Menu

Otomatis
Breaking News

Minda

Raja Zalim

badge-check

Ilustrasi. Perbesar

Ilustrasi.

SYAHDAN, ada sebuah kerajaan yang rajanya sudah mulai nyanyuk, Wak, tetapi dia belum merasa nyanyuk. Kalau lupa, bukan lupa namanya, melainkan katanya sedang menguji kesetiaan rakyat. Kalau tersalah, bukan tersalah pula, melainkan rakyat yang belum pandai memahami titah.

Begitulah kalau seseorang duduk terlalu lama di singgasana, Wak, cermin pun kadang-kadang disalahkan karena tidak mau memuji. Di kiri kanan baginda berdiri pula para penyangak. Mereka ini orang pilihan, sebab lehernya lentur dan telinganya panjang.

Raja baru mengangguk sekali, wak, mereka sudah mengangguk tujuh kali. Raja batuk sekali, mereka bertanya, “Ampun Tuanku, apakah kami perlu membuat peraturan tentang batuk?” Begitulah kerja penyangak, bukan mencari benar salah, tetapi mencari ke mana angin bertiup.

Suatu hari, Wak, baginda berkata, “Aku tak pernah zalim!” Serentak penyangak menjawab, “Benar Tuanku!” Seorang aki tua yang kebetulan lewat hanya tersenyum. Dalam hati ia berkata, “Kalau raja sudah perlu bertanya apakah dirinya zalim, itu tanda-tanda rakyat harus mulai menyediakan payung.” Sebab orang Melayu punya petuah: kalau tak ada ribut, tak akan pulak daun kayu bergoyang.

Masalahnya, semakin banyak orang yang mengangguk, semakin susah pula baginda mendengar suara yang berkata tidak. Nasihat dianggap pembangkangan, kritik disebut kurang ajar, pertanyaan dianggap makar. Yang penting bagi penyangak cuma satu, bagaimana baginda tetap senang. Soal rakyat susah, itu perkara kemudian. Soal perut rakyat kosong, nanti saja. Yang penting perut di sekitar singgasana jangan sampai berbunyi.

Padahal adat Melayu tidak mengajar pemimpin menjadi manusia yang kebal nasihat. Justru semakin tinggi tempat duduknya, semakin banyak mata yang mesti dipandang dan semakin banyak telinga yang mesti dibuka. Raja alim raja disembah, raja zalim raja disanggah. Disanggah bukan karena rakyat kurang ajar, tetapi supaya raja tidak kebablasan sampai lupa bahwa singgasana pun punya kaki.

Lalu datanglah kisah seulas nangka. Seorang perempuan yang sedang mengandung hanya mengidam hendak mencicipi nangka. Cuma seulas. Bukan meminta mahkota, bukan meminta negeri sebelah, bukan pula meminta kas kerajaan. Tetapi perkara kecil itu, di tangan kuasa yang kehilangan timbang rasa, berubah menjadi tragedi besar.

Konon, kemurkaan baginda terhadap istri panglima itu sampai pada perbuatan yang tidak patut dikenang oleh manusia berakal sehat. Tubuh seorang perempuan hamil menjadi korban. Seulas nangka yang seharusnya mengundang senyum justru berubah menjadi lambang kezaliman. Maka orang pun berkata, “Kalau seulas nangka saja boleh membuat darah tumpah, jangan-jangan yang busuk bukan buahnya, tetapi hati yang memakannya.”

Di balik kemurkaan itu pula berhembus hasutan sang penyangak: Patih Karmawijaya. Ia menyimpan iri kepada panglima, ditambah rasa cinta yang tak sampai kepada istrinya. Cinta yang gagal, kalau tidak disimpan dalam dada dengan akal sehat, kadang berubah menjadi dendam. Dendam bertemu hasutan, hasutan bertemu kekuasaan, maka lahirlah keputusan yang membuat satu negeri menundukkan kepala.

Penyakit kerajaan rupanya bukan cuma raja yang nyanyuk, tetapi juga penyangak yang rajin menyuapi nyanyuknya. Kalau raja salah langkah, “Bagus Tuanku.” Kalau raja tersandung, “Itu strategi Tuanku.” Kalau raja jatuh, “Itu cara baru menyentuh bumi.” Lama-lama kalau raja tercebur ke sungai pun mereka mungkin berkata, “Ampun Tuanku, ini program kunjungan lapangan.”

