PENGANTAR:
Pada zaman Penjajahan Belanda dan Pendudukan Jepang tidak banyak kaum perempuan yang mengenyam pendidikan. Namun Uni Tjurai asal Kenegerian Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, Kuantan Singingi, Riau adalah pengecualiannya.
Bagaimana kisahnya, ikuti tulisan ini secara bersambung!
UNI TJURAI baca Curai merupakan salah seorang tokoh emansipasi wanita, pergerakan kemerdekaan, dan pendidikan di Rantau Kuantan – kini Kuantan Singingi. Tjurai terlahir sebagai anak pertama dari dua bersaudara pasangan H. Moehammad Dien dan Siti Una. Tjurai lahir pada 26 Januari 1926 di Sentajo ketika Belanda menjajah Indonesia.
Bagi kebanyakan orang tua “tempoe doeloe” pendidikan bagi anak perempuan adalah tabu. Namun tidak bagi Dien yang punya pikiran beda. Dia memasukan anak sulungnya (Tjurai) ke Sekolah Rakyat (SR) Sentajo hingga lanjut ke Sekolah Guru Bawah (SGB) di Telukkuantan. Kedua jenjang pendidikan itu dijalani Tjurai kurun waktu 1932 – 1943.
Selama menukuni dunia pendidikan, Tjurai adalah anak yang rajin, mandiri, cerdas, dan tekun. Tiap hari dia pergi sekolah dengan sepeda relly bersama orang tuanya.
Konon sepeda penuh sejarah itu tetap diboncenginya ketika mengajar pada 1945 di SR Sentajo hingga pensiun pada 1 Februari 1982 di SD Negeri 2 Sentajo di Pulau Komang.
Sang ayah (Dien) punya kedai di Telukkuantan selalu setia mengantar dan menjemput Tjurai ke sekolah. Jika hari hujan mereka mencari daun pisang sebagai pelindung diri. Inilah yang mungkin disebut “memori” daun pisang itu “tempoe doleloe.” Tjurai tumbuh menjadi anak yang matang diusianya yang masih muda.
MASA sekolah adalah masa indah bagi Tjurai dan teman seangkatannya. Di antaranya ada Samad Thaha dari Benai, Raja Intan Djuddin (Simandolak), Muhammad Jusuf (Lubuk Jambi), Syamsuddin, M. Kasi Ripin dan Hamid Yus (Sentajo), dan lainnya.
Dalam memoar sahabatnya tokoh pendidikan Riau asal Kuantan Singingi, Drs. H. Samad Thaha, M.B.A menulis sedikit kisah tentang Tjurai yang mereka panggil Uni.
Inilah kutipannya yang disampaikannya tahun 1998 ketika masih sehat.
“Sewaktu sekolah di SGB Telukkuantan, kami punya sahabat perempuan asal Sentajo. Kami memanggilnya Uni. Lengkapnya Uni Tjurai. Uni adalah panggilan untuk calon guru dari kalangan perempuan. Sedangkan laki-laki dipanggil Ongku atau Tongku.
Uni adalah sahabat kami dalam suka dan duka. Kami belajar bersama. Kami bersenda gurau “ala” anak muda tempo dulu. Uni adalah teman kami yang paling cantik. Rambut hitam bergelombang panjang tergerai di kepang dua. Tubuh tinggi semampai yang aduhai.
Uni adalah sahabat kami yang istimewa, pintar, bersahaja, tenang, kalem, dan lembut. Uni disegani karena dia pandai menempatkan diri. Pokoknya Uni, “ist the best” lah. Tak ada murid secantik Uni karena memang bisa dihitung murid perempuan ketika kami sekolah.
Saat sekolah kami tidak mengenal kata “cinta” seperti zaman sekarang ini. Namun ada di antara kami yang diam-diam mencintai Uni. Namun cinta itu tak tersampaikan. Tak usahlah disebutkan nama orangnya. Ehmm… lagian pula itu kisah yang sudah lama.
Uni menamatkan SGB tahun 1943 atau setahun setelah kedatangan tentara Jepang pada 1942 ke Indonesia. Seharusnya setamat SGB, Uni langsung mengajar di SR. Namun situasi yang mencekam, Uni baru mengajar pada 1945 di SR Sentajo yang bangun pada tahun 1940 dan diresmikan 1941.
