KALAU orang Melayu di kampung kami menyambut ulang tahun, Wak, biasanya bukan bertanya, “Kue di mana?.” Tapi bertanya, “Amal sudah berapa?” Sebab dalam tunjuk ajar orang tua-tua kami, umur bertambah bukan berarti hebat, melainkan jatah hidup makin singkat. Jangan pula pada milad: lilin padam dihembus,
dosa dinyalakan.
Besok, Ahad 9 Agustus 2026, Riau genap 69 tahun sebagai provinsi. Sudah tua sebetulnya ni, kalau manusia sudah layak jadi datuk yang duduk di balai, bukan lagi bujang yang sibuk bergaya di TikTok. Tapi entah mengapa, setiap kali Riau ulang tahun, rakyat banyak yang termenung, sementara yang tersenyum kadang justru orang yang sedang diperiksa.
Dulu orang Melayu takut kepada malu. Sekarang ada yang takut hanya kepada kamera. Malu ditinggal di parkiran kantor, masuk rapat bawa senyum sepanjang Sungai Siak.
Nenek moyang kita berpesan, “Biar rumah beratap rumbia, asal marwah tetap terjaga.” Kini marwah kadang dijual satu paket dengan proyek, lengkap dengan materai dan stempel.
Yang membuat rakyat makin pening bukan sekadar banyak pejabat dan kepala daerah tersangkut perkara, itu memang urusan hukum. Yang merisaukan ialah kepercayaan kepada penegakan hukum yang makin kurus macam ikan selais kurang makan. Akibatnya, muncul fitnah di mana-mana.
Kalau ada pejabat beli mobil baru, orang kampung berkata, “Itu hasil apa?”
Kalau renovasi rumah, “Pasti ada apa-apanya.”
Kalau diam saja, “Jangan-jangan sedang diperiksa.”
Sampai-sampai kucing melintas depan kantor pun dicurigai jadi saksi.
Fitnah berkembang karena kepercayaan mengecil. Padahal dalam adat Melayu, fitnah itu lebih tajam daripada mata keris. Keris kalau salah hunus, satu orang terluka. Fitnah kalau salah lepas, satu kampung bermusuhan.
Ironinya, Riau ini bukan negeri sembarangan. Sumbangannya kepada Indonesia bukan sedikit. Bahasa Melayu menjadi akar bahasa Indonesia. Dari tanah inilah lahir warisan budaya, sastra, adat, dan akhlak yang menjadi perekat bangsa. Orang Riau menyumbang bahasa, tetapi kadang terasa seperti tidak didengar bahasanya.
Pas milad Riau ini, moh kita bertanya pelan-pelan, supaya tidak dituduh provokasi: apa tidak ada lagi anak watan yang mampu memimpin dengan amanah?
Dulu ada Sultan Syarif Kasim II yang menyerahkan harta dan kedaulatan untuk kemerdekaan NKRI. Sultan dahulu menjaga marwah negeri. Sekarang ada yang sibuk menjaga citra pribadi.
Sultan dahulu meninggalkan teladan.
Sekarang ada yang meninggalkan berkas.
Orang tua Melayu selalu mengingatkan, “Pemimpin itu umpama kemudi. Kalau kemudi patah, perahu berputar-putar.”
Hari ini rakyat merasa perahu berputar. Yang memegang kemudi cakap menuju pembangunan, penumpang merasa menuju putaran berikutnya.
Kadang lucu juga. Setiap kali ditangkap, selalu muncul kalimat sakti: “Saya menghormati proses hukum.”
Kalimat itu sudah lebih sering terdengar daripada pantun pembuka acara.
Mungkin nanti perlu dibuat museum kalimat tersebut.
Milad ke-69 seharusnya menjadi cermin besar. Riau sudah memberi minyak, gas, sawit, bahasa, budaya, bahkan tokoh-tokoh bangsa. Jangan sampai yang diwariskan kepada anak cucu tinggal meme korupsi dan arsip konferensi pers.
Tunjuk ajar Melayu berkata, “Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah.” Maknanya, kuasa mesti bersandar kepada amanah, bukan kepada kesempatan. Jabatan itu tempat berkhidmat, bukan tempat menghitung komisi sambil tersenyum manis.
Kalau Riau ingin benar-benar dewasa di usia 69, yang perlu dipadamkan bukan hanya lilin ulang tahun, tetapi juga api tamak. Yang perlu dibesarkan bukan baliho, tetapi marwah.
Yang perlu dijaga bukan kursi, tetapi amanah. Sebab negeri ini tidak kekurangan orang pandai.
Yang mulai langka ialah orang yang ketika diberi kuasa masih ingat pesan emak: “Nak, jangan makan yang bukan hakmu. Nasi haram, kenyangnya sebentar, malunya turun-temurun.”
Selamat Milad ke-69, Riau. Semoga tahun depan yang bertambah bukan daftar tersangka, melainkan daftar pemimpin yang membuat rakyat kembali percaya. Kalau tidak, takutlah kita nanti.
Lancang kuning tetap berlayar, tetapi dayungnya dipegang fitnah, kemudinya dipegang syak wasangka, dan penumpangnya sibuk bertanya: “Ini perahu hendak ke mana, Datuk?”
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.










