Menu

Mode Gelap
Upaya Pemkab Siak Menghadirkan Listrik ke Pelosok Mulai Berbuah Hasil BSP Turunkan Long Arm Bersihkan Kanal Ring 1 di Dosan, Banjir Berangsur Surut Bupati Kepulauan Meranti Hadiri Pembukaan Rakernas XVII APKASI di Batam Sempena HPN, PWI Kepri Utus Tiga Anggotanya Ikuti Pelatihan Militer di Akmil Magelang Intelektualitas Tanpa Etika Cuaca Kepri Senin, 19 Januari 2026: Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah

Tanjungpinang

Tokoh LAM Kepri Nilai Pernyataan Endipat Tidak Mencerminkan Adab Melayu

badge-check


					Maskur Tilawahyu, Bidang Hukum LAM Kepri. (Foto: Ist) Perbesar

Maskur Tilawahyu, Bidang Hukum LAM Kepri. (Foto: Ist)

RiauKepri.com, TANJUNGPINANG  — Pernyataan Anggota Komisi I DPR Fraksi Partai Gerindra, Endipat Wijaya, mengenai penanganan bencana di Sumatera menuai kritik dari tokoh Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepulauan Riau. Endipat sebelumnya meminta Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) turun tangan terkait maraknya penggalangan dana publik, disertai komentar yang dinilai menyindir dan menimbulkan ketersinggungan.

Maskur Tilawahyu, Bidang Hukum LAM Kepri, menegaskan bahwa pernyataan Endipat dalam video yang viral tersebut tidak mencerminkan adab dan adat masyarakat Melayu. Ia menilai gaya bicara Endipat yang menyindir pihak tertentu dengan sebutan “sok paling-paling” telah mencoreng nama baik Kepri.

“Beliau (Endipat) merusak nama baik Kepri. Sikapnya tersebut tidak mencerminkan adab dan adat orang Melayu Kepri,” ujarnya kepada wartawan.
Maskur mengatakan masyarakat Kepri selama ini menjunjung tinggi nilai sopan santun dalam kehidupan sosial. Bahkan, kata dia, masyarakat memberikan hak pilih kepada Endipat pada pemilu lalu meski tidak banyak mengenalnya secara personal.

“Ini dia pula yang menjelekkan nama baik Kepri,” tambahnya.

Maskur juga menyinggung konteks bencana di Aceh dan Sumatra yang mengingatkannya pada tsunami Aceh. Ia mengatakan masyarakat Kepri memiliki tradisi solidaritas tinggi, termasuk ketika membentuk Aksi Masyarakat Kepri Peduli Aceh pada 2004. Menurutnya, relawan dari Kepri tidak hanya menggalang bantuan, tetapi juga turun langsung ke lokasi bencana.

“Gerakan solidaritas yang beradab itu sudah dibangun sejak lama. Kita, masyarakat Kepri, tidak akan tinggal diam jika saudara-saudara kita tertimpa musibah,” tegasnya.

Sebelumnya, Endipat menyoroti aksi penggalangan dana yang sempat viral dan berhasil menghimpun sekitar Rp 10 miliar. Meski tidak menyebut nama, publik menilai pernyataan itu diarahkan kepada konten kreator Ferry Irwandi, yang mengumpulkan dana publik dalam waktu 24 jam untuk korban bencana.
Dalam pernyataannya, Endipat menilai donasi sebesar Rp 10 miliar tidak sebanding dengan anggaran negara yang sudah digelontorkan untuk penanganan bencana.

“Orang-orang cuma nyumbang Rp 10 miliar. Negara sudah triliun-triliunan ke Aceh itu, Bu. Jadi yang kayak gitu-gitu, mohon dijadikan perhatian,” ujarnya. (RK9/*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kepri Didorong Jadi Pusat Kuliner Halal, Kuota 9.511 Sertifikat Gratis Siap Dimaksimalkan

17 Januari 2026 - 06:30 WIB

HPN 2026 Jadi Momentum Penguatan Peran Pers di Tanjungpinang

15 Januari 2026 - 16:53 WIB

Domino Jadi Jembatan Kebersamaan, Wali Kota Tanjungpinang Bangun Kedekatan dengan Warga

14 Januari 2026 - 17:25 WIB

DPRD Tanjungpinang Juara Turnamen Minisoccer Piala Ketua DPRD Kepri 2026

10 Januari 2026 - 19:08 WIB

PWI Tanjungpinang Matangkan Persiapan HPN 2026 Bersama DPRD

7 Januari 2026 - 11:25 WIB

Trending di Tanjungpinang