Menu

Mode Gelap
Telan Anggaran Rp233,48 Juta, DPRD Meranti Tinjau Pembangunan Duiker Simpang Puskemas Zona Integritas Diresmikan, Imigrasi Selatpanjang Bidik WBK dan WBBM Kades Batu Berapit Apresiasi Wartawan Anambas, Berkah Terima Bantuan Sembako HPN 2026 Bupati Siak Afni: PT. BSP di Ambang Kebangkitan HPN 2026 di Jemaja Berlangsung Meriah, Bupati Aneng Apresiasi Peran Strategis Insan Pers Ribuan Warga Pulau Jemaja Padati Lapangan Bola Kelurahan Letung, Meriahkan Jalan Santai HPN 2026, Sepeda Listrik Jadi Hadiah Utama

Ragam

Mara Karma (1952– 2015): Superstar Dangdut “Berdarah” Kuantan Singingi

badge-check


					Mara Karma Perbesar

Mara Karma

MARA Karma merupakan yang pernah berjaya di Indonesia. Teman satu angkatan “Raja Dangdut” Rhoma Irama dan “Ratu Dandut” Eelvie Sukaesih ini merupakan superstar dangdut tanah air “berdarah” Kuantan Singingi.

Ibunya Nurliah yang akrab disapa Loli berdarah Kuantan Singingi dari ayahnya bernama Tongkek asal dari Lubuk Ambacang, Kecamatan Hulu Kuantan. Mara Karma punya saudara seibu bernama Kadarusman.

Sedangkan ayah Mara Karma, M. Thaib Pakis yang berasal dari Rengat merupakan politisi Riau pada masanya. Ayah Mara Karma itu pernah jadi anggota DPR RI (1971-1977) dari dua partai berbeda. Semula dari Partai Muslim Indonesia (1971-1973). Kemudian fusi (bergabung) menjadi Partai Persatuan Pembangunan (1973-1977).

M. Thaib Pakis punya lima orang saudara kandung. Yakni Fattah Pakis, Ismael Pakis, Ibrahim Pakis, Nurhayati Pakis, dan Emrizal Pakis.

“Darah” politik M. Thaib Pakis mengalir ke Mara Karma. Sang superstar dangdut itu pernah menjadi caleg DPR RI Nomor urut 1 tahun 2009 dari Partai Amanat Nasional (PAN) Dapil Riau II. Sayang dia tak bisa mengikuti jejak ayahnya mewakili Riau di gedung parlemen tersebut.

Sedangkan dara seni Mara Karma mengalir kepada anaknya Medra Noprizal. Karier sang anak (Medra) di bidang seni tidak semoncer karier ayahnya. Medra tidak fokus bermusik karena menjadi PNS di Indragiri Hilir dan terakhir di Indragiri Hulu sampai akhir hayatnya.

SEBELUM hijrah ke Ibu Kota, Mara Karma bergabung dengan band milik PT Pertamina Lirik. Saat itu Band ini bersaing dengan Band KORPRI yang dipimpin oleh Soegianto yang juga orang tua dari Bupati Indragiri Hulu periode 2010-2015 dan 2015-2020 Yofie Soegianto.

Kedua band ini merupakan band legendaris di Indragiri Hulu era 1970-an hingga 1980-an. Band PT Pertamina kebanyakan pemain kebanyakan pegawai PT Pertamina. Sedangkan di Band KORPRI kebanyakan putra Indragiri. Ada Mawan (melodi), Dadau (keyboard), Wanto (bas) dan Yayak (drum). Kemudian ada duo Mudha dari Telukkuantan yakni Nasri dan Asrul.

Band ini sering mengisi acara pentas seni di Riau khususnya saat pacu jalur di Telukkuantan. Lagu-lagu yang mereka nyanyikan waktu itu milik band legendaris ibu kota seperti Koes Plus, Pandjaitan Bersaudara (Panbers), D’Lloyd, God Bless, dan The Mercy’s.

