Yang mulia, tampak sanggamnya
Yang hina, tampak hodohnya
Tak kira dikemas, tak kira didandan
Tak kira digaung, tak kira dipekikkan
Dalam pengamatan hamba yang fakir, belakangan ini kegaduhan sudah semacam tabiat yang dinormaliasikan menjadi suatu yang mendatangkan gairah hidup. Kalau tak begaduh, tak tenang hidup, kalau tak begaduh tak dipandang, kalau tak begaduh, tak nampak eksistensi dan sederet kebutuhan lainnya untuk melabelkan kebenaran harus membuat kegaduhan. Tabiat ini kemudian menjadi subur dan mendapat tempat yang sempurna di alam maya atau dunia digital hari ini.
Di Riau misalnya, baru-baru ini diresahkan dengan sebuah konten sosial media yang menghina, merendahkan kondisi bersastra dan sastrawan Riau dengan bahasa-bahasa yang sangat tidak argumentatif, tidak edukatif, bahkan cendrung menggunakan narasi-narasi murahan padahal yang menjadi narasumber di konten itu, katanya mengaku seorang sastrawan dan alumni fakultas sejarah. (saya sengaja tidak membubuhkan nama orangnya disini, untuk menghindari azas manfaat yang barangkali saja memang dirancang oleh sang pembuat konten. Karena semakin kita sebut, kita percakapkan namanya, semakin popularlah dia).
Lalu, kontan saja, begitu konten itu tersebar di publik, langsung mendapat reaksi beragam dari seniman di Riau. Digital moral panic, pun terjadi. Link video itu pun disebarkan ke berbagai grup WhatsApp. Seketika warganet (sastrawan Riau), marah, merasa terhina, tercampakkan marwah, dan lain-lain. Ada yang memanas-manas alias batu api, ada yang segera bertindak melaporkan ke instisusi dan lembaga terkait. Gaduh segaduh-gaduhnya. Kalau diikutkan, bisa-bisa akan terjadi penghakiman massal digital (cancel culture).
Ada juga yang sekedar mengingatkan untuk tidak terpancing dengan narasi murahan tersebut. Ada yang tenang merespon, tetapi di dalam hati barangkali saja bergejolak, Itu semua, saya kira wajar. Karena isi dari percakapan murahan di dalam konten itu sudah masuk dalam kategori flaming. Sebuah istilah dalam ilmu komunikasi siber yang menunjukkan adanya tindakan kesengajaan mengirim pesan-pesan yang menghina, kasar, menyerang atau memancing kemarahan di ruang digital.
Izinkan saya membubuhkan penggalan yang dimaksud di atas:
“Sastra di Riau adalah sastra penuh basa-basi, sopan santun, dan setiap baca puisi harus baca bismillah, sadakallahul aziim, dsb., masih bertahan dan kayaknya sampai akhir zaman”
“Baca puisi tidak cukup hanya pakai tanjak, pakai baju kurung lengkap, dan yang perlu diingat sebelum baca puisi pakai pantun terlebih dahulu dengan beragam pantun sebagai adat, biarlah seperti itu sampai mereka mati saja, sulit karena lawannya selalu tuhan”
Narasi yang paling meremehkan itu ketika ditanya oleh moderatornya, apa upaya yang harus dilakukan untuk kondisi yang terjadi, dijawab oleh si fulan yang gemar membuat kegaduhan itu sebagai berikut “Kalau tempat sampah ya tempat sampah saja, jangan ingin jadi mushala”
Nah, inilah beberapa penggal isi dari konten yang saya kira membuat kegaduhan tersebut. Kalau ditilik, betapa celuparnya (meminjam istilah Musa Ismail), mulut dari si pembuat gaduh. Tetapi pada pembacaan hamba yang fakir ini, apa yang keluar dari mulutnya, justru bertolak belakang dengan latar belakang beliau yang katanya mengaku seorang sastrawan dan sarjana sejarah.
Setahu saya, belajar atau mendalami sastra seharusnya menjadikan kita lebih bijak dan arif. Memupuk intelektual dan kesadaran kultural yang baik. Saya ingat kata guru saya, belajar seni (sastra) itu dalam rangka memperhalus akal dan budi. Bukan menepuk-nepuk dada (meminjam istilah budayawan Syaiful Anwar) dengan merendah-rendahkan orang lain. Bahkan kata guru saya lagi, seni itu adalah kehidupan, kehidupan adalah seni. Dari pernyataan ini, bukankah seharusnya seorang yang mendalami sastra (seni) hendaknya lebih memiliki kebijaksanaan dan budi pekerti yang luhur. Dengan kata lain, seni yang sejati, pada akhirnya, adalah seni menjalani hidup dengan bijak.
Atau kalau kita kaitkan dengan latar belakangnya sebagai sarjana sejarah, setidaknya narasi yang ia bangun itu adalah argumentatif dengan data dan bukti serta pendekatan yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan dengan narasi-narasi murahan seperti yang telah diucapkannya. Sampai di sini, saya menduga, konten ini sengaja dibuat dalam rangka untuk mencari perhatian agar bisa mendobrak elektabilitasnya sebagai sastrawan. Polarisasi seperti ini kalau memanglah betul digunakannya untuk tujuan di atas, tentu sangat memalukan. Karena dalam proses kreatifitas, yang penting itu adalah berkarya bukan memanfaatkan asal “budaya viral”.
