RiauKepri.com, BATAM – Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menunjukkan daya tahan dan kinerja impresif sepanjang 2025, meski dunia dibayangi ketidakpastian global. Pada triwulan III 2025, ekonomi Kepri tumbuh sebesar 7,48 persen (year on year), jauh melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,04 persen. Capaian tersebut menjadikan Kepri sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sumatera dan ketiga tertinggi secara nasional.
Akselerasi pertumbuhan ini tidak terlepas dari kontribusi sektor-sektor unggulan, seperti industri pengolahan, pertambangan, konstruksi, dan perdagangan. Dari sisi pengeluaran, laju ekonomi Kepri terutama ditopang oleh investasi yang solid, kinerja ekspor bersih, serta konsumsi rumah tangga yang tetap terjaga.
Di tengah pertumbuhan yang tinggi, stabilitas harga di Kepri juga berhasil dipertahankan. Inflasi tercatat tetap berada dalam sasaran nasional 2,5±1 persen. Pada November 2025, inflasi Kepri tercatat 0,23 persen (mtm) atau 3,00 persen (yoy). Kondisi ini mencerminkan keberhasilan sinergi pengendalian inflasi melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dengan strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, ketersediaan pasokan, dan komunikasi efektif.
Bank Indonesia Perwakilan Kepri turut berperan menjaga stabilitas sistem keuangan daerah. Fungsi intermediasi perbankan terus berjalan positif, tercermin dari pertumbuhan kredit, aset, dan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tetap solid dengan tingkat kredit bermasalah (NPL) yang rendah. Dampaknya, kesejahteraan masyarakat juga menunjukkan perbaikan, ditandai dengan penurunan tingkat kemiskinan dan peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), meski sejumlah indikator seperti Tingkat Pengangguran Terbuka dan rasio ketimpangan masih memerlukan perhatian.
Sejalan dengan itu, penguatan sistem pembayaran dan digitalisasi keuangan terus dipercepat. Bank Indonesia Kepri memastikan ketersediaan Uang Layak Edar (ULE) selama momen Natal dan Tahun Baru melalui program SERUNAI 2025 dengan nilai penukaran mencapai Rp2,01 miliar. Di sisi non-tunai, perluasan akseptansi QRIS menunjukkan pertumbuhan signifikan, baik dari sisi jumlah pengguna, merchant, hingga volume transaksi, termasuk penguatan QRIS lintas negara yang mendukung sektor pariwisata.
Pengembangan UMKM menjadi pilar utama penguatan ekonomi daerah. Sepanjang 2025, BI Kepri mengakselerasi UMKM melalui tiga pilar utama, yakni korporatisasi, peningkatan kapasitas, dan pembiayaan. Berbagai event strategis berhasil mendorong kinerja UMKM, seperti Gebyar Melayu Pesisir (GMP) yang mencatatkan komitmen ekspor Rp1,4 miliar, penjualan UMKM Rp12,85 miliar, serta kesepakatan pembiayaan baru sebesar Rp3,25 miliar.
Kegiatan Kepulauan Riau Ramadhan Fair (KURMA) juga mencatat penjualan UMKM lebih dari Rp2,7 miliar dan pembiayaan Rp2,19 miliar, meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, event CERNIVAL dan BERLAYAR sukses memperluas transaksi digital hingga wilayah terluar Kepri, dengan ratusan ribu transaksi QRIS dan lonjakan nominal penjualan UMKM.
Ke depan, perekonomian Kepri masih akan menghadapi tantangan global, mulai dari dinamika perdagangan internasional hingga konflik geopolitik. Namun demikian, peluang tetap terbuka melalui penurunan suku bunga, kepastian regulasi, dan promosi investasi yang berkelanjutan. Bank Indonesia memproyeksikan ekonomi Kepri tumbuh pada kisaran 6,5–7,3 persen pada 2025 dan 6,4–7,2 persen pada 2026, dengan inflasi yang tetap terjaga dalam sasaran.
Untuk menjaga momentum tersebut, BI Kepri menegaskan komitmennya melanjutkan berbagai program strategis pada 2026, mulai dari penguatan UMKM, digitalisasi pembayaran, elektronifikasi transaksi pemerintah daerah, hingga penyediaan uang layak edar pada momen hari besar keagamaan. Sinergi seluruh pemangku kepentingan dinilai menjadi kunci agar pertumbuhan ekonomi Kepri tetap inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing tinggi. (RK6/*)







