Menu

Mode Gelap
Upaya Pemkab Siak Menghadirkan Listrik ke Pelosok Mulai Berbuah Hasil BSP Turunkan Long Arm Bersihkan Kanal Ring 1 di Dosan, Banjir Berangsur Surut Bupati Kepulauan Meranti Hadiri Pembukaan Rakernas XVII APKASI di Batam Sempena HPN, PWI Kepri Utus Tiga Anggotanya Ikuti Pelatihan Militer di Akmil Magelang Intelektualitas Tanpa Etika Cuaca Kepri Senin, 19 Januari 2026: Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah

Minda

Transformasi Museum, Dari Sekadar Pameran Menjadi Pemeran

badge-check


					Transformasi Museum, Dari Sekadar Pameran Menjadi Pemeran Perbesar

Oleh : Buana F Februari
Penulis adalah : Anggota Ikatan Pemandu Museum Indonesia (IPMI)

Secara etimologis, museum berasal dari kata “mouseion” yang berarti “tempat duduk para Musai,” merujuk pada tempat untuk perenungan filosofis atau lembaga filsafat, pengertian secara harfiah tersebut semakin mengukuhkan museum sebagai tempat sakral yang penuh keangkeran karena menjadi wadah menyimpan pelbagai bukti peradaban dari masa ke masa.

Dalam tulisan ini, kita akan lebih banyak membahas tentang Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (SSBA) yang terletak di Jl. Ketapang No. 2, Kota Tanjungpinang, tempat dimana penulis bertugas sebagai Pelaksana Teknis Kebijakan, sebuah penugasan baru yang didapat dari seorang Wali Kota yang sangat peduli dan cinta pada khazanah budaya dan seni Melayu, Lis Darmansyah, begitu nama pak Wali Kota Tanjungpinang, pemimpin pujaan yang tak haus pujian

Sedikit bercerita tentang pengalaman penulis mengunjungi sejumlah museum di seantero dunia, pada September 2014, saat mengikuti Studi Strategis Luar Negeri (SSLN) dari Lemhannas RI ke Polandia yang beribukota di Warsawa, kota tua saksi sejarah terjadinya Perang Dunia I. Muzeum Historii Polski adalah sebuah museum dengan konsep modern, dalam kompleks museum terdapat Benteng Warsawa, ada perpustakaan yang menyimpan sejumlah dokumen sejarah serta buku-buku karya filsuf terkenal, ada ruang konser dengan kapasitas lumayan besar untuk penyelenggaraan even-even musik dan pagelaran budaya.
Sebelum pulang ke Jakarta, menyempatkan transit di Amsterdam dan mengunjungi Van Gogh Muzeum yang menyimpan koleksi sang pelukis yang fenomenal, museum yang menampilkan lukisan dan sketsa penuh eksotisme dan misteri, kita juga dapat membeli replika lukisan yang dijual outlet souvenir di sekitaran gedung Muzeum, sebenarnya masih banyak tempat yang penulis kunjungi di Amsterdam termasuk rumah potong berlian yang berada persis di seberang alun-alun kota dengan tulisan besar Amsterdam dari batu alam tempatan.

Yang jauh sudah yang dekat tak mungkin terlewat, Museum Nasional di bilangan kawasan Monumen Nasional di Jakarta adalah museum yang paling sering penulis datangi, koleksi arca dan artefak sejarah yang dimiliki museum nasional sangat berkesan untuk di lihat dan direnungkan, sekaya ini negeri kita Indonesia sejak dahulu kala dengan emporium Sriwijaya dan Majapahit, siklus peradaban yang mungkin akan kembali mengulang masa kejayaan negeri ini.

Dari pengalaman mengunjungi museum-museum di berbagai negara, penulis merasa terpanggil dan berazam untuk memberikan telaah kebijakan kepada Pemerintah Kota Tanjungpinang terkait Transformasi Museum, menjadikan museum tak hanya sekadar sebagai ruang pameran namun justru menjadi pemeran utama dalam meningkatkan potensi kepariwisataan dan pengembangan UMKM yang dampak luasnya dapat berkontribusi pada Pendapatan Asli Daerah (PAD), kebijakan non populus semisal melelang kawasan Taman Gurindam 12 yang dilakukan Pemprov Kepri memberatkan hati masyarakat terutama para pelaku usaha kecil maka kebijakan inovatif dan kreatif dengan memperluas peran museum diharapkan dapat menggenjot jumlah kunjungan wisatawan baik lokal, domestik maupun mancanegara.

Digitalisasi Museum
Serbuan arus globalisasi di bidang teknologi informasi menjadi keniscayaan, museum sebagai etalase sejarah peradaban dituntut harus menyesuaikan diri dengan kondisi kekinian, deretan koleksi museum dapat dikemas secara apik dalam bentuk foto digital format 2D, 3D dan rekaman vudeo disertai narasi keterangan yang mengurai timeline sejarah, kesemua materi digital tersebut dimuat dalam situs resmi dan saluran media sosial seperti Tiktok, Instagram, Facebook, dan lain-lain. Menggunakan jasa para YouTuber, influenzer dan viewer juga dapat mendongkrak popularitas museum menjadi semakin viral.

