Oleh Abdullah
Orang Muslim meyakini bahwa segala perkataan dan tindakan Nabi Muhammad SAW merupakan jalan untuk mendekat kepada Allah. Tak ada perkataan dan tindakan Rasulullah yang tidak bermanfaat bagi kehidupan manusia. Hidup Rasulullah berfokus kepada keridhoaan Allah dan itu menjadi kunci keselamatan hidup dunia dan akhirat.
Pada konteks hidup kita hari ini, banyak manusia menjalani hidup dalam keadaan terpecah. Ketika beribadah, ia mengingat Tuhan. Ketika bekerja, ia mengingat keuntungan. Ketika bergaul, ia mengingat kepentingan. Ketika berkuasa, ia mengingat dirinya sendiri. Hidup menjadi kumpulan ruang-ruang yang saling terpisah. Agama berada di satu tempat, sementara kehidupan sehari-hari berada di tempat yang lain.
Ketika membaca kehidupan Nabi Muhammad SAW, kita menemukan sesuatu yang berbeda. Kehidupan beliau tampak seperti satu kesatuan yang utuh. Tidak ada bagian hidup yang terlepas dari Allah. Ketika beliau beribadah, beliau mengingat Allah. Ketika beliau berdagang, beliau mengingat Allah. Ketika beliau memimpin masyarakat, beliau mengingat Allah. Ketika beliau berkeluarga, beliau mengingat Allah. Bahkan ketika beliau tersenyum kepada orang lain, ada nilai ibadah di dalamnya.
Dalam pandangan filsafat, manusia sering dipahami sebagai makhluk yang mencari makna. Di balik segala aktivitasnya, manusia sesungguhnya sedang mencari sesuatu yang dianggap paling berharga. Ada yang mencarinya dalam kekayaan, ada yang mencarinya dalam kekuasaan, ada yang mencarinya dalam ilmu pengetahuan, dan ada pula yang mencarinya dalam ketenaran. Namun semua pencarian itu sering berakhir pada kegelisahan. Ketika harta diperoleh, manusia ingin lebih banyak lagi. Ketika jabatan diraih, ia takut kehilangannya. Ketika pujian datang, ia mulai bergantung kepadanya. Dunia memberikan kesenangan, tetapi tidak selalu memberikan ketenangan.
Di sinilah kehidupan Rasulullah menawarkan cara pandang yang berbeda. Beliau tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir. Dunia adalah sarana, bukan tujuan. Kekuasaan adalah amanah, bukan kemuliaan. Harta adalah titipan, bukan identitas. Kehidupan adalah perjalanan, bukan tempat menetap. Karena itu, seluruh tindakan beliau dapat dipahami sebagai usaha menjaga hubungan dengan Yang Maha Abadi di tengah dunia yang fana.
Mungkin inilah yang membedakan seorang nabi dengan kebanyakan manusia. Banyak manusia bergerak dari keinginan menuju keinginan yang lain. Hari ini mengejar satu hal, besok mengejar hal yang berbeda. Hidup berjalan tanpa pusat yang jelas. Sedangkan Rasulullah memiliki satu pusat yang tetap, yaitu Allah.
Ketika seseorang memiliki satu pusat dalam hidupnya, maka seluruh tindakannya memperoleh makna. Bekerja bukan lagi sekadar mencari nafkah, tetapi menjalankan amanah. Menuntut ilmu bukan lagi sekadar mencari gelar, tetapi mencari kebenaran. Menolong orang lain bukan lagi sekadar tindakan sosial, tetapi bentuk penghambaan kepada Tuhan. Dalam bahasa yang sederhana, Rasulullah mengajarkan bahwa tidak ada wilayah kehidupan yang jauh dari Allah. Segala sesuatu dapat menjadi jalan menujuNya apabila dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang benar.
Jadi, pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah setiap tindakan Rasulullah adalah jalan mendekat kepada Allah. Sebab bagi seorang Muslim, jawabannya telah jelas. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah tindakan-tindakan kita hari ini juga bergerak ke arah yang sama? Sebab manusia sering menghabiskan hidupnya untuk banyak hal, tetapi lupa ke mana semua itu bermuara. Manusia membangun karier, mengumpulkan harta, mencari penghormatan, dan mengejar berbagai pencapaian, tetapi jarang bertanya apakah semua itu mendekatkannya kepada Sang Pencipta.
Mari kite renungan bersama, kehidupan Rasulullah mengajarkan bahwa kedekatan kepada Allah bukan hanya ditemukan di masjid, di sajadah, atau di saat-saat berdoa. Kedekatan kepada Allah dapat ditemukan dalam seluruh perjalanan hidup manusia, selama hati tetap sadar kepadaNya. Hidup bukan lagi sekadar rangkaian aktivitas yang berakhir pada kelelahan. Hidup menjadi perjalanan makna. Setiap langkah memiliki tujuan. Setiap pekerjaan memiliki nilai. Setiap kebaikan memiliki arah. Dan ketika seluruh jalan hidup bermuara kepada Allah, barangkali di situlah manusia menemukan ketenangan yang selama ini dicari. Sebab hati yang mengetahui ke mana ia kembali tidak akan mudah tersesat oleh gemerlap dunia yang hanya sementara.
Abdullah bermastautin di Pekanbaru