Rakyat akhirnya pening. Mau mengadu kepada siapa? Mengadu kepada penyangak, nanti aduan itu sampai ke raja dalam bentuk yang sudah dibumbui. Mengadu kepada raja, nanti dianggap melawan. Diam pun salah, bersuara pun salah. Maka rakyat memilih jalan paling Melayu, berkias, berpantun dan bersyair. Sindiran dilempar seperti jala, tidak langsung menunjuk kepala, tetapi ikan yang merasa tertangkap biasanya tahu sendiri.

Kini zaman sudah berubah. Tidak perlu lagi berdiri di balai istana membawa keris. Cukup sebuah telepon genggam. Rakyat bisa membuat pantun, meme, video dan sindiran dalam satu malam. Besok paginya sudah beredar dari warung kopi sampai ke ujung kampung. Tetapi anehnya, sang raja tetap tidak merasa disindir.

Barangkali karena penyangak sudah lebih dahulu menerjemahkan sindiran itu. Rakyat berkata, “Raja ini perlu dinasihati.” Penyangak berkata, “Tuanku, rakyat sangat kagum.” Rakyat berkata, “Jangan zalim.” Penyangak berkata, “Mereka sedang memuji ketegasan.” Rakyat tertawa, penyangak ikut tertawa, raja pun tertawa. Yang tidak tertawa cuma rakyat yang membayar akibatnya.

Sampailah kemudian rakyat bertanya, “Di mana panglima?” Sebab kerajaan yang mulai kehilangan arah membutuhkan orang yang berani berdiri tegak. Bukan panglima yang gagah di panggung tetapi lututnya gemetar di depan singgasana. Bukan pula panglima yang berani melawan ketika aman, tetapi hilang ketika bahaya datang. Panglima yang dicari ialah orang yang sanggup berkata benar meskipun kebenaran itu tidak membuat kursinya nyaman.

Sebab dalam adat Melayu, keberanian bukanlah berteriak paling keras. Keberanian ialah berani menegakkan yang bengkok, meluruskan yang salah dan berkata “ampun Tuanku” sebelum menyampaikan perkara yang mungkin membuat baginda murka. Itulah bedanya orang yang setia dengan orang yang sekadar menjilat. Setia menjaga marwah raja, menjilat menjaga isi kantong sendiri.

Maka hikayat ini belum selesai. Raja boleh terus duduk di singgasana, penyangak boleh terus mengangguk sampai lehernya patah mengkarung, dan rakyat boleh terus berkias dari satu pantun ke pantun yang lain. Tetapi sejarah selalu punya cara sendiri menimbang sebuah kerajaan.

Raja yang adil akan dijunjung, raja yang zalim akan disanggah. Sebab mahkota boleh diwariskan, kekuasaan boleh dipertahankan, tetapi marwah tidak bisa dibeli di pasar. Dan kalau suatu hari para penyangak sudah habis alasan untuk membela, jangan salahkan rakyat kalau akhirnya berkata sambil tersenyum: “Ampun Tuanku, kami bukan durhaka, kami cuma sudah letih mengangguk.”

Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Sambut Hari Jadi Polwan ke-78, Polwan Polda Riau Gelar Program JALUR di Sungai Duku, Bagikan Sembako dan Buka Klinik Terapung

18 Sep 2026 - 15:59 WIB

Sambut Hari Jadi Polwan ke-78, Polwan Polda Riau Gelar Program JALUR di Sungai Duku, Bagikan Sembako dan Buka Klinik Terapung

Kado HUT ke-27, Syair Perang Siak Raih IKON Nasional

18 Sep 2026 - 15:50 WIB

Kado HUT ke-27, Syair Perang Siak Raih IKON Nasional

Ditpolairud Polda Riau Sapa Warga Pulau Terluar Rupat Utara Lewat Program JALUR, Salurkan Sembako dan Gelar Pustaka Terapung

18 Sep 2026 - 14:45 WIB

Ditpolairud Polda Riau Sapa Warga Pulau Terluar Rupat Utara Lewat Program JALUR, Salurkan Sembako dan Gelar Pustaka Terapung

PSMTI Serahkan Al-Qur’an Berornamen Tionghoa ke LAMR

18 Sep 2026 - 09:25 WIB

PSMTI Serahkan Al-Qur’an Berornamen Tionghoa ke LAMR

Corporate Communication PHR Silaturahmi dengan JMSI Riau, Dheni Kurnia: Semua Wartawan Harus Miliki Kompetensi

17 Sep 2026 - 16:20 WIB

Corporate Communication PHR Silaturahmi dengan JMSI Riau, Dheni Kurnia: Semua Wartawan Harus Miliki Kompetensi
Trending di Pekanbaru