RiauKepri.com, SIAK- Senja belum sepenuhnya hilang ketika Bupati Siak, Dr. Afni Zulkufli, kembali ke rumah masa kecilnya di tengah kesibukan sebagai kepala daerah. Hari itu, ia baru saja melantik lima pejabat eselon II hasil asesmen. Tapi bukan ke rumah dinas ia pulang sore itu, melainkan ke rumah orang tuanya, untuk sekadar berbuka puasa bersama ibunda tercinta.
Di rumah kayu yang sederhana namun penuh kenangan itu, Afni menyempatkan diri memperlihatkan foto-foto pelantikan kepada sang ibu.
“Ibu, awak tadi Alhamdulillah dah melantik pejabat eselon II Siak. Ibu nak nengok foto awak melantik pejabat-pejabat Siak tak?” tanyanya ringan.
Sang ibu, yang meski dalam kondisi kesehatan yang menurun tetap tekun menjalani ibadah sunnah, puasa, menyambut dengan senyum dan anggukan hangat. Satu per satu foto hasil jepretan fotografer Humas ditunjukkan.
“Gagah semuo…” komentar sang ibu, mengamati sosok-sosok yang kini memegang amanah besar di kabupaten itu.
Di tengah tawa kecil dan percakapan ringan, tiba-tiba sang ibu menatap lebih dalam.
“Tapi di foto ni Ibu tengok engkau tambah gemuk…”
Bupati Afni pun tersenging, tersenyum simpul. “Nantiklah awak kuruskan badan,” jawabnya.
Namun sang ibu tak tinggal di urusan bentuk tubuh. Ada hal lebih dalam yang ia sampaikan, nasihat dari hati terdalam, dari seorang ibu kepada anaknya, yang kini mengemban amanah memimpin daerah.
“Itu tak penting,” ucapnya tenang.
“Yang penting sehat. Jangan tinggalkan salat, sempatkan ngaji, pegang teguh pada tali Allah. Jangan terniat mengambik yang tak halal. Jangan cakap menyerah mengurus rakyat. Jalani ajo seikhlasnyo, yang penting niat elok. Allah Maha Tahu. Maha Melihat. Yakin ajo, di setiap kesulitan pasti ado kemudahan. Allah dah janji begitu dalam Al-Qur’an,” kata sang Ibu.
Petuah itu seperti mengisi ulang daya dan semangat yang terkuras dalam rutinitas birokrasi dan beban kepemimpinan. Tak semua kepala daerah bisa menemukan ruang sunyi seperti ini, sebuah ruang yang memberi kekuatan, bukan dari sorotan kamera atau panggung politik, tapi dari nasihat seorang ibu.
Malam pun menjelang. Setelah salat Isya, Afni harus kembali ke rumah dinas, memimpin rapat. Sang ayah mengantar sampai ke depan pintu, seperti biasa. Sebelum melangkah, ia sempat menoleh, memotret rumah kayu masa kecilnya.
Ada rindu yang tertahan. Rindu pada masa-masa saat dunia belum seramai sekarang, saat hidup masih sesederhana menjadi rakyat biasa.
Kini, semua sudah berubah. Tapi ada yang tetap: doa dan petuah orang tua yang menjadi pegangan, penguat langkah dalam mengabdi pada tanah tumpah darah, Siak. (RK1)