Museum Di Kala Malam
Penambahan jam operasional museum di hari tertentu buka pada malam hari merupakan sebuah terobosan baru guna menciptakan suasana dan sensasi tersendiri bagi pengunjung, Night at the Museum adalah program acara khusus yang diselenggarakan di beberapa museum di Indonesia untuk kegiatan edukasi dan hiburan setelah jam buka normal. Contohnya termasuk Museum Geologi di Bandung dan Museum Nasional di Jakarta, yang mengadakan acara seperti workshop, pameran, atau kegiatan lain untuk menarik pengunjung, terutama kaum muda. Acara-acara ini bisa berupa pameran interaktif, lokakarya, nonton bareng, atau diskusi dengan narasumber.
Perluasan spot kunjungan juga dapat dilakukan untuk kegiatan museum di malam hari, ada sejumlah bangunan cagar budaya dan bernilai sejarah di sekitar kawasan Museum SSBA, jadi nantinya para pengunjung dapat terkoneksi dan terintegrasi kunjungan mereka dari titik awal di Museum SSBA keliling ke Vihara tua Bahtera Sasana, Gereja Ayam dan Masjid Agung dengan berjalan kaki sambil menikmati hamparan jajanan kuliner lokal yang disajikan para pelaku usaha UMKM di Tanjungpinang.

Museum Go to School
Museum SSBA Tanjungpinang berbentuk Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) sehingga jangkauan kegiatan bisa lebih lincah, museum dapat memprakarsai berdirinya organisasi kesiswaan yang ruang lingkupnya pada minat dan bakat siswa mengenal peninggalan sejarah dan jejak masa lalu, menghimpun para siswa dalam satu organisasi ekstra kurikuler seperti OSIS atau PMR, dengan melibatkan para siswa dalam setiap kegiatan museum dapat menanamkan rasa kecintaan mereka pada peninggalan seni dan budaya Melayu di Kepulauan Riau khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Museum Not Alone
Terkadang bila mendengar kata museum maka kita akan tergambar pada satu bangunan tua yang penuh kenangan, sepi dan tenang, sudah saatnya Museum SSBA merubah paradigma itu, museum tidak hanya berdiri seorang diri, museum adalah sahabat kita, museum dapat secara rutin menyelenggarakan kegiatan sosialisasi dan edukasi sejarah kepada masyarakat, dari kegiatan tersebut diharapkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga warisan sejarah dan tidak menutup kemungkinan masih banyak barang atau artefak peninggalan para leluhur yang masih dipegang ahli waris dan mungkin tidak terawat, alangkah baiknya benda purbakala tersebut dititipkan di museum.
Banyak hal bisa kita lakukan di museum, penyediaan jaringan Wifi gratis dan tempat duduk nyaman berkonsep taman kota bakal menjadi daya tarik bagi para generasi muda meluang waktu setelah sekolah maupun bekerja.
Lapangan Basket Teladan yang berdekatan dengan museum dapat diubah suai menjadi panggung pagelaran seni dan budaya., jalan Ketapang dapat difungsikan menjadi pusat kuliner malam yang bagi orang Tanjungpinang disebut “Akau”.
Akau yang sebenarnya bersifat temporary atau bongkar pasang di pinggiran jalan, yang sudah dibangun Pemprov Kepri di kawasan Potong Lembu dalam penilaian penulis sudah tidak sesuai dengan sejarah Akau itu sendiri, saran untuk Pemprov Kepri, sebelum membangun lakukan kajian dulu, jangan merusak nilai tradisi masyarakat.

Museum SSBA yang berada di simpang lampu merah (traffic light) pertama yang berdiri di Pulau Bintan punya potensi untuk dikembangkan, kabar baik dari pemerintahan Presiden Prabowo yang membentuk Kementerian Kebudayaan dan telah mampu memboyong pulang ribuan artefak dan benda peninggalan sejarah dari Leiden Belanda, semoga diantara benda-benda tersebut terdapat manuskrip-manuskrip kuno karya para penulis dan seniman Melayu di zaman kerajaan dulu, penambahan ruang penyimpan koleksi dan sarana prasarana penunjang lainnya menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi sebagaimana visi misi “Bima Sakti”, buah pikir pak Wali Kota Lis Darmansyah yang begitu menginspirasi kami para Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam bekerja dan bertekad untuk Tanjungpinang lebih baik.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Intelektualitas Tanpa Etika

19 Januari 2026 - 06:00 WIB

Menampi Dedap

18 Januari 2026 - 09:43 WIB

Hadramaut

17 Januari 2026 - 08:25 WIB

Deteksi Kebocoran Pipa: Dari Kewajiban Teknis Menuju Strategi Integritas Aset Migas

12 Januari 2026 - 09:29 WIB

Sultan Menangis

11 Januari 2026 - 07:32 WIB

Trending di Minda