RiauKepri.com, Siak – Setelah menjalani program Bina Desa selama tiga bulan di Sungai Mempura, Kabupaten Siak, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Melayu (PBM), Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Lancang Kuning (Unilak) menutup rangkaian pengabdian mereka melalui “Festival Budaya Melayu”. Kegiatan tersebut berlangsung di halaman Dinas Pariwisata Kabupaten Siak pada Ahad (28/6/2026).
Festival ini menjadi puncak sekaligus penutupan program Bina Desa yang selama ini berfokus pada pelestarian budaya, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan potensi lokal. Berbagai kegiatan digelar sejak pagi hingga malam hari, di antaranya lomba permainan tradisional Melayu, bazar kuliner dan UMKM Sungai Mempura, lomba masakan tradisional Melayu, lomba anyaman pandan, catur Melayu, serta pertunjukan seni yang melibatkan tokoh masyarakat, komunitas seni, warga, dan mahasiswa.
Ketua Pelaksana Festival sekaligus mahasiswa peserta Bina Desa, Muhammad Abdi Ramadhan, mengatakan Festival Budaya Melayu tidak hanya menjadi acara perpisahan, tetapi juga diharapkan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.
“Seluruh rangkaian kegiatan kami susun bersama masyarakat Sungai Mempura. Dukungan dari pemerintah, berbagai instansi, lembaga, dan masyarakat membuat festival ini dapat terlaksana dengan baik tanpa membebani biaya pribadi mahasiswa. Antusiasme masyarakat sejak awal kedatangan kami hingga kegiatan berakhir menjadi semangat terbesar bagi kami,” ujarnya.
Menurut Abdi, selama menjalankan program Bina Desa, mahasiswa memusatkan berbagai kegiatan pada penguatan budaya Melayu agar memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Alhamdulillah, kami diterima dengan sangat baik. Kehangatan masyarakat membuat kami merasa menjadi bagian dari keluarga di Sungai Mempura,” katanya.
Apresiasi juga disampaikan Kepala Rukun Warga Sungai Mempura, Irawan, S.AP., yang mewakili masyarakat pada acara penutupan. Ia menilai kehadiran mahasiswa PBM FIB Unilak telah memberikan kontribusi nyata dalam menghidupkan kembali berbagai tradisi dan kesenian yang mulai ditinggalkan.
“Bukan berlebih, masyarakat mengakui keberadaan mahasiswa Pendidikan Bahasa Melayu sangat luar biasa selama ini. Mereka turut membangkitkan batang terendam. Banyak kebudayaan dan kesenian yang selama ini hampir punah dikampung kami, namun hidup lagi berkat mahasiswa PBM FIB Unilak ini,” ungkap Irawan di depan seluruh masyarakat dan tamu undangan.
Ia menegaskan masyarakat berkomitmen melanjutkan berbagai program budaya, kesenian, dan pengembangan pariwisata yang telah dirintis bersama mahasiswa.
“Apa yang telah dimulai mahasiswa akan terus kami lanjutkan dan kembangkan bersama masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Melayu FIB Unilak, Deni Afriadi, S.Pd., M.Sn., menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Sungai Mempura dan Pemerintah Kabupaten Siak atas dukungan yang diberikan selama pelaksanaan program.
Menurut Deni, Bina Desa merupakan implementasi pembelajaran berbasis pengalaman yang memungkinkan mahasiswa belajar langsung dari masyarakat sebagai ruang hidup kebudayaan.
“Mahasiswa kebudayaan tidak cukup hanya belajar di ruang kelas. Kampung merupakan laboratorium budaya yang menyimpan nilai, tradisi, dan pengetahuan yang harus dipelajari secara langsung. Melalui Bina Desa, mahasiswa memperoleh pengalaman nyata sekaligus mengimplementasikan ilmu yang mereka miliki,” ujarnya.
Ia menjelaskan, program Bina Desa merupakan bagian dari implementasi kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Mahasiswa semester VI mengonversikan pembelajaran lapangan sebanyak 21 SKS melalui berbagai aktivitas pengabdian kepada masyarakat.
“Kami berharap seluruh kegiatan yang telah dilaksanakan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa,” katanya.
Acara penutupan turut dihadiri Wakil Dekan I FIB Unilak Iik Idayanti, M.Hum., Wakil Dekan II Jefrizal, S.S., M.Hum., dosen PBM Siswanto, M.Pd., Rian Azmul Fauzi, M.Pd., dan Rian Hidayat, M.Pd. Hadir pula perwakilan pemerintah kecamatan, kelurahan, dinas terkait, anggota DPRD Kabupaten Siak, serta para seniman dan budayawan Kabupaten Siak. (RK2)








