Menu

Mode Gelap
Gedung Baru Polsek Rangsang Barat Diresmikan, Tingkatkan Pelayanan kepada Masyarakat Terasi Ketapang Permai Dongkrak Perekonomian Masyarakat Pesisir Pagar Camp Rusak, Bocah Tewas Diterkam Harimau Sumatera di Pelalawan Satresnarkoba Polres Bengkalis Bongkar Jaringan Narkoba, Sita 8 Paket Besar Sabu dan Ekstasi Prakiraan Cuaca Kepri Jumat, 10 Juli 2026: Hujan Ringan Berpotensi Guyur Tanjungpinang, Batam hingga Natuna Jembatan Merah Putih Presisi Tahap II Di Resmikan Polres Meranti Bukti Nyata Bakti Polri Untuk Masyarakat

Ragam

Engku Lomah Mudahi (1907-1991): Pejuang “Mata Pena” dari Kuantan Singingi

badge-check

Ongku Lomah Mudahi Perbesar

Ongku Lomah Mudahi

KUANTAN SINGINGI punya seorang tokoh yang ikut mewarnai perjalanan bangsa ini. Seorang pendidik, pejuang, ulama, dan sederetan jabatan yang melekat pada dirinya.

… Seorang tokoh yang tak mau di-tokoh-kan.
… Seorang guru yang pantas digugu, ditiru, dan tidak menggurui dalam mencerdaskan anak bangsa.
… Seorang pejuang yang tanpa pamrih yang sangat disegani karena kedalaman ilmu dan agamanya.

Engku Loma Mudahi juga:
… Seorang pemikir yang berpandangan jauh ke depan.
… Seorang pemimpin yang sejuk dan berhati mulia.
… Orang tua angkat bagi ratusan pelajar yang pernah dididiknya bahkan tinggal di kediamannya yang sederhana di Sentajo

Siapakah Dia?

DIA adalah Mudahi lebih akrab disapa Engku atau Ongku Loma Mudahi. Lahir pada 1907 di Kenegerian Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Mudahi, anak kedua dari tujuh bersaudara pasangan Pokiah Su’an dan Bima. Saudara kandungnya yang lain adalah Kunsin, Ani Kolang, Alama Zamzami, Kunoan, Abdul Latif, dan Alaf.

Masa kecil dan remaja, Mudahi tumbuh di tengah perubahan besar, melewati tiga zaman: penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, dan masa kemerdekaan Indonesia. Mudahi menjalani pendidikan Sekolah Desa atau Volksschool atau Sekolah Rakyat (SR), yang setara dengan SD pada zaman penjajahan Belanda.

Setemat SR, Mudahi melanjutkan pendidikan ke Perguruan Thawalib Padang Panjang yang didirikan oleh sebelum tahun 1900-an. Bersama Yahikam dan Mahmud @Ongku Kali, Mudahi merupakan putra Sentajo angkatan pertama yang melanjutkan pendidikan ke ke Thawalib Padang Panjang.

Pada awal kemerdekaan RI bersama kawan seperjuangannya alumnus Thawalib Padang Panjang dan Batu Sangkar seperti Yahikam @Datuk Penghulu Malin dan Ongku Kali Mahmud, Syamsuddin, Amir Syarwi, Yac’ub, mereka mendirikan Yayasan Nurul Islam. Kelak mendirikan sekolah Mualimin sebelum kemerdekaan dan SMP Muhammadiyah (1949 -1952) pada awal kemerdekaan RI di Kenegerian Sentajo.
Inilah SMP pertama yang didirikan Persyarikatan Muhammadiyah di Kuantan Singingi yang menggunakan sistem klasikal (jenjang kelas).

Di Persyarikatan Muhammadiyah Ranting Sentajo yang berdiri pada awal kemerdekaan, Mudahi ditunjuk sebagai penasehat. Sedangkan pengurusnya adalah Syamsuddin (Ketua), Amir Syarwi (Sekretaris), dan Ya’cub (Bendahara). Parsyarikatan ini membubarkan diri karena sebagain besar pengurusnya bergabung dengan Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) yang bergabung dengan Pemerintah Reveluisoner Republik Indonesia (PRRI) yang melakukan perlawanan terhadap kesewenangan-wenangan Pemerintah Pusat terhadap daerah.

