Menu

Otomatis
Breaking News

Pekanbaru

LAMR Terima Kunjungan Kepala ANRI, Bahas Pusat Khazanah Arsip Melayu Nusantara di Riau

badge-check

LAMR terima kunjungan Kepala ANRI, Mego Pinandito, bersama jajaran ANRI dan sejumlah budayawan di Balai Adat LAMR. (Foto: ist) Perbesar

LAMR terima kunjungan Kepala ANRI, Mego Pinandito, bersama jajaran ANRI dan sejumlah budayawan di Balai Adat LAMR. (Foto: ist)

RiauKepri.com, PEKANBARU – Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) menerima kunjungan Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Mego Pinandito, bersama jajaran ANRI dan sejumlah budayawan di Balai Adat LAMR, Selasa malam (2/6/2026).

Rombongan disambut Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAMR Datuk Seri H. Raja Marjohan Yusuf dan Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil didampingi para pengurus LAMR.

Mengawali pertemuan, Kepala ANRI Mego Pinandito menyampaikan bahwa Riau menjadi daerah pertama yang dipilih sebagai lokasi pembangunan Pusat Khazanah Arsip Nusantara dengan fokus awal pada adat dan peradaban Melayu.

“Dari sekian banyak daerah dengan kekayaan budaya di Indonesia, Riau menjadi yang pertama dipilih sebagai lokasi pembangunan Pusat Khazanah Arsip Nusantara dengan adat dan peradaban Melayu sebagai fokus awalnya,” ujar Mego.

Dalam pemaparannya, ANRI menjelaskan bahwa penyusunan storyline Pusat Khazanah Arsip Melayu Nusantara (PKAN) dilakukan bersama para dewan pakar. Salah satu masukan penting disampaikan Dr. Mukhlis Paeni adalah perlunya pembatasan periodesasi sejarah yang ditampilkan, dimulai dari kisah Bukit Siguntang di Palembang hingga bergabungnya Kesultanan Siak ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 1945 di bawah Sultan Syarif Kasim II.

Berdasarkan masukan tersebut, ANRI menyusun rancangan storyline dalam enam hall. Hall A bertajuk Bukit Siguntang menampilkan legitimasi awal raja-raja Melayu melalui kisah Sang Sapurba dan sumpah setia dengan Demang Lebar Daun. Hall B, Emporium Malaka, menggambarkan kejayaan Malaka sebagai pusat perdagangan dunia dan diaspora politik Melayu pasca penaklukan tahun 1511.

Selanjutnya, Koridor Aksara Jawi menampilkan peran Islam, bahasa Melayu, dan huruf Jawi sebagai perekat identitas serta fondasi tradisi intelektual Melayu. Hall C, Daulat yang Terbelah, menggambarkan dinamika politik Melayu hingga Traktat London 1824 yang membelah dunia Melayu.

Hall D bertajuk Fajar Budi menampilkan perlawanan intelektual melalui tradisi literasi, Rusydiah Klub, dan kontribusi Raja Ali Haji terhadap pembentukan bahasa Melayu modern. Hall E, Gelombang Revolusi dan Muara Republik, menggambarkan pergolakan revolusi serta integrasi kesultanan Melayu ke dalam Republik Indonesia. Sementara Hall F, Khazanah Hidup, menjadi ruang reflektif yang merayakan kekayaan tradisi, seni, dan manuskrip Melayu sebagai warisan peradaban yang terus hidup hingga kini.

Selain itu, para dewan pakar juga mengingatkan agar PKAN tidak hadir sebagai museum konvensional yang hanya menampilkan artefak dalam etalase. Arsip yang dipamerkan harus dikemas dengan teknologi modern dan pendekatan imersif sehingga mampu menjadi daya tarik bagi generasi muda sekaligus memperkuat fungsi edukasi.

Ketua Umum DPH LAMR Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil mengatakan pembangunan PKAN memiliki arti strategis karena bukan hanya menghadirkan bangunan fisik, tetapi juga merawat memori kolektif peradaban Melayu.

“Pusat Khazanah Arsip Melayu Nusantara harus menjadi ruang yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Melalui arsip, manuskrip, dan narasi sejarah yang ditampilkan secara modern, masyarakat dapat memahami bahwa peradaban Melayu merupakan salah satu fondasi penting dalam pembentukan Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum MKA LAMR Datuk Seri H. Raja Marjohan Yusuf menilai penunjukan Riau sebagai lokasi pembangunan PKAN merupakan penghormatan terhadap peran besar Melayu dalam sejarah Nusantara.

“Kami menyambut baik kepercayaan yang diberikan kepada Riau. Kehadiran PKAN akan memperkuat posisi Riau sebagai pusat kajian dan peradaban Melayu serta menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang. Ini bukan hanya kebanggaan masyarakat Melayu, tetapi juga aset kebudayaan bangsa Indonesia,” kata Raja Marjohan Yusuf.

Keberadaan PKAN di Riau juga diyakini akan menjadi ikon wisata budaya baru sekaligus pusat studi Melayu. Dengan dukungan berbagai institusi pendidikan dan kebudayaan yang telah ada, termasuk Perpustakaan Soeman HS, PKAN diharapkan menjadi magnet bagi peneliti, akademisi, pelajar, dan masyarakat yang ingin memahami khazanah Melayu Nusantara secara lebih mendalam. (RK5/*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

PSMTI Serahkan Al-Qur’an Berornamen Tionghoa ke LAMR

18 Sep 2026 - 09:25 WIB

PSMTI Serahkan Al-Qur’an Berornamen Tionghoa ke LAMR

Corporate Communication PHR Silaturahmi dengan JMSI Riau, Dheni Kurnia: Semua Wartawan Harus Miliki Kompetensi

17 Sep 2026 - 16:20 WIB

Corporate Communication PHR Silaturahmi dengan JMSI Riau, Dheni Kurnia: Semua Wartawan Harus Miliki Kompetensi

Bahaya! Udara Pekanbaru Sangat Tidak Sehat

17 Sep 2026 - 11:49 WIB

Bahaya! Udara Pekanbaru Sangat Tidak Sehat

Gajah Diego Mati di PLG Minas, Diduga Akibat Gangguan Pencernaan

17 Sep 2026 - 11:44 WIB

Gajah Diego Mati di PLG Minas, Diduga Akibat Gangguan Pencernaan

BRK Syariah Raih Runner Up Aulia Padel Tournament 2026

16 Sep 2026 - 08:56 WIB

BRK Syariah Raih Runner Up Aulia Padel Tournament 2026
Trending di Pekanbaru