Kita cukupkan pembahasan tentang keceluparan si fulan ini. Saya kira, siapapun warganet, sudah pasti bisa menilai, narasi-narasi murahan yang sudah disampaikannya itu, sangat tidak berkesuaian dengan latar belakangnya sendiri. Tanpa sadar, ia pun terjebak dalam perangkap yang ia buat sendiri. Untuk manusia seperti ini, saya kira, semua orang sepakat, untuk tidak memasukkannya ke dalam daftar kaum cendikia atau intelektual, dimana pun ia bermastautin, selama ia tidak memperbaiki proses kreatifnya.
Bagi saya, yang menarik ditelisik itu adalah jenis manusia yang seperti ini, membuat gaduh sudah seperti menjadi “amal ibadahnya” setiap hari. Terutama dalam memanfaatkan dunia digital. Pertanyaan lugunya, “kok, ada orang berfi’il seperti itu ya?”. dilakukan dengan enteng, mudah dan tanpa merasa bersalah.
Ternyata dalam konsep psikologis yang kemudian dikaitkan dengan fenomena dunia digital, memang akan banyak sekali orang-orang yang mewarisi tabi’at serupa itu karena ada istilah online disinhibition effect atau efek disinhibisi daring yaitu orang akan sangat mudah dan gemar membuat kegaduhan di dunia digital karena merasa anonim (tidak dikenal) dan tidak bertatap muka langsung, sehingga rem penahan diri seseorang runtuh.
Selain itu juga, dipengaruhi faktor jarak psikologis yang diciptakan oleh layar kaca. Tatkala seseorang tidak melihat wajah, air mata, atau bahasa tubuh lawan bicaranya secara langsung, empati mereka mengalami kemunduran fungsi bahkan runtuh. Cobalah kita perhatikan, dulu orang lepas kendali terjadi secara tidak sengaja, kalau memang kondisinya sudah “naik pitam”. Sekarang, sebagian content creator atau netizen malah dengan sengaja memicu amarah publik demi views, validasi dan engagement. Diperparah dengan komunikasi yang tidak real-time, kita bisa saja di medsos membagikan komentar jahat, mencaci, menghina, lalu ditinggal tidur setelahnya atau log out. Tidak perlu takut menghadapi reaksi korban secara langsung saat itu juga, jeda waktu inilah yang membuat seseorang merasa aman dari konsekwensi perbuatannya.
Agak-agaknya itulah kenapa hari ini, dunia maya berubah menjadi laman gaduh di mana berkata kasar, merendahkan orang lain, dan memicu polarisasi dianggap sebagai bentuk upaya memperoleh perhatian, validasi, bahkan keberanian atau ekspresi diri, padahal itu hanyalah manifestasi dari hilangnya kontrol diri psikologis yang akut.
Kegaduhan yang terjadi seringkali terpicu dari narasi-narasi murahan yang tidak ada dasar dan bukti, tidak argumentatif, tak ada dialektikanya. Bahkan seringkali kita bergaduh disebabkan sesuatu yang tak tentu ujung dan pangkalnya. Terperangkap dalam situasi yang hari ini dipahamkan sebagai hyper realitas sosial media. Sana sini gaduh, depan belakang gaduh, tak budak, orang tua, semua bergaduh. Kita benar-benar tepesuk sedalam-dalamnya di kondisi zaman post-truth, sebuah kondisi di mana fakta objektif kelah telak oleh emosi dan keyakinan pribadi dalam membentuk opini publik, candu kita bersetubuh dengan narasi yang terasa memuaskan hati, jauh lebih penting daripada mencari tahu apa yang benar-benar terjadi. Seorang filsuf Islam, Ibn Sina pernah mengingatkan kita, bahwa ketika dunia informasi setengah matang dan emosi yang dipelihara, menjaga kejernihan berpikir adalah bentuk perlawanan yang paling sunyi dan mesti dilakukan.
Sebagai penutup, saya selalu meyakinkan diri saya, bahwa bukankah “kegaduhan yang artisitik” itu terkhusus bagi kreator adalah pengkaryaan?. Bukan kegaduhan yang justru memiskinkan akal dan budi kita. Saya jadi teringat apa yang pernah dinyatakan oleh TS Eliot, bahwa sebagian dari kerusakan/keburukan (kegaduhan) yang terjadi di dunia ini disebabkan oleh orang-orang yang ingin merasa penting. Wallahualam.
Demikian si fakir berfikir
Banyaklah dangkal dan tergelincir
Sebablah hamba jauhlah ada
Tuhan semesta, segala punya.
Jefri al Malay
Sastrawan dan dosen di Fakultas Ilmu Budaya, Prodi Sastra Melayu Universitas Lancang Kuning.







