Menu

Otomatis
Breaking News

Pekanbaru

Ketika Udara Riau Tak Lagi Gratis

badge-check

Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat ke lokasi bersama Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan dan ahli karhutla IPB Prof Bambang Hero Suharjo. (Foto: ist) Perbesar

Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat ke lokasi bersama Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan dan ahli karhutla IPB Prof Bambang Hero Suharjo. (Foto: ist)

RiauKepri.com, PEKANBARU — Subuh Ahad, 23 Agustus 2026, langit Riau seperti sedang malas membuka tirai. Kabut menggantung. Matahari belum benar-benar tampak. Udara yang biasanya menjadi hak gratis warga mendadak terasa seperti barang mewah.

Dayat, 54 tahun, punya kebiasaan sederhana, berjalan kaki pukul 06.00 WIB. Bukan untuk mengejar medali, apalagi konten olahraga. Sekadar menjaga tubuh tetap bergerak.

Pagi itu kebiasaan tersebut batal.
Pukul 08.00, ia baru memberanikan diri keluar. Jalan kaki tetap dilakukan, tapi separuh perjalanan dipangkas. Bukan karena lelah. Napasnya yang meminta pulang lebih cepat.
Asap membuat dada lelaki itu sesak.

Begitulah Riau menyambut Ahad.
Di hari ketika sebagian orang seharusnya bisa menghirup udara pagi sambil menyeruput kopi, 355 titik panas justru terdeteksi di provinsi ini. Data BMKG hingga pembaruan pukul 23.00 WIB, Sabtu (22/8/2026), mencatat Kabupaten Pelalawan menjadi penyumbang terbesar dengan 216 hotspot. Indragiri Hilir menyusul dengan 80 titik.
Kemudian Kuantan Singingi 12, Kampar 11, Siak 10, Kepulauan Meranti 7, Indragiri Hulu 6, Bengkalis 5, Rokan Hilir 3, Rokan Hulu 3, dan Dumai 2 titik.

Angka-angka itu terdengar dingin. Padahal setiap angka punya kemungkinan menjadi api. Dan setiap api punya kemungkinan menjadi asap. Lalu asap punya cara sendiri untuk masuk ke rumah, sekolah, kendaraan, paru-paru, bahkan ke rutinitas seorang lelaki yang hanya ingin berjalan kaki.

Di Sumatera, jumlahnya lebih mengkhawatirkan: 2.610 hotspot. Sumatera Selatan menyumbang 1.311 titik. Riau 355. Jambi 278. Seolah-olah pulau ini sedang berlomba menyalakan korek.

Di Jalan Keluarga, Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, api tidak perlu metafora. Ia nyata. Asap mengepul dari tanah gambut. Puluhan petugas berlari membawa selang, mendorong mesin pompa, memburu api yang sesekali membesar seperti tidak mau kalah. Masker mereka basah. Mata perih. Napas berat. Sudah 11 hari mereka melakukan pekerjaan yang sama.

Bagi sebagian orang, angka itu mungkin hanya kalender. Bagi petugas pemadam, sebelas hari berarti sebelas kali bangun pagi dengan pertanyaan yang sama, hari ini apinya padam atau kembali menyala?

Lahan yang terbakar sudah bertambah dari 8,8 hektare menjadi sekitar 10 hektare.
Api memang tampak kecil jika dibandingkan luas satu kabupaten. Tetapi rumah warga yang berjarak sekitar 10 meter dari titik kebakaran tidak punya kemewahan untuk menganggapnya kecil.

Di gambut, api juga punya kelakuan licik. Ia bisa mati di permukaan, lalu melanjutkan perjalanan di bawah tanah.
Tak terlihat, tak bersuara,
Tapi tetap bekerja. Karena itu pemadaman tidak cukup dengan menyiram api yang terlihat. Petugas harus membasahi gambut, mencari bara yang bersembunyi, lalu mendinginkannya.

Masalahnya sederhana sekaligus buat geram, airnya tidak ada. Parit dan kanal mengering. Embung hanya mampu menyuplai air sekitar 15 menit.
Harapan kemudian datang dalam bentuk mobil tangki milik PT Hutama Karya Infrastruktur yang kebetulan berada di sekitar proyek tol.

Tangki datang, petugas maju, air habis petugas mundur. Tangki kembali, petugas maju lagi.
Begitu seterusnya. Barangkali inilah bentuk paling sederhana dari perjuangan melawan karhutla, bukan perang dengan persenjataan canggih, melainkan menunggu air datang.

Sabtu sore, sekitar pukul 15.00 WIB, api kembali menunjukkan tabiatnya. Beberapa saat setelah Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat meninggalkan lokasi bersama Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan dan ahli karhutla IPB Prof Bambang Hero Suharjo, kobaran api tiba-tiba membesar.

Asap menjadi dinding. Jarak pandang sekitar tiga meter. Petugas berlari menerobos pekat. Selang ditarik. Air disemprotkan. Api dikejar. Lalu air tangki habis. Perang berhenti sebentar. Bukan karena api menyerah. Tetapi karena air meminta jeda.

Dua jam kemudian, setelah peluh, batuk, mata perih dan napas berat, kepala api berhasil dikendalikan. Tetapi pekerjaan belum selesai. Gambut masih mengeluarkan asap. Petugas kembali melakukan pendinginan.

