Hasrul Sani Siregar, MA
Alumni Hubungan Antarabangsa, IKMAS, UKM, Bangi Selangor Malaysia/Widyaiswara di BPSDM Provinsi Riau
Aliansi kerjasama antara tiga negara yaitu Pakistan, Iran dan China menjadi kekuatan Iran dalam menghadapi blokade yang dilakukan oleh Amerika Serikat dalam konflik yang masih berlangsung walaupun masih dalam gencatan senjata. Kerjasama antara tiga negara tersebut akan memberikan kekuatan bagi Iran untuk tetap bertahan dalam menghadapi embargo oleh negara-negara Barat dan sekutunya. Secara geografis, Iran termasuk dalam kawasan Timur Tengah (Asia Barat), namun, secara geo-politik dan historis, Iran sering disebut berada di kawasan Eurasia yaitu pertemuan antara benua Eropa dan Asia karena posisinya yang strategis sebagai penghubung antara Timur dan Barat.
Sebagai negara yang juga berbatasan dengan Pakistan, Iran juga melakukan kerjasama dalam memperkuat posisinya dalam menghadapi konflik di Timur Tengah yang diperkirakan akan berlangsung lama dan membutuhkan kekuatan politik dan ekonomi. Pakistan mengambil langkah berani dengan membuka enam rute transit darat baru yang menghubungkan pelabuhan Karachi secara langsung hingga ke perbatasan Iran. Langkah tersebut tentunya akan berhasil mengurai kemacetan logistik dan infrastruktur yang sempat menahan lebih kurang 3.000 kontainer barang akibat blokade laut khususnya di Selat Hormuz. Dengan bergeraknya ribuan truk dan container setiap harinya, Pakistan memastikan bahwa Iran tetap terhubung dengan pasar global melalui koridor darat yang aman dan lancar.
Fenomena tersebut, menunjukkan adanya pergeseran geo-politik dan geo-strategis dalam kerjasama tiga negara yang akan menciptakan sistem ekonomi paralel yang kebal terhadap sanksi sepihak dari Amerika Serikat dan sekutunya. Demikian pula halnya dengan China, Iran melakukan kerjasama dengan melihat kekuatan ekonomi China melalui optimalisasi jalur kereta api cepat Xi’an–Teheran yang frekuensinya meningkat hingga tiga kali lipat dalam satu bulan terakhir. Jalur darat tersebut, menjadi urat nadi utama bagi masuknya suku cadang industry, persenjataan dan barang elektronik lainnya. Efisiensi waktu tempuh lewat darat yang jauh lebih singkat dibandingkan dengan jalur laut, memberikan keuntungan strategis bagi Teheran untuk menjaga ketersediaan barang di pasar domestik tanpa harus melewati Selat Hormuz yang diblokade oleh angkaan laut Amerika Serikat.
Selain Pakistan dan China, Iran juga melakukan kerjasama militer dengan Rusia sebagai mitra strategisnya. Iran dan Rusia memiliki sejarah panjang dalam bekerja sama melawan negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat. Tentu Iran yang selama ini dikatakan sebagai Pro Palestina dan Lebanon tentu menjadi harapan untuk menghadapi Israel yang selama ini didukung dan dilindungi oleh Amerika Serikat sebagai sekutunya di Timur Tengah. Namun di sebalik dukungan Amerika Serikat ke Israel, Iran sebagai kekuatan militer di kawasan Timur Tengah juga telah menjalin kerjasama militer dengan Rusia dan China sebagai mitra strategisnya untuk menghadapi Israel yang didukung oleh Amerika Serikat.
Sejarah mencatat hubungan dan kerjasama militer antara Rusia dan Iran telah terjalin sejak Uni Sovyet masih berdiri. Seiring dengan runtuhnya Uni Sovyet, praktis kekuatan militer digantikan oleh Rusia sebagai penerus dari Uni Sovyet dan menjadi kekuatan penyeimbang terhadap kekuatan militer Amerika Serikat. Iran dikenal sebagai sekutu terdekat Rusia dan China di kawasan Timur Tengah. Tahun 2015, Rusia dan Iran telah menandatangani perjanjian kerja sama militer yang tentu saja akan memperkuat pertahanan dan keamanan yang utama menghadapi kekuatan Israel yang juga memiliki senjata nukler. Dengan perjanjian aliansi militer antara Rusia dan Iran tentu saja ini sebagai upaya Rusia untuk memiliki pengaruh di kawasan Timur Tengah. Rusia menjadi kekuatan internasional dalam menghadapi dominasi Amerika Serikat dan sekutunya khususnya Israel di kawasan Timur Tengah.