Cinta Bersemi
SAAT perang dunia kedua (1942-1945) kisah cinta Tjurai bersemi. Adalah teman seperjuangannya, Raja Intan Djuddin yang menjodohkan Tjurai dengan Zainal Abidin – lelaki ganteng kelahiran Simandolak 1921.
Dari jantung turun ke hati. Cinta pertama dan terakhir bagi Tjurai dan Zainal Abdin. Sang kekasih yang berkulit putih merupakan salah seorang aktivis pergerekkan pemuda kala itu.
Kendati berselisih umur enam tahun, namun tidak menghalangi cinta mereka. Kalau cinta sudah bersemi, tahi kambing terasa coklat. Tapi jangan bandingkan kisah cinta mereka dengan zaman sekarang. Cinta zaman perjuangan juga penuh dengan perjuangan.
Di antara antara desingan peluru…
Di antara deru pesawat tempur…
Di antara hilir mudik tentara penjajah…
Di antara dentuman bom dan rentetan bunyi senjata…
Di situlah cinta mereka bersemi…
Ketika mata mereka beradu pandang untuk pertama kali, di situlah mereka berkomitman melanjutkan ke jenjang pernikahan. Gayung bersambut. Kedua orang tua mereka setuju.
Tak Sempat Bulan Madu
PERNIKAHAN “Romeo” dari Simandolak dan “Juliet” dari Sentajo ini berlangsung pada Maret 1945 atau enam bulan sebelum proklamasi kemerdekan RI dibacakan oleh Bung Karno dan Hatta.
Pernikahan Zainal Abidin dan Tjurai ini berlangsung Maret 1945. Kedua mempelai yang baru menikah tak sempat berbulan madu sebagaimana layaknya pengantin baru sekarang ini. Situasi peralihan dari tentara Jepang kepada Indonesia saat itu betul-betul mencekam. Tentara Indonesia di berbagai tempat terus melucuti senjata tentara Jepang.
Sekutu yang diboncengi Netherland Indies Civil Administration (NICA) tak tinggal diam. Belanda ingin merebut kembali tanah Indonesia dari tangan Jepang. Sementera pejuang RI tidak mau melepaskan walau sejengkal “Bumi Pertiwi” kepada Belanda.
Gerak gerik Zainal sebagai aktivis dan pergerakan pemuda terus dipantau oleh tentara Belanda. Begitu Tjurai yang dicurigai ikut membantu teman-temannya yang melakukan gerakan bawah tanah terhadap Belanda.
Tak ayal pengantin yang baru memadu kasih ini sering berpisah oleh situasi dan keadaan yang terkadang tak bisa diajak kompromi. Zainal sering bergabung dengan teman-temannya sesama aktivis melakukan perlawanan terhadap bala tentara Belanda.
Sementara Tjurai setia menunggu sang pujaan hati yang tak pasti kapan pulang ke rumah. Harapan cemas itu pasti ada. Tapi semuanya terkubur karena rasa cinta dan ingin melihat Indonesia yang sudah merdeka lepas dari penindasan penjajahan yang ingin kembali berkuasa.
Jika keadaan genting ada kalanya mereka ikut mengungsi. Di tempat pengungsian inilah Tjurai baru bertemu dengan teman-teman sama sekolahnya semasa SR dan SGB. Sebut saja Samad Thaha dari Benai, Raja Intan Joeddin dari Simandolak, M. Yusuf dari Lubuk Jambi, Syamsuddin, M. Sahe, M. Kasi Rafin, Hamid Yus dari Sentajo, dan lainnya.
Jangan bayangkan sebagai pengantin baru mereka makan nasi dan lauk pauk sekarang ini. Pada masa penjajahan Jepang sama dengan masyarakat rantau Kuantan lainnya, mereka makan nasi “bulgur” atau nasi yang dicampur dengan jagung atau ubi. Tapi yang namanya cinta kalau sudah melekat, kata orang tahi kambing pun terasa coklat.
