Nabi Sulaiman ‘alaihissalam adalah simbol keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara akal dan wahyu, antara kekuasaan dan ketundukan. Allah memberinya kerajaan yang tak tertandingi, jin, manusia, hewan, angin, dan bahkan makhluk halus tunduk pada perintahnya. Dalam puncak kuasa itulah justru Nabi Sulaiman tidak pernah lupa bahwa semua itu hanyalah amanah, bukan milik. Sehingga Beliau sadar betul bahwa apa yang dilkaukan hanya mengharap ridho Sang Maha Kuasa.
Hakikat Nabi Sulaiman terletak pada tauhid yang hidup di dalam kuasa. Beliau tahu bahwa kekuasaan tanpa iman akan melahirkan kesombongan, sementara iman tanpa amal akan kehilangan arah. Untuk itulah, seluruh hidupnya adalah bentuk dzikir, bukan hanya di mihrab, tapi juga di singgasana. Beliau memerintah bukan dengan amarah, tapi dengan hikmah.
Ketika Beliau mendengar semut berkata, “Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarangmu agar tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya,” Nabi Sulaiman tersenyum. Beliau mendengar bisikan kecil alam, dan dari situ ia belajar tentang kerendahan hati seorang raja di hadapan makhluk sekecil semut.
Hakikat Nabi Sulaiman bukan tentang kekayaan yang menumpuk, tapi tentang kekuasaan yang tetap sujud. Beliau memiliki dunia, tapi dunia tidak memiliki hatinya. Beliau memerintah makhluk, tapi hatinya diperintah oleh Allah. Beliau menundukkan jin, tapi dirinya tunduk kepada Tuhan semesta alam.
Hang Kafrawi







