Daerah, Buka Peluang Pembiayaan Pembangunan Kuansing

9 Januari 2026 - 17:01 WIB

Trending di Bisnis