Menu

Mode Gelap
Di Balik Sorotan Dana BOS, SMKN 4 Tanjungpinang Minta Pemberitaan Berimbang Myanmar yang Menjadi Dilema Hadir di Trofeo PWI Riau, BRK Syariah Dorong Kolaborasi Positif Bersama Insan Pers Indra Saputra Maju PD Tidar Kepri, Serangkaian Kegiatan Seminar Dilaksanakan 10-11 Mei 2026 Sempat Vakum Akibat Pandemi, Helat Budaya ‘Sabtu Batam Berpuisi’ Kembali Bergema di Rumahitam Marwah Diri

Riau

Gubri Minta Tata Kelola Migas Libatkan Tenaga Kerja dan Mitra Lokal, LAMR Mendukung

badge-check


					Gubernur Riau Abdul Wahid. Perbesar

Gubernur Riau Abdul Wahid.

RiauKepri.com, PEKANBARU- Gubernur Riau Abdul Wahid menegaskan pentingnya keterlibatan tenaga kerja dan mitra lokal dalam tata kelola industri minyak dan gas (Migas) di daerah. Menurutnya, pelibatan unsur lokal secara aktif akan menciptakan ekosistem migas yang inklusif dan memberi dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Riau.

“Saya meminta pertumbuhan ekonomi di Riau juga disumbangkan oleh sektor Migas. Supaya ada efeknya terhadap ekosistem, tata kelola migas harus melibatkan tenaga kerja lokal dan mitra lokal,” ujar Wahid saat menghadiri Sosialisasi Satgas Kelancaran Operasional Migas di Balai Serindit, Senin (30/9/2025).

Wahid menyampaikan bahwa sektor migas selama ini menjadi salah satu penopang utama ekonomi Riau. Namun, untuk mempercepat pertumbuhan yang merata, dibutuhkan strategi agar masyarakat lokal dapat terlibat tidak hanya sebagai penerima manfaat pasif, melainkan juga pelaku aktif dalam rantai industri migas.

“Saya ingin perkembangan ekonomi di Riau ini bukan hanya dari hasil minyaknya saja, tapi bagaimana proses mendapatkan hasil minyak itu juga menjadi salah satu cara untuk meningkatkan ekonomi lokal,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya perusahaan migas memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) di Riau, agar kontribusi dalam bentuk pajak badan dapat dirasakan langsung oleh pemerintah daerah. Selain itu, ia meminta agar rekrutmen tenaga kerja mengutamakan masyarakat setempat.

“Perusahaan migas harus punya NPWP di Riau. Selain itu, dominasi tenaga kerja juga harus dari lokal, jangan sampai malah lebih banyak dari luar daerah,” ucapnya.

Wahid mengingatkan bahwa kekayaan sumber daya alam tidak serta-merta menjamin kesejahteraan masyarakat, jika tidak diikuti dengan tata kelola yang adil dan berkelanjutan. Ia menyoroti masih adanya ketimpangan antara potensi SDA dan angka kemiskinan di daerah penghasil migas.

“Kalau kekayaan alam tidak dikelola dengan baik, itu bukan membawa berkah, tapi bisa jadi bencana. Ada sumber daya melimpah, tapi masyarakatnya masih miskin. Ini bisa menimbulkan gejolak kesenjangan sosial,” ujarnya.

Dukungan LAMR

Secara terpisah, Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat Lembaga Adat Melayu Riau (MKA LAMR), Datuk Seri H.M. Marjohan Yusuf, mendukung keterlibatan tenaga kerja lokal dalam industri migas. Ia menilai, selama sesuai dengan kualifikasi dan prosedur yang berlaku, putra-putri daerah layak diberi ruang dalam pengelolaan migas.

“Riau sangat terbuka, asalkan semua sesuai alur dan patut terhadap ketentuan yang ada,” ungkap Datuk Seri Marjohan.

Ia juga mendorong agar perusahaan migas memberikan beasiswa bagi anak-anak daerah untuk menempuh pendidikan tinggi di bidang perminyakan, bahkan hingga jenjang profesor.

“Ini bukan hal yang mengada-ada. Pada masa Sultan Syarif Kasim II, ketika izin pengelolaan minyak diberikan kepada Belanda, dibangun juga sekolah bagi anak-anak setempat,” ujar Datuk Seri Marjohan. (RK1)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Hadir di Trofeo PWI Riau, BRK Syariah Dorong Kolaborasi Positif Bersama Insan Pers

10 Mei 2026 - 13:31 WIB

Marwah Diri

10 Mei 2026 - 08:56 WIB

Hardiknas, Polsek Bina Widya Beri Kado Bibit Pohon dan Perlengkapan Pendidikan ke Mahasiswa

9 Mei 2026 - 16:45 WIB

Setahun Kesepakatan DIR, Perjuangan Riau Istimewa Terus Berlanjut

9 Mei 2026 - 13:16 WIB

Tamu Beradat

9 Mei 2026 - 05:44 WIB

Trending di Minda