“TUAH Pulang ke Patopang. Pendekar Pulang Pada Yang Pandai.”
MUNGKIN banyak yang tidak paham arti kalimat ini. “Tua pulang ke Patopang” maksudnya adalah silat di Kenegerian Sentajo berasal dari Suku Patopang. Yang punya sosoran atau pondam adalah Pendekar Bertuah yang lazim disebut Pandekar Batuah @Ndekar Tuah juga dari Suku Patopang.
Lalu “Pendekar pulang Kepada Yang Pandai” maksudnya adalah guru silat adalah orang pandai bersilat. Artinya guru silat tidak dibatasi oleh suku. Boleh dari empat suku yang ada di Kenegerian Sentajo yakni Caniago, Paliang, Melayu, dan Patopang
Lalu siapa Ndekar Tuah Sentajo? Sesuai urutan dari generasi pertama 1719 sampai sekarang generasi keempat adalah: Yahatim, Yadomin, Yahamin alias Yabontan, dan Al Mizan bin Mohd. Zen alias Mison.
Yahatim – generasi Ndekar Tuah pertama meninggal dunia di Malaysia. Dimakamkan di daerah Taman Wahyu di Tanah Perkuburan Islam Bangkong, Batu 5, Kuala Lumpur, Malaysia.
Di sekitar makam Ndekar Tuah Yahatim itu ada pohon Beringin berukuran besar. Makamnya berbatasan sebelah kanan makam Raja Baginda Tihu Suku Melayu. Di sebelah kiri ada Makam Pendekar Bonsu pertama.
Ndekar Tuah pertama Yahatim berangkat ke Malaysia bersama Baginda Raja Tihu Suku Melayu pada 1719. Kemudian mereka mendirikan laman yang disebut juga sosoran atau pondam di Segambut, Malaysia. Guru pertama adalah Nualid Suku Paliang Soni bergelar Pendekar Bonsu.
Tihu adalah saudagar kaya Sentajo “tempoe doeloe.” Punya ponakan Rahidin yang menyumbangkan atap untuk pembangunan Mesjid Usang Raudhatul Jannah Koto Sentajo.
Sepulang dari Malaysia Ndekar Tuah mendirikan laman di Teratak Air Hitam pada 1821. Setelah itu pada 1824 mereka mendirikan laman Balai Potai di Sentajo. Yang jadi “anak barompek” pertama adalah: Mahmud dari Suku Melayu.
Sebagai pemilik laman, Ndekar Tuah tak boleh menjadi guru. Jadi guru silek Sentajo selanjutnya berturut-turut setelah Nualid adalah: Yahitun dari Suku Patopang, Majirim dari Suku Piliang, Dahan dari Gombak Suku Caniago, dan Mahmud dari Suku Melayu.
Laman silat sekarang Balai Potai di Koto Sentajo adalah laman silat ketiga. Yang pertama dan kedua ada di Malaysia dan Teratak Air Hitam.
Laman Silat Balai Potai berdiri pada 1824 tepat di tepi Sungai Sonsang yang disebut juga Sungai Baruatopang. Masyarakat Sentajo biasa menyebutnya Sungai Rutopang.
Restu Ndekar Tua
TATA aturan silat Ndekar Tuah adalah kalau ada guru silat yang akan dilambuak harus terlebih dahulu minta restu ke Ndekar Tuah atau yang mewakili. Sebab adat dari segala guru atau disebut Pendekar sebagai kepalanya adalah Ndekar Tuah dari suku Patopang.
Daerah pengembangan Silat Ndekar Tuah di Kuantan Singingi saat ini adalah: Sentajo Raya, Kuantan Tengah, Gunung Toar, Pucuk Rantau, Kuantan Mudik, dan Hulu Kuantan serta Singingi. Sedangkan Benai s.d. Cerenti adalah daerah pengembangan Silek Pangean.
Perangkat Laman Silat Ndekar Tuah adalah:
1. Guru silat yang telah resmi atau yang sudah dilambuak.
2. Satu orang tua laman.
3. Empat orang anak berempat yang lazim disebut anak barompek.
Anak barompek biasanya diambil dari perwakilan masing-masing suku yang ada di Kenegerian Sentajo: Caniago, Paliang, Malayu, dan Patopang. Jika tidak ada perwakilan suku, bisa saja dari suku yang sama dengan syarat pantas dan patut.
Kemudian ditambah dengan orang tua-tua laman yang berasal dari ulama, orang adat, dan pemerintahan desa di mana laman itu berada.
Jadi kajian Silat Ndekar Tuah itu sama dengan “Tungku Tigo Sajorangan” atau “Tali Bapilin Tigo”. Ada unsur ahlinya yakni pendekar, agama/ulama, dan adat/ pemerintahan. Masing-masing punya fungsi namun saling saling menguatkan.
Dalam perkembangan selanjutnya setelah Indonesia merdeka guru silat di Balai Potai Koto Sentajo di antaranya Rosin, Dobak gelar Pendekar Malin dari Suku Patopang, Unan (Junaidi) Gelar Pendekar Dubalang dari suku Paliang Lowe. Sekarang Ajisman suku Patopang.
Ndekar Mison
PENDEKAR Bertuah generasi ke-4 adalah Mison. Namanya sesuai dengan KTP id-card atau KAD Pengenalan Malaysia adalah Al Mizan Bin Mohd. Zen. Lahir di Koto Sentajo tahun 1958 dari pasangan Mohd. Zen dan Rihana yang akrab disapa Ori. Mison punya adik seibu bernama Enis. Ayah Enis adalah Abdullah yang lebih dikenal dengan panggilan Badul Korang.
