Oleh : Buana F Februari*
*Penulis menganggap Bang Azhar seperti Bapak sendiri
“Bang, Bapak kawan meninggal”, sebaris kalimat pendek yang masuk ke saluran WhatsApp (WA) dari seorang M. Roma Ardadan J, sejenak membuat aku kehilangan kemampuan tegar, denyut jantung melemah dan kempis paru-paru menipis, aku tersandar dalam gelap pejaman mata, bathinku terisak lirih, kata hatiku memanjat doa memohon pada Ilahi, “Ya Allah Ya Robb, tempatkan lah ayahanda Azhar di tempat yang terbaik di sisi-Mu. Aamiin YRA”.
Wafatnya seorang Azhar Syam Bin Syamsudin pada hari Jumat, pukul 20.33 Wib di tanggal 7 November 2025 menimbulkan rasa duka yang mendalam, tak hanya bagi keluarga besar namun rasa kehilangan juga melanda kami, orang-orang yang dekat dan sangat paham betul figur seorang ayah panutan dan penuntun keluarga seperti beliau yang lebih dakrab disapa Bang Azhar.
Aku bergegas menuju kediaman Bang Azhar di Jl. Brigjen Katamso pas di seberang Kantor Pos Tanjungpinang, turun sedikit jalan menurun lalu belok ke kiri dan tibalah di rumah persemayaman terakhir Almarhum, saat aku sampai di rumah duka, orang sudah ramai bersiap menyambut kedatangan jenazah, berbagai persiapan dibuat, dari mendirikan tenda, menyusun kursi hingga perapian dalam rumah bagi pembaringan jasad sang ayah dari 2 sahabat baik ku, M. Roma Ardadan J dan M. Rona Andaka S,.
Para pemuda dan tokoh masyarakat di sekitar tempat tinggal Almarhum bergerak sangat sigap dan cekatan menyiapkan segala hal bagi penyambutan jenazah yang datang, dari raut wajah mereka aku dapat melihat guratan kesedihan dan rasa tak percaya, kenapa begitu cepat, Bang Azhar pergi.
Dalam suasana takziah itu, aku mendengar dari kiri dan kanan, depan dan belakang, dari sudut dan pojokan, semua bercerita tentang kenangan bersama Almarhum, kesimpulan yang ku dapat secara aklamasi semua menyebut bahwa Bang Azhar adalah orang baik. Kebaikan yang Almarhum torehkan sejak dulu terus membekas di hati setiap orang, maka tak heran pada Pemilu 2009, Bang Azhar terpilih sebagai Anggota DPRD Kota Tanjungpinang dari Daerah Pemilihan (Dapil) Bukit Bestari, selama menjabat sebagai legislator, dedikasi dan pengabdian untuk daerah telah dibuktikan. Maka sekarang walaupun tak lagi menegang jabatan legislator atau ketua partai namun kabar duka kepergian Almarhum menyentuh nurani terdalam setiap orang yang pernah bergaul dan berinteraksi dengannya, gelombang pentakziah terus berdatangan beriring malam mulai pekat seperti barisan semut hitam di atas batu hitam,.
Menjelang tengah malam, aku tersentak, dari jauh ku lihat sesosok pria sederhana dengan senyum khas dan tatapan menyejukkan, tak lain adalah Lis Darmansyah, Wali Kota Tanjungpinang, Bang Lis, begitu biasa kami menyapanya, tampak tak mampu juga menyembunyikan rasa duka dan kesedihan, saat bersalaman denganku, aku dapat merasakan itu. Bang Lis meski sesibuk apapun, ia akan selalu menyempatkan diri hadir di kala warga nya berduka, tak banyak pemimpin seperti ini, kalaupun ada ya Bang Lis ni lah.
Sesuai jadwal dari keluarga, Bang Azhar akan dikebumikan pada hari Sabtu, (8/11/2025) lepas sholat Zuhur di pemakaman umum Anggrek Tanjungpinang, jenazah akan disholatkan di Masjid Al-Hidayah, semasa hidupnya beliau memang menjadi jemaah tetap di Masjid ini.
Aku dibuat kembali terharu ketika sampai di Masjid, jenazah sudah disambut para pengurus Masjid dan jemaah yang begitu ramai sehingga kapasitas masjid menjadi terpenuhi dengan barisan shaf yang menunaikan sholat Zuhur disambung sholat jenazah Bang Azhar. Aku mendapat posisi sholat Zuhur pas di samping keranda sehingga tak elak ketika jenazah akan dipindah ke depan, aku ikut mengangkatnya, dan aku seperti tidak sedang mengangkat apapun, keranda yang berisi jenazah Bang Azhar terasa begitu ringan, dalam hati aku berdoa semoga beliau husnul khatimah. Barisan shaf makmum terbaris rapat sangking penuhnya Masjid dan yang menjadi imam pelaksanaan sholat jenazah adalah Roma, anak kandung almarhum yang terlihat ikhlas melepas kepergian Ayahanda tercinta bukan dengan tangisan tapi doa dalam untaian.
Selesai disholatkan, jenazah segera diangkat dan dibawa ke pemakaman , siang itu cuaca begitu cerah, padahal November ini Tanjungpinang kerap diguyur hujan, kembali aku terpana melihat kerumunan para jemaah di Masjid tadi mereka pun tetap setia ikut mengantar jenazah hingga ke liang kubur, sungguh menjadi saksi melepas Bang Azhar ke pembaringan terakhir adalah momentum tak ternilai, buat aku, kenangan bersama Bang Azhar sama indahnya dengan masa-masa aku dalam pangkuan dan didikan Ayahku H. Burhanuddin bin Daeng Massengeng, aku mengagumi dan menghormati Ayahku. “Sehat selalu pa.. Aamin YRA.”
Rasanya kehilangan Bang Azhar itu seperti perasaan yang pernah ada, tak bisa diungkapkan, hanya bisa dirasakan.







