DALAM kitab lama orang Melayu, Wak, raja itu bukan sekadar orang pakai mahkota yang duduk disinggasana. Dia itu bayang-bayang Tuhan di bumi, suara yang dititahkan, hukum yang dijunjung. Maka lahirlah petuah tua: raja alim raja disembah, raja zalim raja disanggah.
Petuah ini bukan kalimat hiasan di dinding balai adat saja, tapi semacam alarm sosial. Kalau raja baik, rakyat tepuk tangan. Kalau raja mulai berulah, rakyat mulai batuk-batuk, tanda tak setuju.
Syahdan, tersebutlah kisah Sultan Mahmud II, raja Johor yang naik takhta masih budak-budak umur 10 tahun. Awalnya eloklah negeri, sebab yang pegang kendali ibunda dan Bendahara. Tapi bila kuasa sudah di tangan sendiri, lain pula ceritanya.
Perangai baginda, kata orang tua-tua, makin hari makin “tak masuk dek akal, tak lepas dek hati.” Rakyat bukan lagi dipelihara, tapi dibuat resah. Hingga akhirnya, pada tahun 1699, baginda mangkat, bukan di ranjang empuk istana, tapi di tengah arakan menuju masjid.
Ditikam oleh orang dalam sendiri. Maka terkenallah kisah itu dengan nama “Sultan Mangkat Dijulang.” Nah, di sinilah pelajaran Melayu itu hidup, Wak. Bukan rakyat tak hormat raja. Tapi bila raja tak hormat rakyat, maka hormat itupun pelan-pelan angkat kaki.
Kalau kita tarik benang sampai ke zaman sekarang, kisah begitu bukan dongeng semata. Dunia modern pun penuh cerita serupa. Ada Laurent-Désiré Kabila yang tumbang oleh pengawal sendiri. Ada Abraham Lincoln dan John F. Kennedy yang ditembak di negeri yang katanya paling demokratis.
Maknanya apa, Wak? Kekuasaan itu ibarat api. Kalau dipakai memasak nasi, kenyanglah rakyat. Tapi kalau dilepas sembarangan, hangus satu kampung.
Nah, masuklah kita ke negeri sendiri yang tercinta ini. Negeri kaya raya, tanahnya subur, lautnya luas, tapi kadang rakyatnya masih sibuk bertanya: “Hari ini makan apa?”
Lalu muncullah program sana-sini, termasuk yang disebut-sebut macam “MBG” itu, niatnya baik, katanya untuk rakyat, untuk perut yang lapar, untuk masa depan anak bangsa. Tapi dalam adat Melayu, niat baik saja belum cukup, Wak.
Masakan gulai kalau niatnya baik tapi garamnya lupa dimasukkan, tetap saja hambar rasanya. Rakyat ini bukan tak tahu berterima kasih. Tapi rakyat juga pandai merasa. Kalau janji tinggal janji, kalau program lebih banyak di kertas daripada di piring, maka mulailah keluar “suara batuk” tadi, pelan-pelan, tapi lama-lama jadi batuk berdahak, berlendei kalau meludah pemimpin. Heee…
Orang Melayu tak suka memberontak sembarangan. Tapi dia punya cara. Dia sindir dalam pantun, dia tegur dalam seloka, dia ketawa dalam diam. Tapi jangan salah, dalam ketawa itu kadang ada luka.
Petuah lama tetap berlaku sampai hari ini: raja adil raja disembah, raja zalim raja disanggah. “Disanggah” itu bukan berarti terus angkat parang, Wak. Bisa juga dengan kritik, dengan suara, dengan pilihan. Sebab dalam dunia sekarang, “istana” itu bukan lagi di bukit, tapi di kursi-kursi kekuasaan yang dipilih rakyat.
Jadi kalau ada pemimpin hari ini yang merasa sudah duduk tinggi lalu lupa melihat ke bawah, eloklah ingat kisah Sultan Mahmud II tadi sebagai cermin diri. Rakyat yang dulu mengarak, bisa juga yang nanti menyanggah.
Akhir kata, Wak, kalau nasi sudah dihidang, jangan sampai rakyat cuma dapat aroma. Kalau janji sudah dilantang, jangan sampai tinggal gema. Sebab rakyat ini sederhana saja, tak minta diangkat jadi raja, cukup jangan dibuat merasa jadi hamba di negeri sendiri. Kalau tak, puah sisih…!
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.