Masyumi adalah partai politik Islam terbesar di Indonesia era Demokrasi Liberal (1945-1960). Partai ini menjadi wadah bagi kekuatan politik Islam yang kuat dengan tokoh seperti Mohammad Natsir, Hasyim Asy’ari, dan Agus Salim yang berjuang menegakkan Islam sebagai dasar negara dalam bingkai Negera Kesatuan Republik Indonesia, namun dibubarkan Soekarno tahun 1960 karena dituduh terlibat PRRI.

Mudahi juga tercatat sebagai Wali Kenegerian atau Pak Wali Kenegerian Sentajo pertama sejak Indonesia Merdeka. Setelah itu baru menyusul penggantinya secara berturut-turut Usman Kadir @Datuk Penghulu Kayo dari suku Patopang, Samsuddin (Paliang Ujung Tanjung), Mohd. Samin (Patopang), Rasulin (Paliang Soni), dan Bukhari S (Paliang Ujung Tanjung).

Mudahi merupakan satu diantara tokoh masyarakat Kuantan Singingi yang ditunjuk sebagai anggota Badan Pengurus Harian (BPH) yang terlibat langsung dalam pemekaran Kabupaten Indragiri menjadi Indragiri Hilir dan Indagiri Hulu. Kemudian pada tahun 1953 dia terlibat pada Kongres Rantau Kuantan memperjuangkan Rantau Kuantan menjadi kabupaten otonom.

Dan, Mudahi juga terlibat dalam Kongres Rakyat Riau (KRR) I yang diadakan pada 31 Januari – 2 Februari 1956 di Pekanbaru. Kongres merupakan bertujuan membentuk Provinsi Riau pisah dari Sumatra Tengah. Tokoh lainnya dari Kuantan Singingi yang terlibat dalam KRR I itu di antaranya adalah Umar Amin Husin, Buya Ma’rifat Mardjani, Radja Roesli, dan Abdoerraoef.

 

MUDAHI menikah dengan Ojah dari suku Paliang Ujung Tanjung. Dari pernikahan itu anak-anaknya adalah Rosdiana, Nurbaidah, Megawati, Nuzirwan, dan Musniati. Rosdiana anak tertua Mudahi tercatat peraih gelar Bachelor Art (BA) adalah Sarjana Muda pertama di Sentajo dari Universitas Brawijaya (Unibraw) filial Malang. Unibraw jadi cikal IKIP Malang yang kini berubah nama menjadi Universitas Negeri Malang.

Rusman Abrus adik kandung dari Rustam S. Abrus dari dalam catatan pribadinya menyebutkan: setamat SMA Muhammadiyah di Padang abangnya (Rustam S. Abrus) mengikuti jejak kakak angkatnya (Rosdiana) asal Sentajo kuliah di Malang. “Bang Rustam memilih kuliah di Ekonomi sementara Kak Rosdiana kuliah di Keguruan. Keduanya menyelesaikan sarjana mudanya di perguruan tinggi tersebut,” ujar anak dari pasangan Sarmin Abrus dan Rugo Samad kelahiran Baserah, Kecamatan Kuantan Hilir ini.

Kelak kemudian hari Rosdiana setemat dari kuliah Rosdiana bekerja sebagai pendidik (guru) di Tembilahan dan Pekanbaru. Kemudian sang adik angkat Rustam S Abrus terakhir menjabat sebagai Wakil Gubernur Riau. Keduanya sudah dipanggil Yang Maha Kuasa.

Sebuah Kesan

LALU apa catatan mereka tentang sosok guru yang tak pernah mengurui ini. Tokoh yang tak mau di-tokoh-kan. Berkepribadian sederhana, santun, dan punya pandangan jauh ke depan yang berjuang dengan hati dan mata penanya dalam melawan kebathilan.

Sengaja kami muat utuh agar jangan gagal fokus.

