RiauKepri.com, TANJUNGPINANG — Dua mantan wali kota, Hj. Rahma, S.IP., MM. dan Muhammad Rudi, kembali hadir di tengah masyarakat Tanjungpinang. Bukan dalam kapasitas sebagai kepala daerah, melainkan untuk membuka ruang silaturahmi dan mendengar langsung suara para ketua RT/RW serta mantan RT/RW se-Kota Tanjungpinang.
Sekitar 300 RT/RW dan mantan RT/RW hadir dalam pertemuan yang digelar di Gedung Veteran, Jalan Basuki Rahmat, Tanjungpinang, Ahad (13/9/2026).
Kehadiran Rahma dan Rudi menjadi perhatian tersendiri. Keduanya pernah memimpin pemerintahan di dua kota utama di Kepulauan Riau dan kini memilih tetap menjaga komunikasi dengan masyarakat, meski tidak lagi berada di kursi kekuasaan.

Rahma secara khusus menegaskan bahwa pertemuan tersebut tidak berkaitan dengan agenda politik tertentu. Ia menyebut kegiatan itu sebagai momentum untuk melepas kerinduan dengan para RT dan RW yang pernah menjadi bagian dari interaksinya selama memimpin Tanjungpinang.
“Pertemuan ini hanya untuk melepaskan rindu dengan RT/RW, semata-mata silaturahmi. Pesan saya, patuhi pemimpin yang ada,” ujar Rahma.
Pernyataan tersebut menjadi pesan penting dari seorang mantan kepala daerah kepada para pengurus lingkungan sekaligus menjadi penegasan bahwa pergantian kepemimpinan harus tetap diikuti dengan penghormatan terhadap pemimpin yang sedang menjalankan amanah.
Bagi Rahma, meski dirinya tidak lagi memimpin Tanjungpinang, hubungan dengan masyarakat tidak harus ikut berakhir. Silaturahmi tetap dapat dijaga tanpa harus mengganggu kewenangan maupun pemerintahan yang sedang berjalan.
“Pemimpin boleh berganti, tetapi komunikasi dengan masyarakat dan kepedulian terhadap persoalan di tingkat bawah tidak boleh ikut berhenti,” tegas Rahma.
Hal senada juga tercermin dari kehadiran Muhammad Rudi dalam pertemuan tersebut. Mantan Wali Kota Batam itu turut membuka ruang pertemuan dengan para RT/RW Tanjungpinang, sekaligus menunjukkan bahwa komunikasi dengan masyarakat tetap penting meski seseorang sudah tidak lagi menduduki jabatan kepala daerah.
Pertemuan dua mantan wali kota tersebut juga menjadi ruang bagi para RT/RW menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi setelah adanya perampingan wilayah dan pergantian kepengurusan.
Salah seorang RT dari Kecamatan Bukit Bestari mengatakan, sejak terpilih menjadi RT setelah proses perampingan, belum ada forum yang mempertemukan para RT/RW se-Kota Tanjungpinang.
“Setelah saya terpilih menjadi RT, belum ada pertemuan antar-RT/RW se-Kota Tanjungpinang. Baru Bu Rahma dan Pak Rudi yang melakukan pertemuan ini, sehingga kami bisa saling kenal,” katanya.
Di tengah forum, persoalan batas wilayah RT juga mencuat. Seorang RT dari Tanjung Unggat yang telah sekitar 20 tahun menjabat bahkan mengaku memilih mengundurkan diri karena persoalan wilayah yang dinilainya membingungkan.
Menurutnya, setelah sebelumnya terjadi pemekaran wilayah, sebagian warga di wilayahnya ditarik. Namun setelah perampingan RT, jumlah warga justru bertambah sementara batas wilayah semakin diperkecil.
“Dulu terjadi pemekaran, warga di wilayah saya ditarik. Sekarang terjadi perampingan, warga bertambah, tetapi batas wilayah malah diperkecil,” tuturnya.
Persoalan insentif RT juga menjadi pembahasan. Muncul informasi bahwa insentif RT telah dinaikkan menjadi Rp1 juta per bulan. Namun, salah seorang RT mengaku hingga kini masih menerima Rp600 ribu.
“Zaman Wali Kota Bu Rahma, gaji RT Rp600 ribu dan setiap tanggal 5 sudah masuk. Kalau saat ini gaji yang kabarnya Rp1 juta itu belum ada kami terima,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, turut disampaikan rencana Randi Zulmariadi, S.M., M.M., untuk melaksanakan kegiatan reses di Kota Tanjungpinang pada Oktober mendatang.
Para RT dan RW diharapkan menyiapkan berbagai aspirasi dan program yang menjadi kebutuhan masyarakat di wilayah masing-masing untuk disampaikan dalam reses tersebut. (RK/*)








