RiauKepri.com, GAZA – Gencatan senjata di Jalur Gaza kembali diuji setelah gelombang serangan udara Israel pada Sabtu (31/1/2026) menewaskan sedikitnya 32 warga Palestina. Insiden ini memperdalam krisis kemanusiaan di wilayah padat penduduk tersebut, di tengah harapan warga akan meredanya konflik.
Otoritas setempat di Gaza melaporkan, sebagian besar korban merupakan perempuan dan anak-anak. Serangan menghantam sejumlah kawasan permukiman, tenda-tenda pengungsi, serta tempat penampungan warga yang sebelumnya dianggap relatif aman.
Badan pertahanan sipil Gaza menyebutkan, serangan paling intens terjadi di wilayah selatan, termasuk Khan Younis dan Rafah. Warga menggambarkan situasi ini sebagai eskalasi paling parah sejak fase kedua gencatan senjata diberlakukan awal Januari lalu.
“Kami menemukan anak-anak di jalanan, terluka dan tak bernyawa. Mereka seharusnya dilindungi oleh kesepakatan gencatan senjata,” ujar Samer al-Atbash, salah satu keluarga korban, dengan suara bergetar.
Militer Israel membenarkan adanya serangan udara tersebut. Dalam pernyataannya, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyebut operasi itu sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas, termasuk aktivitas militan dari jaringan terowongan bawah tanah di Rafah timur.
IDF bersama Badan Keamanan Israel (ISA) mengklaim telah menghantam gudang senjata, fasilitas perakitan senjata, serta lokasi peluncuran roket di wilayah Gaza bagian tengah. Namun, serangan itu turut menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar.
Hamas mengecam keras serangan tersebut dan menuding Israel terus melanjutkan agresi militer secara sistematis. Kelompok itu mendesak komunitas internasional, khususnya Amerika Serikat, agar segera mengambil langkah tegas guna menghentikan eskalasi.
Pejabat Rumah Sakit Shifa di Gaza mengonfirmasi bahwa satu serangan udara menghantam sebuah apartemen permukiman dan menewaskan tiga anak. Sementara itu, tujuh anggota satu keluarga pengungsi dilaporkan tewas di Khan Younis.
Serangan ini terjadi menjelang rencana pembukaan kembali perlintasan Rafah di perbatasan Gaza–Mesir pada Minggu (1/2/2026), yang diharapkan dapat membuka akses bantuan kemanusiaan. Mesir dan Qatar, dua mediator utama gencatan senjata, mengecam eskalasi tersebut dan menyerukan semua pihak menahan diri demi mencegah jatuhnya korban lebih banyak.
Ketegangan terbaru ini semakin mempertegas rapuhnya kesepakatan gencatan senjata, sekaligus memperburuk penderitaan warga sipil yang telah lama terjebak dalam konflik berkepanjangan. (*)