Inilah Kesan dr.Taswin Yacub, S.PS:

“Abang tidak bisa melupakan Ongku Lomah Mudahi itu. Ketika Abang bertugas sebagai Kepala Puskesmas Baserah (1982 – 1984 ), abang disambut baik oleh keluarga besar H. M. Noer Raoef, karena Abang adalah cucu Ongku Lomah Mudahi. Abang jadi seperti di Sentajo karena banyak saudara dan famili di Baserah.

Pada 1984 Abang terpilih jadi Dokter Teladan Tingkat Nasional dari Riau. Abang sempat ikut Upacara Kenegaraan 17 Agustus 1984 di Istana Negara, Jakarta bersama Presiden Suharto. Semua ini berkat dukungan masyarakat Kuantan Hilir.”

Lalu Taswin Yacub melanjutkan:

“Ketika Abang bertugas sebagai dokter spesialis saraf di Banda Aceh (1992 – 2000), Abang diminta pindah ke Pekanbaru oleh Wakil Gubernur Riau, Rustam S. Abrus karena dia tahu Abang putra Riau, cucu Ongku Lomah Mudahi dan anak pengurus Muhammadiyah Ranting Sentajo.

Abang ikut menjadi Panitia Pendirian Fakultas Kedokteran Universitas Riau diketuai oleh Bapak Rustam S. Abrus. Banyak kenangan Abang bersama Bapak Rustam S. Abrus dalam usaha mewujudkan Fakultas Kedokteran di Universitas Riau.”

Sementara wartawan, politisi senior, dan mantan anggota DPRD Riau asal Baserah Abu Bukar Siddik menulis:

“Masyaallah, setahu aku Datuk Mudahi yang bergelar Ongku Lomah atau yang aku kenal sebagai Ongku Lomah Mudahi itu, adalah guru Ayahanda aku ketika beliau menuntut ilmu di Sekolah Mualimin, Kenegerian Sentajo pada awal-awal perjuangan kemerdekaan.

Disemangati oleh Ongku Lomah Mudahi itulah Ayahanda bergabung menjadi Tentara Pelajar, melakukan perang gerilya di seputaran Sumatra Tengah sampai ke Muko-Muko dan Bengkulen.

Di usia senja, Ongku Lomah Mudahi, menikmati masa tuanya di Jalan depan Pasar Sail Pekanbaru. Suatu ketika, di usia SMP, aku pernah mengantar Ayahanda menemui guru kebanggaan yang amat dihormatinya itu.

Ongku Lomah Mudahi menyambut murid kesayangannya itu dengan air muka bersih berseri dengan kerinduan mendalam, di bilangan Pasar Sail Pekanbaru. Kini keduanya (murid dan gurunya) itu sudah lama tiada, sudah Allah Yarham. Semoga Allah memberi tempat terbaik di sisi-Nya kepada Ayahanda dan Datuk Ongku Lomah Mudahi. Alfatihah. Aamiin YRA.

Diakhir hayat Mudahi tinggal di Jalan Indra Pahlawan No. 3 Sekip, Kecamatan 50, Pekanbaru. Dalam usia 84 tahun
pada 1991 dia meninggal dunia di Pekanbaru. Di kebumikan di Pekanbaru.

Engku Lomah Mudahi pejuang yang berjuang dengan mata penanya melalui jalur pendidikan. Namanya layak diabadikan sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya dalam perjuangan dan mencerdaskan anak bangsa

Naskah: Sahabat Jang Itam
Tanjungpinang 9 Desember 2025.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Siak Naik Peringkat di MTQ Riau, Bupati Afni Siapkan Pembinaan Berkelanjutan

4 Juli 2026 - 08:54 WIB

Perah! Duit Petani pun Diembat Bupati Suhardiman, KPK: SHU KUD Dipotong Setengahnya

2 Juli 2026 - 10:34 WIB

Berapa Harga Jabatannya, Pak? Suhardiman Langsung Terdiam

1 Juli 2026 - 16:39 WIB

Sempat Diultimatum KPK, Bupati dan Sekda Kuansing Akhirnya Menyerahkan Diri

1 Juli 2026 - 05:58 WIB

KPK Buru Bupati dan Sekda Kuansing, 10 Orang Diamankan dalam OTT Jual Beli Jabatan

30 Juni 2026 - 20:29 WIB

Trending di Kuansing