Mison semasa kecil seangkatannya dengan Tarmizi kini tinggal di Dusun Bukik, Koto Sentajo. Mereka sama sekolah di SD Kampung Baru Sentajo. Sayang karena kondisi ekonomi, “Duo Patopang” ini tidak menyelesasikan pendidikan SD nya. Mereka putus di tengah jalan.
Setelah itu petualangan hidup Mison dimulai. Dia ikut kerja dengan Asiar seorang “toke gotah” di Kampung Baru. Istri Asiar bernama Nini merupakan saudara sesuku Mison.
Gelar Ndekar Tuah dilambuak kepada Mison tahun 1972. Saat itu umurnya baru 14 tahun. Gelar itu dilambuak setelah paman kandungnya Yahamin yang juga akrab disapa Yabontan meninggal dunia 1972.
Yahamin dimakamkan di Balai Potai. Ada koreksi: di nisan makamnya tertulis meninggal tahun 1976 padahal 1972.
Acara malambuak gelar Ndekar Tuah itu diadakan di Sosoran Balai Potai Koto Sentajo. Acara ini dihadiri seluruh guru silat yang punya sosoran di Sentajo dan sosoran Ndekar Tuah di luar Sentajo.
Tak lama setelah menerima gelar Ndekar Tuah, Mison memulai “petualangan” hidupnya. Tahun 1974 dia merantau ke Pekanbaru mengikuti pamannya Uman Jalang.
Tahun 1975 melanjutkan perantauannya ke Padang. 1976 dia dijemput ibunya agar pulang kembali ke kampung halamannya Koto Sentajo.
Kemudian kurun waktu 1976-1978 Mison “merantau” ke Pulau Kijang hingga Jambi. Pada awal 1980-an Mison merantau ke Malaysia. Di negara tetangga tersebut.
Mison bekerja bangunan yang disebut juga pekerja kontrak. Kemudian dia dipercaya Asri – pengusaha lori asal Benai menjaga gudangnya.
Sesekali Mison pulang kampung. Namun tidak berlangsung lama. Awal 2000-an, Mison pulang dan bekerja di kebun kelapa sawit Kelompok Kerja Pola Anggota (KKPA) Sentajo.
KKPA adakah kebun sawit dengan sistem “bapak angkat” antara PT. Citra Riau Sarana kepada Kelompok Koperasi Langgeng di Marsawa Sentajo Raya.
Pada umumnya pekerja KKPA Sentajo orang Sentajo. Sebagai pimpinannya sejak Tamsir Ali meninggal dunia ditunjuk Erianto, Junaidi (Unan), Armadi, Zubirman, Elpius, dan lainnya.
Mison bekerja sebagai tenaga pengamanan dan pengawas transportasi buah dari kebun ke pabrik. Di situ ia berjumpa Ira Iswati yang kini jadi istrinya. Dari pernikahannya itu Mison dikarunia tiga orang anak: satu perempuan dan dua laki-laki. Ketiga anaknya saat ini sedang menjalani pendidikan dasar di kampung istrinya, Suram, Rokan Hulu.
Mison pernah membawa istrinya merantau ke Malaysia. Namun tak lama berselang Mison kembali pulang kampung. Istri dan anaknya kini menetap di Desa Suram, Rokan Hulu.
Mison kini tinggal bersama adiknya Enis di Koto Sentajo. Kehadirannya dinantikan. Tuahnya ditunggu.
Nama Pendekar di Sentajo Raya.
1. Pendekar Bertuah di Sosoran Balai Potai Desa Koto Sentajo: Yamizon.
2. Pendekar Bonsu di Sosoran Pendekar Bonsu: Eriadi.
3. Pendekar Malin di Sosoran Tanah Gontiang (Muaro): Ardiyusman Udin.
4. Pendekar Sutan di Sosora Kayu Batu (Muaro): Uwan.
5. Pendekar Sati di Sosoran Kampung Baru: Elpius
6. Pendekar Balang di Sosoran Muaro: Junaidi.
7. Pendekar Kociak di Sosoran Kayu Batu (Muaro): Simin.
8. Pendekar Tonang di Sosoran Pulau Komang: Aba.
9. Pendekar Rajo di Sosoran Kampung Datar (Pulau Komang): Pili
10. Pendekar Kuning di Sosoran Pasongik (Muaro): Ardison
11. Pendekar Alam di Sosoran Pulau Kopuang.
12. Pendekar Malin Porang di Sosoran Karak (Pulau Komang): Romi Alfisah Putra.
13. Pendekar Leman di Sosoran Marsawa (eks Trans Sentajo): Imis.
14. Pendekar Rantau di Sosoran Marsawa (eks Trans Sentajo): Lamit.
15. Pendekar Rondah di Sosoran Tanah Gontiang (Muaro): Jon Tarmas.
16. Pendekar Sutan di Sosoran Teratak: Mukinin.
17. Pendekar Mudo Bonsu di Sosoran Kampung Baru (Teratak): Imut.
18. Pendekar Mudo di Sosoran Tuo (Teratak): Suar.
19. Pendekar Lomah di Sosoran Teratak: Pendi.
20. Pendekar Mara Bonsu di Sosoran Teratak: Ijep.
21. Pendekar Malin Mangkuto Saiyo di Sosoran Luar Irok: Mukhlis MR.
22. Pendekar Mudo di Sosoran Benai: Kadar.
24. Pendekar Suto di Sosoran Kampuang Datar (Pulau Komang): Arlianto.
25. Pendekar Sutan di Sosoran Tanah Ponggal (Kampung Baru): Familus.
Penulis: Sahabat Jang Itam: 3-10-2025