Kepada anaknya Tjurai dan menantunya Zainal, Dien selalu memberikan nasehat: “Bangunlah pada pagi hari dengan sayap hati mengepak, dan bersyukurlah atas datangnya satu lembar hari yang penuh kasih.”
Dien adalah sosok orang tua yang hebat. Dia tak kenal lelah memberikan semangat kepada anak dan menantunya itu. Dia selalu punya seribu alasan untuk terus dan tetap berjuang demi keluarga dan menepis segala kesedihan.
Sebagai orang tua, Dien punya banyak alasan kenapa ia harus berusaha tetap tegar, kuat dan salalu membuat anak dan menantunya merasa tenang, bangga, dan bahagia.
Lima bulan setelah menikah tepat pada 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka. Kabar ini sampai ke telinga Tjurai dan Zainal lebih awal dibandingkan masyarakat umumnya. Kabar ini disampaikan secara berantai melalui kurier dan radio.
Indonesia merdeka. Harapan Tjurai untuk mengajar di depan kelas makin terbuka. 1946 Tjurai mengajar untuk pertama kalinya berdiri di depan kelas. Tepatnya di SR Sentajo yang jadi cikal bakal SD Negeri 1 Sentajo.
Sebagai guru Tjurai akrab disapa Uni – lengkapnya Uni Tjurai. Uni berarti sapaan hormat atau sopan untuk kakak perempuan baik yang belum maupun sudah menikah dalam keluarga. Uni juga sapaan guru perempuan di Kuantan. Sementara Ongku atau Tongku untuk guru laki-laki.
Panggilan Uni dan Ongku ini sangat melekat dikalangan murid-murid “tempoe doeloe” kepada guru-guru yang mereka cintai. Panggilan itu juga berlaku di tengah masyarakat Kuantan.
Kebahagiaan Tjurai bertambah selain bisa mengajar, anak pertamanya Razmi lahir ke bumi tahun 1946. Ketika mengajar pagi hari, buah hati dambaan kasihnya itu dititipkan sama orang tuanya Siti Una yang akrab disapa Jaunah.
Sore hari sepulang mengajar barulah Tjurai bersama anaknya. Kasih sayang Tjurai dan Zainal sebagai orang tua tumpah ruah kepada Razmi – si sulung yang sedari kecil sudah menjadi kebanggaan keluarga. Begitu juga dengan Dien selaku kakek dan Siti Una selaku nenek yang sayang pada cucu pertamanya itu.
Namun di SR Sentajo, Tjurai tak lama mengajar. Pada 1947 tentara Indonesia yang pro kemerdekaan RI membakar sekolah yang dibangun Belanda tahun 1940 tersebut. Mereka khawatir bangunan sekolah tersebut dijadikan tentara sekutu yang diboncengi NICA sebagai markas perjuangan mereka.
Sekolah tersebut akhirnya pindah ke Kubu – Pulau Komang Sentajo. Di sekolah berdinding papan dan beratap rumbia yang terletak di atas bukit inilah Tjurai bersama sahabatnya H. Syamsuddin, M. Sahe, M. Kasi Rafin, Hamid Yus, dan lainnya memulai kembali aktivitas mengajar mencerdaskan anak bangsa.
Tak seperti sekarang, keadaan yang terkadang mencekam membuat murid sekolah tersebut mengungsi ke dalam lubang yang sengaja dibuat di sekitar sekolah. Bila keadaan mencekam murid-murid diliburkan.
Saat sekolah diliburkan murid-murid diam-diam datang ke rumah Tjurai. Dengan senang hati pula sang guru mengajar anak didiknya yang datang ke rumah silih berganti tanpa takut dimatai-matai oleh mata-mata penjajah.
Penderitaan Tjurai sebagai guru tak sampai di situ. Ketika Belanda melakukan aperation produk yang dikenal dengan Agresi Militer Belanda pecah pada 21 Juli 1947 s.d 6 Agustus 1947 kegiatan belajar kembali berhenti.
Sebagai pendidik yang ikut membantu perjuangan dalam mempertahankan dan mengsi kemerdakan Tjurai tak tinggal diam. Dalam bentuk apa?
Penasaran…… (bersambung)