Kepala Manggala Agni Daops Sumatera IV/Pekanbaru, Firza Causar, mengatakan kebakaran selama 11 hari baru sekitar empat hektare yang berhasil dipadamkan. Satu titik mengandalkan tangki HKI. Titik lain mengandalkan sisa air embung. “Kami sangat kesulitan. Tak ada air.”

Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun di tengah kebakaran lahan gambut, kalimat tersebut seperti lelucon yang tidak lucu, kita punya api, kita punya petugas, kita punya pompa, kita punya selang, tetapi tidak punya cukup air.

Helikopter water bombing sesekali membantu dari udara.
Menjelang maghrib, ekskavator PC 200 tiba untuk membuat embung dan penyekatan.
Teknologi akhirnya datang setelah air menjadi masalah.
Sementara petugas berjibaku di tanah, udara bergerak membawa kabar buruk.

Warga mulai batuk, mata perih.
napas sesak. Aktivitas luar ruangan dikurangi. Di lokasi, polisi bahkan sudah memasang plang penyegelan. Kasus kebakaran itu masuk penyelidikan Polres Kampar.
Ada sesuatu yang ironis di sini.
Ketika api belum jelas siapa yang menyalakan, asap sudah jelas siapa yang menghirup, warga.

Prof Bambang Hero Suharjo mengingatkan agar masyarakat tidak meremehkan asap karhutla.
Guru Besar IPB itu menyebut kebakaran gambut menghasilkan gas dan partikel berbahaya. Ia juga mengingatkan ancaman El Nino yang disebutnya sebagai “El Nino Godzilla”.

Istilah itu terdengar seperti nama monster film. Bedanya, monster ini tidak membutuhkan layar bioskop. Ia datang melalui udara panas, tanah kering, api yang menjalar dan asap yang masuk ke rumah.

Bambang menyebut kandungan asap gambut jauh lebih berbahaya dibanding asap pembakaran biasa. Karena itu masyarakat diminta menjauh dari paparan asap, terutama kelompok rentan seperti ibu hamil dan anak-anak. Pesannya sederhana: jangan anggap asap gambut sebagai asap biasa.
Sebab yang masuk ke paru-paru bukan sekadar bau gosong.
Namun ada satu bab lain yang membuat cerita asap ini semakin rumit.

Menteri LH Mohammad Jumhur Hidayat mengatakan asap yang menyelimuti sebagian Riau juga dipengaruhi kebakaran dari Jambi. Dari citra satelit, kata Jumhur, angin bergerak dari Jambi menuju Riau. Asap, dengan kata lain, tak mengenal batas administrasi. Ia tidak tahu mana Riau, mana Jambi. Ia tidak punya KTP. Ia tidak perlu surat jalan. Kalau angin membawanya ke Riau, ya sudah, Riau yang menghirup.

Pemerintah menyebut kualitas udara Riau masih baik. Namun di Rimbo Panjang, warga sudah batuk, sesak dan mengeluhkan mata perih. Barangkali di sinilah angka dan pengalaman warga mulai berdebat.

Di layar pemantauan, udara bisa saja masih disebut baik. Di dada Dayat, napas terasa pendek.
BMKG memprakirakan cuaca Riau pada Ahad cerah berawan hingga berawan. Suhu 23–34 derajat Celsius. Kelembapan 50–95 persen. Angin 10–30 kilometer per jam.

Tidak ada peringatan dini cuaca.
Gelombang laut juga rendah, 0,5–1,25 meter. Cuaca boleh tenang. Laut boleh teduh tetapi di daratan, gambut masih menyimpan bara. Dan 355 titik panas sudah menjadi angka yang terlalu besar untuk sekadar disebut statistik.

Sebab pada akhirnya, karhutla bukan hanya cerita tentang api.
Ia tentang petugas yang makan siang terlambat. Tentang tangki air yang ditunggu. Tentang embung yang mengering. Tentang rumah yang berjarak 10 meter dari api. Tentang anak-anak yang mungkin harus diliburkan jika kualitas udara melewati ambang batas. Dan tentang Dayat, 54 tahun, yang pagi itu terpaksa memotong setengah jam olahraga.

Ia pulang bukan karena olahraga sudah cukup. Ia pulang karena udara sudah tidak cukup aman untuk dihirup. Di Riau, bahkan berjalan kaki kini harus menunggu asap memberi izin. (RK1)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Hotspot Riau Capai 355 Titik, Pelalawan Tertinggi dengan 216 Titik

23 Agu 2026 - 10:41 WIB

Hotspot Riau Capai 355 Titik, Pelalawan Tertinggi dengan 216 Titik

23 Agu 2026 - 06:26 WIB

BRK Syariah Raih Dua Penghargaan Program KEJAR 2026 dari OJK Riau

22 Agu 2026 - 13:41 WIB

BRK Syariah Raih Dua Penghargaan Program KEJAR 2026 dari OJK Riau

BPVSI Pekanbaru Laksanakan Muskot, 43 Klub Siap Tentukan Masa Depan Bola Voli Kota Bertuah

22 Agu 2026 - 06:50 WIB

BPVSI Pekanbaru Laksanakan Muskot, 43 Klub Siap Tentukan Masa Depan Bola Voli Kota Bertuah

Pemprov dan LAMR Desak Kemenhut Setujui REDD Riau

21 Agu 2026 - 21:49 WIB

Pemprov dan LAMR Desak Kemenhut Setujui REDD Riau
Trending di Pekanbaru