RiauKepri.com, TANJUNGPINANG — Tim penelitian penerima hibah Dana Indonesiana 2025 yang diketuai Deni Afriadi melakukan penelusuran lapangan di Tanjungpinang, Pulau Penyengat, dan Daik Lingga, Kepulauan Riau, pada 17–24 Februari 2026. Penelitian ini menjadi tahap awal untuk menelusuri sejarah, perkembangan, persebaran, dan transformasi Teater Bangsawan Melayu.
Dalam penelitian tersebut, Deni Afriadi bersama tim melakukan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dokumentasi, serta penelusuran sejumlah lokasi yang memiliki keterkaitan dengan keberadaan Teater Bangsawan.
Tim penelitian terdiri atas Jefrizal, Iik Idayanti, Monda Gianes, Julisman, dan M. Rafis. Tim bekerja bersama dalam proses pengumpulan data dan dokumentasi di sejumlah lokasi penelitian.
Penelusuran diawali di Tanjungpinang, kemudian dilanjutkan ke Pulau Penyengat dan Daik Lingga. Di setiap lokasi, tim menggali informasi mengenai aktivitas pertunjukan, pelaku seni, ruang pertunjukan, serta jejak sejarah yang berkaitan dengan perkembangan Teater Bangsawan.
Ketua tim penelitian, Deni Afriadi saat ditemui (20/2/2026), mengatakan Kepulauan Riau menjadi wilayah penting dalam penelitian karena memiliki keterkaitan historis dengan perkembangan Teater Bangsawan di kawasan Melayu.
“Kami ingin melihat perjalanan Teater Bangsawan secara lebih utuh. Karena itu, penelitian tidak hanya dilakukan melalui sumber tertulis, tetapi juga dengan mendengar kesaksian pelaku seni dan masyarakat serta menelusuri jejak yang masih dapat ditemukan di lapangan,” kata Deni.
Menurut Deni, data yang diperoleh dari Tanjungpinang, Pulau Penyengat, dan Daik Lingga nantinya akan dibandingkan dengan temuan dari wilayah lain untuk melihat hubungan dan perubahan Teater Bangsawan dalam perjalanan sejarahnya.
“Setiap daerah memiliki pengalaman dan perkembangan yang berbeda. Data dari Kepulauan Riau akan kami hubungkan dengan data dari wilayah Riau untuk melihat bagaimana Teater Bangsawan berkembang dan mengalami transformasi ketika berada di lingkungan masyarakat yang berbeda,” ujarnya.
Setelah menyelesaikan penelusuran di Kepulauan Riau, tim akan melanjutkan penelitian di Provinsi Riau, di antaranya Bengkalis dan Pekanbaru.
Di Bengkalis, tim akan menggali informasi dari para seniman yang memiliki pengalaman mengenai Teater Bangsawan sekaligus menelusuri dan mendokumentasikan jejak bangunan yang pernah digunakan sebagai tempat atau pusat pertunjukan.
Sementara itu, Pekanbaru menjadi bagian dari penelusuran untuk melihat perkembangan Teater Bangsawan dalam konteks masyarakat perkotaan serta keberlanjutan kesenian tersebut di Riau.
Deni mengatakan penelusuran lintas wilayah diperlukan karena perjalanan Teater Bangsawan tidak dapat dipahami hanya berdasarkan satu daerah.
“Kami mencoba membaca Teater Bangsawan sebagai bagian dari jaringan budaya Melayu. Karena itu, data dari Kepulauan Riau, Bengkalis, dan Pekanbaru perlu dilihat secara berhubungan agar perjalanan dan perubahan Teater Bangsawan dapat dipahami dengan lebih baik,” katanya.
Rangkaian penelitian tersebut selanjutnya akan dilengkapi dengan analisis terhadap data wawancara, dokumentasi lapangan, dan sumber sejarah lainnya. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai perjalanan dan transformasi Teater Bangsawan Melayu sekaligus menjadi dokumentasi bagi upaya pelestarian seni pertunjukan tersebut.
Penelitian ini merupakan bagian dari pelaksanaan hibah Dana Indonesiana 2025 yang diarahkan pada pendokumentasian dan kajian terhadap keberadaan serta perkembangan Teater Bangsawan di kawasan Melayu. (RK2)