Kehadiran Mara Karma di pentas musik nasional menyusul saudara ibunya Idrus Tintin. Kemudian jejaknya diikuti duo kakak adik Yohazar alias Otong Lenon dan Fakhri Semekot dari Benai (pelawak, pemain film, dan sinetron), Ana Tairas dari Kuantan Tengah (pemain film dan sinetron), Udin Semekot dari Baserah, (pelawak, pemain film, dan sinetron).

Selanjutnya ada Said Mustafa Husein alias Buyung Timah Didja, Nasrul Muhda alias Buyung Muhda (pemain drama dan penata artistik) dari Kuantan Tengah, Epi Martison dari Kuantan Hilir (kareografer dan komposer), dan Abral Nyanyah (pelawak, pemain film, dan content creator ) dari Sentajo Raya.

Mara Karma lahir di Pekanbaru 19 September 1952. Kemudian meninggal dunia dalam usia 63 tahun di Rumah Sakit Hermina Bekasi pada Rabu, 6 Mei 2015 pukul 18.00 WIB.

Dia meninggalkan empat orang anak dari dua istrinya: Reni dan Jumiharnita. Anaknya dari Reni adalah Medra Nofrizal. Sedangkan dari Jumiharnita tiga anak yakni Gita Marita Indahul (Indah), Muhammad Arif Setiawan (Arif), dan Siti Virzika Khairunisa (Zika).

Sebelum ajal menjemput dirinya selama lima tahun Mara Karma kena penyakit diabetes. Akibat penyakit itu kakinya diamputasi dari atas mata kaki ke bawah. Belakangan, akibat kondisi itulah Mara Karma sulit beraktivitas dalam bermusik.

Sebelum ajal menjemputnya, Mara Karma juga sempat memuji ajang pencarian bakat penyanyi dangdut D’Academy yang ditayangkan di Indosiar. Para kontestan dan jurinya sudah cukup baik.

Selain pujian, lelaki yang sering disebut sebagai maestro dangdut itu juga berterima kasih kepada Indosiar karena telah membangkitkan gairah musik dangdut di Tanah Air. Sebelumnya, musik dangdut nyaris mati suri.

Mara Karma dan Rita Sugiarto pernah membentuk grup musik Orkes Melayu Jackta Group sekitar 1983. Semasa hidup, Mara Karma sudah mengaransemen ratusan lagu dangdut. Sebagai musisi dangdut senior, Mara Karma pernah berpesan kepada para penyanyi junior agar lebih memerhatikan artikulasi dengan baik.

Menurutnya, huruf a jangan diubah jadi e. Bila N katakan N, begitu pula yang lainnya. Huruf mati harus terdengar dengan jelas.

Sebagai bentuk penghargaan di bidang musik pada ahun 2015 Mara Karma meraih penghargaan Indonesia Dangdud Award kategori “Lifetime Achievement Award.” Penghargaan ini khusus untuk artis dan pelaku seni yang telah memberikan kontribusi luar biasa bagi industri rekaman.

Selamat jalan sang superstar dangdut….

Penulis: Sahabat Jang Itam

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pendulang Tradisional Terjaring, Polisi Bongkar Dapur Emas Ilegal di Kuansing

3 Februari 2026 - 11:19 WIB

Jadwal Nisfu Syaban 2026 dan Amalan yang Dianjurkan

1 Februari 2026 - 06:35 WIB

Relokasi Eks Penghuni TNTN di Cerenti Dinilai Lemah Secara Hukum

31 Januari 2026 - 08:16 WIB

Sekolah Rakyat ke-4 Dibangun di Kuansing, Pemprov Riau Perluas Akses Pendidikan Gratis

22 Januari 2026 - 13:43 WIB

BRK Syariah Perkuat Peran sebagai Mitra Strategis Daerah, Buka Peluang Pembiayaan Pembangunan Kuansing

9 Januari 2026 - 17:01 WIB

Trending di Bisnis