RiauKepri.com, LONDON — Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membawa dua sisi mata uang bagi perekonomian Inggris. Di satu sisi, teknologi ini mendorong lonjakan produktivitas perusahaan. Namun di sisi lain, dampaknya mulai terasa pahit bagi para pekerja, seiring meningkatnya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan menyusutnya peluang kerja baru.
Sejumlah perusahaan di Inggris dilaporkan mencatat pertumbuhan produktivitas rata-rata hingga 11,5 persen berkat adopsi AI. Efisiensi operasional meningkat signifikan, terutama dalam sektor teknologi, jasa profesional, dan administrasi. Namun, kemajuan tersebut diiringi dengan pengurangan tenaga kerja dalam skala besar.
Morgan Stanley mengungkapkan, pekerja di Inggris menjadi kelompok paling terdampak oleh transformasi digital berbasis AI dibandingkan negara maju lainnya. Sepanjang tahun lalu, perusahaan-perusahaan di Negeri Ratu Elizabeth memangkas sekitar 8 persen tenaga kerjanya, menjadikan Inggris sebagai negara dengan tingkat PHK tertinggi di antara Jerman, Amerika Serikat, Jepang, dan Australia.
Tak hanya PHK, penurunan lowongan pekerjaan juga semakin mencolok. Data Kantor Statistik Nasional mencatat, lowongan kerja yang berpotensi digantikan AI merosot hingga 37 persen, sementara posisi lain turut menyusut sekitar 26 persen. Pengurangan terbesar terjadi pada profesi pengembang perangkat lunak, konsultan, layanan administrasi, serta sektor teknologi informasi.
Justin Moy dari EHF Mortgages menilai, meningkatnya biaya tenaga kerja membuat pelaku usaha, khususnya bisnis kecil, beralih ke solusi AI dan outsourcing. “Tekanan biaya memaksa perusahaan mencari alternatif yang lebih efisien, sehingga peran-peran tradisional yang sebelumnya diisi pekerja lokal kini semakin terpinggirkan,” ujarnya.
Morgan Stanley menambahkan, sekitar seperempat posisi di banyak perusahaan kini tidak lagi diisi ulang setelah ditinggalkan karyawan. Fenomena ini menunjukkan perubahan struktural pasar kerja yang semakin bergantung pada otomatisasi.
Meski demikian, dari sisi makroekonomi, AI diproyeksikan menjadi motor pemulihan ekonomi Inggris. Teknologi ini diperkirakan mampu mendongkrak pertumbuhan produktivitas nasional hingga 0,8 persen dalam satu dekade ke depan.
Namun tantangan sosial tak bisa diabaikan. Sejak 2022, jumlah lowongan kerja di seluruh sektor ekonomi Inggris turun hampir sepertiga atau setara dengan hilangnya sekitar 500 ribu posisi. Sekitar 20 persen di antaranya berasal dari sektor yang paling terdampak adopsi AI, seperti pekerjaan profesional, ilmiah, teknis, administrasi, dan IT.
Kondisi ini memunculkan dilema besar bagi Inggris: memanfaatkan AI untuk pertumbuhan ekonomi, sembari memastikan transisi tenaga kerja berlangsung adil dan inklusif agar tidak memicu krisis pengangguran jangka panjang. (*)







