Di kota di atas laut Panipahan, rumah-rumah nelayan berdiri di atas tiang kayu yang akrab dengan air payau. Tapi begitu bangunan itu berskala besar, seperti gereja tempat ratusan jemaat beribadah, warga tidak lagi bertumpu pada kayu — mereka beralih ke beton.
Penulis : Repi, Wati Masrul, Funnisa Syafrida Siahaan, Wan Aidil Fitriana, Zikri Arya Al Azima
Afiliasi : Universitas Lancang Kuning
Panipahan Laut, Rokan Hilir : Dari kejauhan, menara Gereja HKBP di Jalan Gereja, Panipahan Laut, tampak seperti mercusuar di tengah lautan rumah panggung. Bangunan putih bergaya khas gereja Batak ini berdiri kokoh di atas enam tiang pancang beton, menembus langsung dasar laut Selat Malaka jauh dari kesan rapuh yang biasa melekat pada bangunan di atas air.
Bangunan inilah yang menjadi objek studi tim peneliti Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Lancang Kuning, dalam upaya membongkar rahasia arsitektur “kota di atas laut” Panipahan permukiman pesisir di Kabupaten Rokan Hilir, Riau, yang dihuni sekitar 20.000 jiwa dari berbagai suku, mulai dari Melayu, Tionghoa, Batak, hingga Jawa, yang sebagian besar menggantungkan hidup sebagai nelayan.
Ketika Kayu Tak Lagi Cukup
Di sepanjang Jalur A — deretan permukiman yang berhadapan langsung dengan laut lepas — rumah-rumah warga umumnya masih mengandalkan tiang kayu lokal seperti Nibung dan Belian, yang dikenal tahan terhadap rendaman air payau. Namun ketika ukuran bangunan membesar, seperti pada gereja yang harus menampung ratusan jemaat sekaligus menopang menara lonceng setinggi belasan meter, kayu tak lagi jadi pilihan utama.
Hasil pengukuran tim peneliti menunjukkan Gereja HKBP kini bertumpu pada enam tiang pancang beton berpenampang 20 x 20 sentimeter. Pilihan ini bukan tanpa alasan: beton dinilai lebih mampu menahan beban bangunan berskala besar sekaligus lebih tahan korosi dibanding kayu, di tengah paparan udara asin laut terbuka yang jauh lebih agresif dibanding kawasan tepian sungai. Uniknya, menurut penuturan Pdt. Berry Situmeang (36), tokoh agama setempat yang menjadi narasumber penelitian, gereja ini sudah berdiri sekitar 77 tahun — bermula dari struktur kayu sederhana yang lambat laun diperkuat dengan fondasi beton seiring waktu.
Dua Meter di Atas Batas Aman
Fluktuasi pasang surut di Panipahan bukan perkara kecil. Air laut di kawasan ini bisa naik hingga 3-4 meter dari muka air rata-rata, sebuah ancaman nyata bagi bangunan mana pun yang berdiri di atasnya. Untuk mengantisipasinya, lantai Gereja HKBP dibangun setinggi 2 meter dari muka air — jauh melampaui standar ketinggian rumah panggung warga pada umumnya, mengingat fungsinya sebagai fasilitas publik yang menuntut jaminan keselamatan ekstra bagi jemaat yang beribadah di dalamnya.
Total tinggi bangunan dari lantai dasar hingga puncak menara mencapai sekitar 12,5 meter, dengan luas bangunan sekitar 10 x 21 meter. Di dalamnya, denah gereja disusun simetris: bagian depan diisi teras dan pintu masuk, dilanjutkan area ibadah utama, hingga mimbar khotbah yang sengaja ditinggikan di ujung ruangan. Lantai dua berfungsi sebagai balkon jemaat yang menghadap ke mimbar, sekaligus menjadi dasar struktur menara lonceng di puncaknya.
Berdempetan di Atas Titian Sepanjang 2 Kilometer
Di luar gereja, kepadatan permukiman Jalur A tergolong ekstrem. Pada segmen sepanjang 312,8 meter yang menjadi fokus observasi, tim peneliti mencatat sekitar 75 unit bangunan berdiri berdempetan, dengan jarak antarrumah umumnya kurang dari satu meter. Kepadatan ini muncul karena warga berebut lahan datar yang terbatas di sepanjang garis pantai, sekaligus ingin memastikan rumah mereka punya akses langsung ke jalur titian utama.

Sketsa denah lantai 1 (kiri) dan tampak depan (kanan) Gereja HKBP hasil pengukuran tim peneliti, memperlihatkan susunan ruang ibadah dan ketinggian bangunan dari panggung hingga menara. (Sumber: Observasi & pengukuran lapangan, 2026)
Titian sendiri menjadi urat nadi kawasan ini. Sepanjang 2.168 meter jaringan titian membentang di Jalur A sebagai satu-satunya akses menuju daratan, dengan lebar sekitar 180 sentimeter dan kondisi fisik yang masih tergolong baik. Berbeda dari kawasan tepian sungai yang punya dermaga komunal untuk aktivitas nelayan, di segmen Jalur A yang diobservasi tidak ditemukan dermaga atau tangga akses langsung ke laut — satu-satunya titik penghubung strategis menuju darat adalah persimpangan titian di dekat Jalan Gereja.
Arsitektur Tanpa Arsitek yang Terus Belajar
Bagi tim peneliti, temuan pada Gereja HKBP menegaskan satu hal: arsitektur vernakular Panipahan bukan sesuatu yang beku. Warga terus menyesuaikan pilihan material dan struktur bangunan mereka mengikuti skala dan fungsi yang dilayani — kayu untuk rumah tinggal yang lebih ringan, beton untuk bangunan publik berskala besar yang menuntut kekuatan dan daya tahan lebih tinggi terhadap korosi air laut.
Pola ini, menurut tim peneliti, menjadi bukti bahwa kearifan lokal masyarakat pesisir Panipahan sesungguhnya adaptif dan terus berkembang, bukan sekadar warisan turun-temurun yang statis. Ke depan, pelestarian kearifan arsitektur semacam ini perlu diimbangi dengan pembenahan infrastruktur dasar seperti sanitasi, yang hingga kini dinilai belum memadai, demi menjamin keberlanjutan Panipahan sebagai permukiman tepian air yang tetap resilien menghadapi dinamika laut yang tak pernah diam.











