Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Minda

Takkan Melayu Hilang di Dunia, Tapi…

badge-check

Hang Kafrawi Perbesar

Hang Kafrawi

Oleh Hang Kafrawi

Kalimat “Takkan Melayu hilang di dunia” bukan sekadar rangkaian kata yang diwariskan oleh nenek moyang, tetapi sebuah keyakinan, sumpah, dan doa yang merentang dari masa lalu hingga hari ini. Ia seperti cahaya obor yang tetap menyala meski angin sejarah berulang kali berusaha memadamkannya. Pepatah ini adalah penegasan bahwa Melayu bukan hanya soal identitas etnis, melainkan jiwa yang hidup di dalam bahasa, adat, seni, dan pandangan hidup.

Melayu itu ibarat sungai yang mengalir dari hulu sejarah menuju muara peradaban dunia. Sungai bisa dibendung, dialihkan, bahkan dicemari, tetapi airnya akan mencari jalan untuk tetap mengalir. Begitu juga dengan Melayu. Dari Sriwijaya, Malaka, Siak, Riau-Lingga, hingga komunitas-komunitas Melayu di pesisir Nusantara dan Semenanjung, jejaknya tak pernah putus. Melayu telah memberi warna pada bahasa Indonesia, agama, kesusastraan, hingga tata kehidupan sosial bangsa ini.

Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah benar Melayu tidak akan hilang di dunia? Sebab, kita menyaksikan anak muda lebih akrab dengan budaya populer global daripada pantun, lebih fasih menyebut istilah asing dibandingkan pepatah leluhur. Di sini, pepatah itu diuji, ia bukan janji otomatis, melainkan peringatan bahwa Melayu harus terus diperjuangkan agar tetap ada. Kalau tidak, ia hanya jadi ukiran kata di buku pelajaran atau hiasan dinding istana budaya.

Kekuatan Melayu sejatinya ada pada nilai-nilai dasarnya. Budi bahasa yang menekankan sopan santun dalam komunikasi, muafakat yang menumbuhkan semangat gotong royong, kearifan ekologis yang menjaga harmoni dengan alam, serta pantun dan syair yang mengajarkan keindahan berbahasa sekaligus ketajaman berpikir. Nilai-nilai ini bukan barang usang. Justru, di tengah dunia yang semakin bising oleh kebencian, curang oleh tipu daya politik, dan rusak oleh kerakusan kapital, nilai-nilai Melayu bisa jadi penawar.

Kita hanya perlu satu hal, menyalakan kembali api budaya Melayu dalam konteks kekinian. Pantun tak harus dibaca hanya di acara adat, pantun bisa hadir di media sosial, jadi bahasa cinta anak muda, bahkan jadi senjata kritik sosial yang segar. Muafakat tidak hanya di balai adat, ia bisa dihidupkan dalam gerakan komunitas digital, ekonomi bersama, dan kepedulian sosial. Tenun, kuliner, dan seni Melayu tak hanya dipajang di festival, tapi dikembangkan jadi produk kreatif yang masuk ke pasar global. Dengan begitu, Melayu bukan sekadar dikenang, melainkan diletupkan memancarkan kehidupan.

Esensi dari pepatah “Takkan Melayu hilang di dunia” bukan berarti Melayu kebal dari kepunahan, melainkan pesan agar kita, anak cucu yang mewarisinya, tidak lengah. Ia adalah tugas, bukan sekadar janji. Jika kita mengabaikan nilai-nilainya, kalau kita biarkan bahasa dan seni Melayu ditelan modernisasi tanpa tafsir baru, maka perlahan Melayu akan hilang. Namun, jika kita menyalakan api itu dalam kehidupan sehari-hari, maka Melayu akan terus ada, bahkan memberi cahaya bagi dunia.

Seperti air laut yang selalu pasang surut, Melayu menghadapi masa redup. Sebagaimana janji ombak, ia akan selalu kembali menghantam pantai. Melayu adalah laut itu sendiri, luas, dalam, penuh misteri, dan tak pernah bisa lenyap dari peta peradaban. Ketika kita mengucap “Takkan Melayu hilang di dunia”, itu bukan sekadar pengulangan pepatah lama, melainkan ikrar bahwa di tangan kita, di lidah kita, di karya kita, dan di hati kita Melayu akan tetap hidup, menyala, dan memberi arti.

Hang Kafrawi adalah nama pena Muhammad Kafrawi, dosen Program Studi Sastra Indonesia, FIB Unilak

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Bupati Afni Temui Arwin AS, Minta Doa Berjuang DBH Migas Siak ke Kemenkeu

4 Okt 2026 - 17:49 WIB

Bupati Afni Temui Arwin AS, Minta Doa Berjuang DBH Migas Siak ke Kemenkeu

HERRY HERYAWAN DAN KEPOLISIAN BUDAYA

4 Okt 2026 - 14:25 WIB

HERRY HERYAWAN DAN KEPOLISIAN BUDAYA

Video Bupati Viral, Wapres RI Kirim Tim Khusus ke Wilayah 3T Siak!

4 Okt 2026 - 11:34 WIB

Video Bupati Viral, Wapres RI Kirim Tim Khusus ke Wilayah 3T Siak!

LAMR Dorong Bentuk Tim Terpadu untuk Benahi Kelangkaan Solar Subsidi

4 Okt 2026 - 08:00 WIB

LAMR Dorong Bentuk Tim Terpadu untuk Benahi Kelangkaan Solar Subsidi

Bupati Siak Jawab Tiga Pertanyaan Presiden Soal Solusi Karhutla

3 Okt 2026 - 17:21 WIB

Bupati Siak Jawab Tiga Pertanyaan Presiden Soal Solusi Karhutla
Trending di Nasional